Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya

Setelah melalui banyak sekali kontroversi dari sekitar tahun 2002, mulai tahun ajaran ini USM ITB akan ditiadakan. Saya baru mengetahui berita ini sejak ada dengungan di twitter yang merujuk pada situs USM ITB. Di situs yang biasanya menampilkan berita mengenai prosedur pendaftaran USM ITB kini menampilkan pengumuman bahwa ITB hanya akan melaksanakan ujian masuk melalui SNMPTN.

Hal ini dilakukan sesuai dengan petunjuk Mendiknas no 34/2010. Dan kabar yang saya dapat dari Facebooknya Pak Rinaldi Munir menyatakan bahwa status BHP (Badan Hukum Pendidikan) ditiadakan dan ITB kembali menjadi sekadar PTN. Status BHP ini melindungi hak sebuah perguruan tinggi untuk mengadakan seleksi masuk tersendiri di luar ujian masuk terpusat (yang sejarahnya mulai dari SKALU, Sipenmaru, UMPTN, SPMB, dan sekarang menjadi SNMPTN). Sejak awal memang status BHP menuai banyak kritik terutama pada dua hal: sikap pemerintah yang seakan-akan melepas tanggung jawab dari usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan komersialisasi pendidikan yang berujung pada diskriminasi terhadap calon mahasiswa yang berhak untuk mengenyam pendidikan.

Continue reading Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya

Anak SMP merokok

Dalam perjalanan saya tadi pagi ke kampus, saya berjalan di belakang tiga orang anak SMP. Satu siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Tidak ada satu pun hal yang saya permasalahkan dari mereka kecuali sebatang rokok menyala yang terjepit di tangan si siswa laki-laki.

Saya sama sekali tidak ada masalah pribadi dengan perokok. Pada kenyataannya, meski saya pribadi tidak merokok, saya punya banyak teman perokok. Tapi ada dua jenis perokok yang sangat saya benci: perokok di ruang tertutup dan perokok di bawah umur. Meski masalah utama saya dengan perokok jenis pertama adalah karena saya tidak tahan dengan asap rokok, perhatian saya terhadap para perokok di bawah umur adalah masalah pendidikan.

Pertanyaan pertama yang sering saya tanyakan kepada diri saya ketika melihat perokok di bawah umur adalah, “Dari mana sih itu anak dapet duit buat beli rokok?

Sumber utama uang seorang siswa SMP sudah pastilah dari orang tua dalam bentuk jajan. (Atau mungkin dari hasil pemerasan uang jajan terhadap teman-teman sekolahnya *mantan korban :P* atau dari hal lain) Saya yakin sebagian besar orang tua, sama seperti orang tua saya dulu, memberikan uang jajan kepada anaknya dengan harapan uang itu dijajankan dengan hal yang berguna atau ditabung. Umumnya karena orang tuanya tidak sempat membuatkan bekal makan siang untuk sang anak di sekolah, mereka memberikan uang jajan.

Kenapa masalah pendidikan? Menurut saya, uang jajan adalah salah satu bentuk pendidikan mengenai kepercayaan dan tanggung jawab yang telah diberikan oleh orang tua sejak dini. Orang tua tidak akan selalu bisa berada di dekat anaknya untuk mengawasi apa yang akan dibeli oleh anaknya dengan uang tersebut. Oleh karena itu, seorang anak harus mulai diberi pendidikan mengenai kedua hal tersebut dan hal yang paling sederhana adalah berupa uang jajan.

Kira-kira apa yang ada di pikiran orang tua kalau tahu uang yang diberikan tersebut dijajankan untuk membeli rokok? Kalau itu orang tua saya, jangankan untuk rokok, saya habiskan untuk pergi ke game center pun pasti pulangnya saya kena marah (meski hingga sekarang saya tidak pernah menyesal main game di masa kecil). Setiap kali saya melihat seorang anak di bawah umur merokok, saya selalu membayangkan betapa kerasnya orang tua saya bekerja tetapi uangnya kemudian saya habiskan untuk hal yang belum berguna seperti rokok.

Kalau dari SMP sudah tidak menghargai kepercayaan dari orang lain dan tanggung jawab sendiri, sudah besarnya mau jadi apa, dek?

Raja Lombok Mati Tergantung

Dulu ayah saya pernah bercerita mengenai Kisah Raja Lombok Mati Tergantung. Kisah ini sangat menarik bagi saya yang kala itu masih duduk di bangku SD. Sampai sekarang pun kisah ini sering saya renungkan karena dibalik cerita menggelitik itu terdapat makna yang menurut saya dalam.

Suatu saat datanglah karnaval ke sebuah desa. Karnaval ini, seperti seharusnya sebuah karnaval, mendirikan tenda-tenda yang berisi pertunjukan menarik bagi warga desa: mahkluk aneh, sirkus, atraksi menantang maut serta atraksi lainnya. Di sebuah pojokan kompleks karnaval didirikan sebuah tenda yang ramai oleh warga desa. Di depan tenda ini ada papan bertuliskan “Raja Lombok Mati Tergantung. Masuk dan Saksikan!” Memang dengan tulisan tersebut warga tidak ayal mengerubungi tenda tersebut mengantri untuk karcis masuk. Continue reading Raja Lombok Mati Tergantung

Mau saya doain? Agamanya apa?

Baca milis Informatika pagi ini bikin geleng-geleng kepala…… Ceritanya adanya anak 2007 yang sedang dirawat di rumah sakit dan rekan-rekannya minta didoakan untuk kesembuhannya. (Secara pribadi saya juga turut berduka cita, semoga cepat sembuh) Dan ada balasan dari seseorang yang sampai saat ini kelakuannya masih sering bikin geleng-geleng kepala dari mulai sejak saat dibahas di postingan yang dulu bangeeet

.

muslim atau non-muslim?

Seriously, gw gak permasalahin norma-norma di agama yang bersangkutan, cuman masalahin etiket nanyain hal-hal yang rada SARA di milis umum. Terus kalo muslim kenapa, kalo non-muslim kenapa gitu? Aneh-aneh aja sih nanyain gituan di milis umum….. *sigh* Continue reading Mau saya doain? Agamanya apa?

Dilema Di Atas Laju Cititrans

Gw adalah salah satu pengguna setia travel Jakarta-Bandung. Rumah gw ada di Jakarta dan kosan gw ada di Bandung. Sejak pertama kali gw di Bandung gw selalu menggunakan travel X-Trans karena dulu itu satu-satunya jasa travel yang punya pool di dekat rumah, di Kelapa Gading. Dan harganya juga lebih murah daripada Cipaganti yang punya kelebihan diantar sampai depan rumah (which itu bener-bener gak efisien karena gw jadi terpaksa menunggu orang-orang yang lain dianterin lebih dulu).

Continue reading Dilema Di Atas Laju Cititrans

Di Antara Dua Pilihan Cinta

Well, it’s not so me talking about love in this blog, actually. Mungkin gw emang sebenarnya sangat senang mempertanyakan mengenai hubungan antara dua orang individu atau lebih kalau menurut pernyataan seorang rekan.

Bermula dari gw yang entah kenapa tiba-tiba mempertanyakan sebuah pertanyaan di sebuah miniblog gw. (sepertinya gara-gara kebanyakan nonton JDorama sama Anime)

Ketika kita dihadapkan kepada dua buah pilihan

  1. Membuat seseorang yang ingin kita cintai balik mencintai kita
  2. Membuat diri balik mencintai seseorang yang ingin mencintai kita

Mana yang kita pilih? (under any circumstances)

Continue reading Di Antara Dua Pilihan Cinta

23.59

23.59

Adalah sebuah waktu yang sepertinya sangat penting di Labtek V (sampe sekarang gak rela manggil Benny-something). Dari jaman dulu (jaman gw TPB at least) yang namanya deadline tugas itu hampir selalu jam 23.59.

Semester lalu deadline banyak yang dijadikan jam 17.00 karena masalah keamanan dan larangan untuk berada di kampus pada malam hari. Tapi sekarang sepertinya sudah mulai kembali menjadi jam 23.59.

Kenapa sih harus jam 23.59?

Continue reading 23.59

Kenapa Web Standard?

Tugas besar Pemrograman Internet kali ini adalah untuk menyusun sebuah situs mirip jejaring sosial yang berisi profil-profil diri dari anggota kelompok yang terkait satu sama lain menggunakan hyperlink. Salah satu poin yang gw propose di spesifikasi tugas besar tersebut adalah Web Standard compliance.

Apa sih itu Web Standard? Web Standard adalah sebuah teknologi atau spesifikasi yang telah disusun untuk membuat atau menginterpretasikan konten berbasis web. Standar-standar ini didefinisikan terutama oleh World Wide Web Consortium. Setiap pengembang web seharusnya mengikuti standar yang telah ditetapkan tersebut. Dan untungnya Pak Riza, dosen yang bersangkutan, sangat setuju dengan adanya spesifikasi tersebut.

Kenapa sih harus ikut Web Standard?

Continue reading Kenapa Web Standard?

Kapan Manusia Bahagia? – p2

Melanjutkan catatan kecil gw di sini dan sini (yang udah diposting di sini)

Menurut sang dosen Sistem Operasi Lanjut, Pak Awang, ketika kita merasakan hidup makin menderita, maka kita makin mendekat pada penderitaan abadi. Sebaliknya, ketika kita merasakan hidup makin bahagia, maka kita makin mendekat pada kebahagiaan abadi.

Ibarat, ketika kita naik gunung, makin dekat ke puncak maka yang akan kita rasakan adalah dingin. Ketika kita mendekat kepada nyala api maka kita akan merasakan panas sebelum akhirnya terbakar saat sampai pada nyala api tersebut.

Continue reading Kapan Manusia Bahagia? – p2

Kapan Manusia Bahagia?

Pas kuliah Sistem Operasi Lanjut, sang dosen menanyakan “Kapan manusia bisa bahagia?”. Dan gw kena tunjuk.

Gw simply cuman jawab “Manusia bahagia jika manusia tidak butuh apa-apa”

Terlepas dari apa jawaban yang “benar” menurut sang dosen, I always regard the conditional “a man is happy if he needs nothing” sounds.

So far, I only find one way to happiness: to have everything. A man is happy if he has everything. The condition is still sounds as everything is the complement of nothing. A man is happy if he needs nothing which implies he has everything.

But, there are still 3 ways interpreting “to have everything” :

  1. A man could earn every atomic entity in this universe, which obviously is still impossible in every means possible.
  2. A man thinks he has everything, which implies a man who thinks he has everything is happy.
  3. A man has what he thinks is everything, which implies a man who has what he thinks is everything is happy.

The point lies in way 2 and 3 is in the word “think”. A man is just what he thinks he is.
In other words, A man is happy if he thinks he is happy in either way he thinks he has everything or he has what he thinks is everything.

Simply, if you thinks you are happy then you are happy.

Continue reading Kapan Manusia Bahagia?