Jangan Takut Daftar ITB!

“ITB mahal!”

“Dulu ITB murah ah!”

“Untung ya, saya masuk ITBnya dulu”

“Kalo gini ntar cuman anak-anak orang kaya aja yang bisa masuk ITB”

Begitu banyak komentar pesimis yang dilontarkan semua orang mulai dari calon mahasiswa, orang tua calon mahasiswa, hingga mahasiswa dan alumni ITB menanggapi kian mahalnya biaya untuk masuk ITB sekarang. Memang tidak terlalu berlebihan melihat, menurut situs USM ITB, biaya muka untuk kuliah di ITB lewat jalur SNMPTN Undangan pun sebesar 55 juta rupiah. Lebih besar dibandingkan USM ITB yang saya ikuti 5 tahun lalu.

Haruskah ITB mahal? Saya rasa harus. Mengutip sebuah komentar (yang juga merupakan kutipan) di profile Facebook saya,

“Pendidikan yg baik itu musti mahal harganya, yang jadi pertanyaan, siapa yg bayar?” Dwiwahju Sasongko, 2005, Dekan FTI.

Mungkin akan ada sangat banyak alasan mengapa biaya pendidikan harus mahal. Di antara semua itu, yang paling penting adalah untuk menjamin kualitas pendidikan mulai dari pembiayaan tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan tersebut. Dan yang selanjutnya adalah untuk memperlihatkan bahwa pendidikan bukanlah sebuah hal yang bisa diremehkan (“taken for granted“).

Akuilah, semakin mahal pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu, semakin kita menghargai hal tersebut dan semakin kita akan memanfaatkan hal tersebut sebaik-baiknya. Begitu pula pendidikan.

Dari apa saya amati, semua ketakutan yang diumbar para calon mahasiswa  tidak lain hanyalah alasan untuk menyembunyikan rasa tidak percaya diri terhadap kompetisi akademik demi meraih kursi ITB. Hanya karena merasa diri tidak mampu lantas semua hal tentang ITB dijelek-jelekkan. Tidak lah perlu dirisaukan masalah 55 juta untuk mendaftar ITB. Di situs USM sendiri disebutkan ada prosedur untuk meminta keringanan biaya untuk mendaftar. Selain itu ada banyak beasiswa yang akan menanti para mahasiswa yang membutuhkan. Yang penting fokus dalam meningkatkan kemampuan akademik untuk mengikuti ujian masuk. ITB selalu menghargai mereka yang berprestasi.

Selain itu melalui tulisan ini, saya mengajak para alumni ITB untuk terus mendorong adik-adik kelasnya agar mendaftar ITB tanpa perlu memusingkan perkara biaya masuk dan biaya kuliah untuk mendaftar ITB. Pendidikan yang telah kita dapatkan selama di ITB jauh lebih mahal. Jangan sampai banyak bibit-bibit unggul jadi enggan masuk ITB hanya karena pesimisme kita.

Untuk detil mengenai beasiswa yang ada di ITB, silakan baca artikel Jangan Takut Masuk ITB.

Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya

Setelah melalui banyak sekali kontroversi dari sekitar tahun 2002, mulai tahun ajaran ini USM ITB akan ditiadakan. Saya baru mengetahui berita ini sejak ada dengungan di twitter yang merujuk pada situs USM ITB. Di situs yang biasanya menampilkan berita mengenai prosedur pendaftaran USM ITB kini menampilkan pengumuman bahwa ITB hanya akan melaksanakan ujian masuk melalui SNMPTN.

Hal ini dilakukan sesuai dengan petunjuk Mendiknas no 34/2010. Dan kabar yang saya dapat dari Facebooknya Pak Rinaldi Munir menyatakan bahwa status BHP (Badan Hukum Pendidikan) ditiadakan dan ITB kembali menjadi sekadar PTN. Status BHP ini melindungi hak sebuah perguruan tinggi untuk mengadakan seleksi masuk tersendiri di luar ujian masuk terpusat (yang sejarahnya mulai dari SKALU, Sipenmaru, UMPTN, SPMB, dan sekarang menjadi SNMPTN). Sejak awal memang status BHP menuai banyak kritik terutama pada dua hal: sikap pemerintah yang seakan-akan melepas tanggung jawab dari usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan komersialisasi pendidikan yang berujung pada diskriminasi terhadap calon mahasiswa yang berhak untuk mengenyam pendidikan.

Continue reading Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya

Kala Mahasiswa ITB nyasar (lagi) di UI – part 2

Deta
Deta

Lanjutan dari postingan yang kemaren.

Sebelum gw membahas gedung-gedung apa saja di UI Depok, gw pengen membahas hal yang menarik di kemahasiswaan UI. Kebetulan saat itu gw dipandu oleh seorang tour guide yang merupakan temen sekelas adek gw di SMA dulu. Panggilannya Deta,  jurusan Teknik Industri angkatan 2007. Foto ada di sebelah. Yang mau kenalan bisa lewat gw 😛 (nah tuh, Det, biar enteng jodoh lo, gw pajang foto lo di sini)

Kebetulan yang bersangkutan pas itu lagi jaga stand di acara pendaftaran ulang calon mahasiswa UI. Acara daftar ulangnya kira-kira sama kayak di daftar ulang USM ITB yang diadakan pada hari yang sama (karena disengaja bertepatan dengan SPMB atau SMPTN sebutannya sekarang). Standar lah mahasiswa, seperti di ITB juga, kesempatan ini dimanfaatkan untuk jualan mengorek-ngorek uang orang tua calon mahasiswa untuk kebutuhan organisasinya hehe.

Meski sepertinya yang bersangkutan agak sedikit sibuk, gw culik aja daripada gw nyasar keliling UI. Hehehe.
Continue reading Kala Mahasiswa ITB nyasar (lagi) di UI – part 2

Kala Mahasiswa ITB Nyasar (lagi) di UI – part 1

Apartemen Margonda Residence

Ini post udah nangkring beberapa minggu, makanya gw keluarin. Jadi beberapa minggu lalu gw jalan-jalan ke UI untuk sebuah urusan. Mungkin ini kali ke 3 gw ke sana. Tapi sebelum-sebelumnya gw gak sempet jalan-jalan karena agak sibuk dan gak ada yang bisa nemenin. 😛

Pas seminggu di depok itu gw nginep di Apartemen Margonda Square. Gambar ada di sebelah. Tempatnya enak banget meski gak semewah apartemen-apartemen yang sering gw datengin di Jakarta tapi untuk apartemen di pinggiran Jakarta ini udah bagus. Faktanya menurut klaim sang pembangun, ini adalah apartemen pertama di kawasan Depok. Buat yang belum tau, ini dulu tempat tinggalnya Rian, pelaku mutilasi.

Gw ditaro di kamar yang single bed, ada AC, ada lemari, ada WC, ada dapur. Fotonya? Malu ah, berantakan kertas berserak-serakan 😛

Continue reading Kala Mahasiswa ITB Nyasar (lagi) di UI – part 1