Budaya Karo – Sejarah Marga-Marga (1)

DISCLAIMER:

Daftar sejarah Karo yang saya tulis di bawah ini lima tahun lalu, semuanya saya copy paste dari situs resmi Organisasi Pemuda (yang sering dikenal dengan nama Permata) Gereja Batak Karo Protestan. Kritik dan Saran untuk memperbaiki tulisan ini sangat saya harapkan. Jangan lupa menjabarkan sejarah yang menurut Anda benar.
Terima Kasih

Mejuah-juah kita kerina!

Sebenarnya rada males nulis, sih, tentang budaya Karo soalnya gw secara pribadi juga gak terlalu ngerti banyak (meski kepengen belajar juga). Tapi iseng-iseng aja ikutan si Igor yang sering nulis soal Budaya Batak, makanya gw ikut-ikutan aja nulis tentang Budaya Karo 😛 .
Batak sama Karo beda ya? Sebenarnya kurang tau juga beda atau enggak, tapi kalau liat konteks, biasanya yang dipanggil dengan Batak itu biasanya orang Batak Toba. Karo sendiri sebenarnya sering disebut dengan Batak Karo. Yah, tapi gak apa-apa lah, sebut Karo aja 😛 (keukeuh)

Ue lah, ini sedikit sejarah dan legenda tentang marga/beru yang ada dan terus melekat pada orang-orang Karo yang diteruskan turun-temurun dan disadur oleh banyak orang menjadi beberapa sumber yang mana akhirnya gw copy paste ke blog ini dan disajikan untuk anda baca sebagai iseng-iseng atau sekalian menambah wawasan tentang Budaya Karo. Sekalian sama-sama belajar, soalnya gw juga gak berapa ngerti :mrgreen:
Semuanya disadur dari sini

Selamat membaca

Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi, pemakaian merga didasarkan pada Merga Silima, yaitu ;

  1. Ginting
  2. Karo-Karo
  3. Peranginangin
  4. Sembiring
  5. Tarigan

Sementara Sub Merga, dipakai di belakang Merga, sehingga tidak terjadi kerancuan mengenai pemakaian Merga dan Sub Merga tersebut.

Adapun Merga dan Sub Merga serta sejarah, legenda, dan ceritanya adalah sebagai berikut

  1. Merga GintingMerga Ginting terdiri atas beberapa Sub Merga seperti :
    • Ginting PaseGinting Pase menurut legenda sama dengan Ginting Munthe. Merga Pase juga ada di Pak-Pak, Toba dan Simalungun. Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Cerita Lisan Karo mengatakan bahwa anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat di telaah cerita tentang Beru Ginting Pase. (Petra : Bisa dibaca di sini)
    • Ginting MuntheMenurut cerita lisan Karo, Merga Ginting Munthe berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Nuemann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune.
    • Ginting ManikGinting Manik menurut cerita masih saudara dengan Ginting Munthe. Merga ini berasal dari Tongging terus ke Aji Nembah, ke Munthe dan Kuta Bangun. Merga Manik juga terdapat di Pak-pak dan Toba.
    • Ginting Sinusinga
    • Ginting SeragihMenurut J.H. Neumann (Nuemann 1972 : 10), Ginting Seragih termasuk salah satu merga Ginting yang tua dan menyebar ke Simalungun menjadi Saragih, di Toba menjadi Seragi.
    • Ginting Sini SukaMenurut cerita lisan Karo berasal dari Kalasan (Pak-Pak), kemudian berpindah ke Samosir, terus ke Tinjo dan kemudian ke Guru Benua, disana dikisahkan lahir Siwah Sada Ginting (Petra : bacanya Sembilan Satu Ginting), yakni :
      • Ginting Babo
      • Ginting Sugihen
      • Ginting Guru Patih
      • Ginting Suka (ini juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Beras
      • Ginting Bukit (juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Garamat (di Toba menjadi Simarmata)
      • Ginting Ajar Tambun
      • Ginting Jadi Bata

      Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama Bembem br Ginting, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, kecamatan Munte.

    • Ginting JawakMenurut cerita Ginting Jawak berasal dari Simalungun. Merga ini hanya sedikit saja di daerah Karo.
    • Ginting TumanggerMarga ini juga ada di Pak Pak, yakni Tumanggor.
    • Ginting CapahCapah berarti tempat makan besar terbuat dari kayu, atau piring tradisional Karo. (Petra : Which is saya juga belum tahu yang mana, atau tahu tapi gak tau sebutannya :P)
  2. Merga Karo-KaroMerga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :
    • Karo-Karo PurbaMerga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular.
      Dari isteri umang lahirlah merga-merga :

      • PurbaMerga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.
      • KetarenDahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).
      • SinukabanMerga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban..

      Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :

      • Karo-Karo SekaliKaro-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.
      • Sinuraya/SinuhajiMerga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.
      • Jong/KemitMerga ini mendirikan kampung Mulawari.
      • Samura
      • Karo-Karo Bukit

      Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.

    • Karo-Karo SinulinggaMerga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
      Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :

      • KabanMerga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,
      • KacaribuMerga ini medirikan kampung Kacaribu.
      • SurbaktiMerga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.

      Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak.

    • Karo-Karo KabanMerga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.
    • Karo-Karo SitepuMerga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.
    • Karo-Karo BarusMerga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.

      (Petra : Wuih, sejarah nenek moyang gw jelek juga, ya….)

    • Karo-Karo ManikDi Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.
  3. Merga PeranginanginMerga Peranginangin terbagi atas beberapa sub merga, yakni :
    • Peranginangin SukatendelMenurut cerita lisan, merga ini tadinya telah menguasai daerah Binje dan Pematang Siantar. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel. Di daerah Kuta Buloh, merga ini terbagi menjadi :
      • Peranginangin Kuta BulohMendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.
      • Peranginangin Jombor BeringenMerga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, Belingking,. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.
      • Peranginangin JenabunMerga ini juga mendirikan kampong Jenabun,. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa Karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat pertama nahkoda tersebut tinggal.
    • Peranginangin KacinambunMenurut cerita, Peranginangin Kacinambun datang dari Sikodon-kodon ke Kacinambun.
    • Peranginangin BangunAlkisah Peranginangin Bangun berasal dari Pematang Siantar, datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen. Di mana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gempa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga Menjerang dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang.
      Merga ini juga pecah menjadi :

      • KeliatMenurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.
      • BeliterDi dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter.
    • Peranginangin ManoPeranginangin Mano tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung, anak laki-laki mereka dipanggil Ngundong.
    • Peranginangin PinemNenek moyang Peranginangin Pinem bernama Enggang yang bersaudara dengan Lambing, nenek moyang merga Sebayang dan Utihnenek moyang merga Selian di Pakpak.
    • SebayangNenek Moyang merga ini bernama Lambing, yang datang dari Tuha di Pak-pak, ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain. Merga Sembayang (Sebayang) juga terdapat di Gayo/Alas.
    • Peranginangin LaksaMenurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar.
    • Peranginangin PenggarunPenggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku Karo.
    • Peranginangin Uwir
    • Peranginangin SinuratMenurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan Karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buloh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda.
    • Peranginangin PincawanNama Pincawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawanan-penawanan dan akhirnya disebut Pincawan.
    • Peranginangin SingarimbunPeranginangin Singarimbun menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, berasal dari Simaribun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di Tanjung Rimbun (Tanjong Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket.
    • Peranginangin LimbengPeranginangin Limbeng ditemukan di sekitar Pancur Batu. Merga ini pertama kali masuk literatur dalam buku Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH berjudul Sejarah dan Kebudayaan Karo.
    • Peranginangin PrasiMerga ini ditemukan oleh Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH di desa Selawang-Sibolangit. Menurut budayawan Karo Paulus Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibiru-biru.

(Masih ada lanjutannya)

182 thoughts on “Budaya Karo – Sejarah Marga-Marga (1)”

  1. bagus!!!punya inisiatif untuk menunjukkan eksitensi budaya batak sendiri. jarang2 ada yg mo loh!!!mejuah2, terus berkarya!!

  2. Pada kolom ini saya ingin menanggapi soal marga Saragih Simalungun yang dikatakan berasal dari marga Ginting di Karo. Meskipun pernyataan itu datang dari seorang peneliti asal luar negeri yang cukup kenamaan, dan sudah barang tentu memiliki validitas yang diakui oleh banyak kalangan. Namun saya melihat pernyataan itu perlu ditelaah ulang atau mungkin diklarifikasi, karena menurut hasil penelusuran saya selama ini terkait marga-marga Batak terutama marga Simalungun. Saya melihat bahwa marga Simalungun nan empatlah yaitu Purba, Damanik, Saragih, dan Sinaga yang pada zaman dahulunya melakukan penyebaran ke daerah-daerah Batak lain di luar Simalungun. Ketika sampai di sana, mereka kemudian berafiliasi dengan marga-marga yang ada di tempat itu, seperti halnya marga Purba Simalungun yang berafiliasi dengan merga Karo-karo akibat mengikat persaudaraan dengan merga Barus, demikian juga Saragih berafiliasi dengan Ginting, dan juga marga Purba yang beralih menjadi Tarigan karena berada di Tanah Karo, makanya hampir seluruh cabang marga atau sub-marga Tarigan menyerupai sub-marga Purba yang ada di Simalungun, seperti Tarigan Tambak yang sama dengan Purba Tambak di Simalungun. Tarigan Silangit, Sibero. Tua, Tendang, Gerneng, dll; yang sama dengan Purba Silangit, Siboro, Tua, Tondang, dan Sigumonrong di Simalungun.

    Timbul pertanyaan, mengapa mereka berafiliasi atau menyatu dengan m arga-marga tersebut. Ada 3 alasan yang menjadi sebab-musabab, pertama, karena orang Simalungun dalam merantau selalu berpegang teguh pada filsafah leluhur mereka Habonaron do Bona yang berimplikasi “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, yang bermakna di mana pun mereka berada dengan memegang teguh kebenaran, mereka akan selalu mengakui bahwa diri mereka adalah tamu yang senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada. Sebagaimana motto yang erat melekat di kalangan orang Simalungun, yang berbunyi “Totik Mansiathon Diri Marombou Bani Simbuei”, artinya Pandai-pandai menyesuaikan diri agar diterima oleh orang Banyak.
    Kedua, karena mereka merasa kelompok marga yang mereka berbaur ke dalamnya dianggap sebagai Sanina, punya ikatan darah sehingga tidak menjadi masalah bagi mereka untuk menggabungkan diri ke dalamnya.
    Ketiga, karena didesak oleh kondisi yang memaksakan mereka untuk menutupi identitas asli mereka, akibat dahsyatnya kekuasaan raja-raja, yang dalam suku karo dikenal dengan istilah Sibayak yang menjalankan sistem pemerintahan secara otoriter dan absolut. Ketika kejayaan mereka masih eksis sebelum terjadinya revolusi sosial pasca kemerdekaan, setiap orang yang bukan beridentitas marga Karo tidak diperkenankan untuk hidup tenang dan berdiam diri di dalam wilayah kekuasaan mereka. Maka untuk membebaskan diri dari tekanan itu, marga-marga di luar suku Karo kemudian menyembunyikan identitas asli mereka dan berbaur ke dalam merga silima. Hal itu terbukti seperti kelompok marga Silalahi dari Tapanuli Utara beralih menjadi Sembiring Sinulaki, Sipayung menjadi Sinupayung, Sembiring Sinupayung, dan Sembiring Kembaren.
    Kembali ke marga Saragih, maka secara gamblang penulis mengatakan, bahwa tidak benar Ginting Seragih menyebar ke Simalungun, melainkan Saragih yang di Simalungunlah yang menyebar ke Karo.

    Demikianlah tanggapan yang dapat saya utarakan, namun penulis akan menindaklanjuti hal ini dan akan menunjukkan bukti-bukti baru seputar keberadaan marga Saragih.

    Medan, 19 Septermber 2007
    Medan

    1. Saudara Purba tidak ada otoriter sebayak seperti anda maksud, otoriter itu ada kan sejak di bawah pemerintah Belanda. Kalo di simalungun memang sangat Feodal sebelum maupun pada masa jajahan Belanda.
      Sebelum penjajahan Belanda Kekuasaan Kesebayakan itu hanya sekedar koordinasi/musyawarah adat saja. Makanya sebelum penjajah datang sebayak itu sama miskinnya dengan penduduk biasa, buktinya sebayak lingga itu tinggal dijabu bena kayu dari rumah waluh jabu (4x5m2), sebayak sarinembah malah harus jauh sebagai pengembala kerbau untuk mencari nafkah. Dia jadi sebayak hanya semata2 karena bijak biasanya, yang punya pengaruh kuat di tanah karo adalah Pengulu, itu benar dia punya wilayah kekuasaan tapi hanya tingkat desa.
      jadi sebelum kedatangan Belanda, kedaulatan di tanah karo berada di tingkat Kuta.
      Kembali kemasalah Marga tadi, pada umumnya latar belakang terbentuknya Merga Silima dilatar belakangi oleh:
      1. Marga dibentuk karena Masih seketurunan, terutama untuk Marga Ginting dan Tarigan. Dimana kedua marga ini selalu memperkenalkan diri dengan marga induk. misalnya, Neken Tarigan, jarang kita dengar Akor Sibero, atau Lemba Gersang.(Patembayan?)
      Karim Ginting, jarang kita dengar Atan Babo, atau Litna Jadibata.
      2. Adanya kepentingan bersama untuk mengikat persuadaraan marga, seperti merga Sembiring, Karo-karo, dan Perangin-angin. Kelompok merga ini umumnya memperkenalkan diri dengan sub marga. misalnya, Idah Bangun, Sedia Sebayang, lem Sitepu, Kiam Barus, Milang Purba, Bukti Berahmana, Rintak depari. (Payuguban)

    2. Saudara Purba tidak ada otoriter sebayak seperti anda maksud, otoriter itu ada kan sejak di bawah pemerintah Belanda. Kalo di simalungun memang sangat Feodal sebelum maupun pada masa jajahan Belanda.
      Sebelum penjajahan Belanda Kekuasaan Kesebayakan itu hanya sekedar koordinasi/musyawarah adat saja. Makanya sebelum penjajah datang sebayak itu sama miskinnya dengan penduduk biasa, buktinya sebayak lingga itu tinggal dijabu bena kayu dari rumah waluh jabu (4x5m2), sebayak sarinembah malah harus jauh sebagai pengembala kerbau untuk mencari nafkah. Dia jadi sebayak hanya semata2 karena bijak biasanya, yang punya pengaruh kuat di tanah karo adalah Pengulu, itu benar dia punya wilayah kekuasaan tapi hanya tingkat desa.
      jadi sebelum kedatangan Belanda, kedaulatan di tanah karo berada di tingkat Kuta.
      Kembali kemasalah Marga tadi, pada umumnya latar belakang terbentuknya Merga Silima dilatar belakangi oleh:
      1. Marga dibentuk karena Masih seketurunan, terutama untuk Marga Ginting dan Tarigan. Dimana kedua marga ini selalu memperkenalkan diri dengan marga induk. misalnya, Neken Tarigan, jarang kita dengar Akor Sibero, atau Lemba Gersang.(Patembayan?)
      Karim Ginting, jarang kita dengar Atan Babo, atau Litna Jadibata.
      2. Adanya kepentingan bersama untuk mengikat persuadaraan marga, seperti merga Sembiring, Karo-karo, dan Perangin-angin. Kelompok merga ini umumnya memperkenalkan diri dengan sub marga. misalnya, Idah Bangun, Sedia Sebayang, lem Sitepu, Kiam Barus, Milang Purba, Bukti Berahmana, Rintak depari. (Payuguban?)

      Tapi saya maklum alam pikir sdr Purba cara Simalungun, di tanah karo semua marga itu setaraf, akan beda dengan di simalungun dengan Sinaga, Damanik, Saragih, dan Purba. diluar itu jadi marga kelas dua.

    3. Mantap pencerahannya Lae ttg marga Saragih…
      Jadi yang Saragi dari Toba, itu sebenarnya dari Simalungun yang merantau atau dari Toba merantau ke Simalungun laeku…
      Kebetulan perkenalkan saya Mmarga Simbolon. Marga Saragi, Saragih dan Ginting itu dari dulu kupanggil appara atau senina dan sanina. Karena itu katanya dari keturunan Parna…

  3. @jeje :

    kebetulan saya pernah baca kumpulan artikel “Bangun, Tridah. Sifat dan Tabiat Orang Karo. Yayasan Lau Simalem, Jakarta, 2006
    di situ banyak artikel tentang kisah pergerakan di tanah karo pada jaman menuju kemerdekaan.

    semoga bisa membantu

  4. hai petra nice to know you.
    i’m from palembang.
    waktu kecil aku pernah makan di capah, ramai-ramai satu piring , terbuat dari kayu , berdiameter kira-kira 30-50 cm.
    bye.

  5. hai petra, saya sangat tertarik dengan pembahasan mengenai adat budaya karo. walaupun saya adalah orang Toba. tapi bagaimana mungkin petra sendiri yakin bahwa petra mengatakan bahwa orang Karo bukanlah bagian dari sub batak yang ada di Sumatera Utara. dan apa hubungannya dengan orang batak lainnya yang menghubungkan dengan marga lainnya? kalau begitu tidak ada dong artinya orang Karo yang menghubungkan marga saya dengan orang karo khususnya perangin-angin

  6. @paradon :

    cuman masalah konteks aja sih sebenarnya….

    kalo untuk Karo sendiri, banyak sih alasannya,
    mungkin karena rada risih karena Batak itu terlalu diasosiasikan ke Toba, ada pula yang beranggapan karena Karo itu aslinya bukan dari Sumatera Utara.

    saya sih gak terlalu masalah kalau dibilang orang Batak, dan biasanya saya juga ngaku sebagai orang Batak kalau dihadapan orang bukan Batak. well, kadang memang banyak suka gak familiar dengan marga saya (Barus), baru saya bilang itu Batak Karo….. orang khan banyak persepsi Batak itu identik dengan Toba, yang mana dalam beberapa hal agak berbeda dengan Karo dari apa yg dianggap orang lain e.g. logat, dll….

    lagipula menurut saya bagus kok kalau ada keragaman budaya Batak seperti Toba, Nias, Karo, Simalungun, Tapanuli, dan Mandailing….

    justru saya kepengen malah biar banyak yang tahu tentang keragaman budaya Batak ^_^ gak hanya terikat melulu persepsinya ke satu subras Batak aja….

  7. Hallo Petra,

    Setahu saya Mandailing dan Karo memang bukan Batak. Pengelompokan itu dilakukan oleh Belanda untuk memisahkan orang-orang yang Islam dan yang masih animisme/pagan. Karo yang Islam seperti di Kesultanan Haru dan Deli dikelompokkan sebagai Melayu. Keterangan agak lengkap ada di http://www.tanahkaro.com.

    Karo sebenarnya sama dengan Gayo dan Alas dan merupakan penduduk asli daerah yang kita namakan Aceh sekarang (Malikussaleh pendiri Samudera Pase dan nenek moyang Sunan Gunung Jati pendiri Kesultanan Cirebon adalah orang Gayo). Orang Karo menyebut Danau Toba itu Danau Laut Tawar, sama seperti Danau Laut Tawar di Takengon, Aceh Tengah.

    Mandailing di Sumatera Utara meskipun bukan Minang mereka berasal dari Pagaruyung (menurut dongeng berasal dari kata Mande nan Ilang atau Ibu yang hilang). Sampai sekarang di daerah sekitar Pagaruyung masih banyak suku Mandailing. Yang ini adatnya Minang dan memang di daerah ini dialek minangnya banyak miripnya dengan dialek Mandailing .. o-nya lebih banyak dibanding dialek Minang lainnya.

    Kemungkinan eksodus itu terjadi di awal terbentuknya adat atau budaya Minangkabau. Diperkirakan sekitar abad ke-10 ada migrasi besar dari Campa yang berasimilasi dengan masyarakat di kaki Gunung Merapi dan membentuk masyarakat adat yang sekarang disebut Minangkabau. Sebagian orang-orang yang tidak mau menerima perubahan pergi mencari tempat baru. Banyak website Mandailing termasuk yang dari Malaysia yang bercerita tentang sejarah Mandailing, tapi saya lupa. Cari di google saja.

    Gelombang migrasi Campa berikut melahirkan apa yang kita sebut suku Aceh sekarang. Sementara penduduk aslinya (orang Gayo) menetap di pegunungan.

    Sekedar sumbang informasi.

  8. kalau begitu tidak ada dong artinya orang Karo yang menghubungkan marga saya dengan orang karo khususnya perangin-angin

  9. bagus!!!punya inisiatif untuk menunjukkan eksitensi budaya batak sendiri. jarang2 ada yg mo loh!!!mejuah2, terus berkarya!!

  10. saya cumaee pengen tahu…apa munthe yang di karo dengan yang di toba sama?

    Setahu saya dari keluarga saya, bahwa Munthe yang berasal dari toba merantau ke tanah karo, yang merantau tersebut bernama ginting munthe..

    1. Benar sekali Indra Munthe itu semua sama, tidak hanya di toba dan karo. munthe itu ada di toba, karo, simalungun, labuhan batu, aceh selatan, alas, gayo, dairi, angkola, mandailing, pakpak dan dairi. munthe adalah turunan dari Raja parsuli dari toba.
      Yang ke tanah karo, pertama menetap di ajinembah mendirikan kerajaan (rumaah pitu ruang) dan berekspansi ke sipituhuta (kerajaan tongging), ke tanah karo (kuta bangun), dan ke simalungun (pinang sori) yaitu kerajaan raya (kerbosinggalutu).
      sangat keliru kalo penulis merga-merga di karo selalu mengkopi paste kata-kata dari tengging ke ajinembah terus ke becih, ke Kutasanggah (hutasanggar kali, itu mah urusannya munthe sianjahe). gitu itu yang resmi ceritanya dalam keluarga munthe sendiri.

  11. Mejuah juah,

    Menurut saya simple ajalah… Kalo ada orang yang memakai adat Dalian Na Tolu ( atau apapun namanya dalam bahasa mereka) maka dia itu disebut Batak. entah Karo kah namanya, atau Simalungun kah.. ,entah ada campuran arab/cina/india nya dsb dst , Karena sistem adat tersebut tidak ada di tempat lain di muka bumi ini kecuali di sumatera utara.,

  12. MEJUAH JUAH. . . .!!
    tulisan2 y ada dsni membuat wawasan masyarakat lebih luas terutama untuk lebih mengenal adat dan kebudayaan daerah. terutama generasi muda yang sudah kurang faham ttg kebudaaan,terlebih2 marga dan asal kuta kemulihen leluhur keluarga karena sudah lama merantau dari taneh karo simalem.mari kita bersamasama melestarikan kebudayaan tanah karo simalem serta menjaga dan melestarikan kebudayan kita agar tidak hilang dilamakan waktu dan modernisasi karna itulah harta terbesar buat taneh karo simalem.bagi yang rindu melihat benda bersejarag terlebih2 capah raja sisihkan waktu anda and WELLCOME TO MUSEUM KARO LINGGA.

  13. ghitu donk… maju terus orang batak, tapi ups… jangan terlalu fanatik ya dengan kasta and yang pasti salut dengan semua orang batak yang menjunjung tinggi persaudaraan dan takkan hilang kemanapun pergi.

  14. m e j u a h… j u a h…
    haii bg petra..
    kw hebat x wak..
    ampe segitunya kw.
    hapal yaa. ak ajj ga trlalu ngerti ttg silsilah marga2 kita ini. silima laa. . ap laa. .
    top bgd dah kw bg. .
    ya sutra laa. . trus kan sjja usha moe,
    jia you. .

  15. Saya cuma pengen nangapin tentang marga munthe.walaupun pengetahuan saya sedikit tapi gak ada salah nya berbagi kan,ini menurut cerita bapak saya neh.. dahulu nya munthe itu datang dari tongging dan tongging itu masih di bawah kekuasaan raja simalungun setelah itu mereka pindah ke aji nembah atw aji nombah bahasa simalungun nya dan dulu nya aji nembah pon masih kekuasaan raja simalungun,nah dri sini lah awal cerita nya dulu nya nenek monyang nya org munthe tuh punya kerbau nama nya nanggalutu dan diatas bahu nya bisa maen catur,dan pada suatu saat oppung ini mengadakan tanding catur diatas bahu nya si kerbau tersebut sambil kerbau itu berjalan,hingga akhir nya mereka sampe di simalungun atau raya dan giring-giring atw alat yg gantung dileher kerbau yg bunyi ring ring gitu tinggal disana dan itu maka nya ada saragih garinging yang menjadi raja raya,truss mereka berjalan sampe ke mandailing(pinang sori) sana ketika di tanya orang sana kalian marga apa, yang mana org mandailing bilang nya kek gini dali sian dia do hamu dabo kalo gak salah lalu mereka jawab dali munthe,itu maka nya ada marga dalimunthe
    sory kalo ada yang salah sumber ini asli aku dapat dri cerita dari bapak ku dan juga dari makkela ku yang marga munthe… makkela itu sama ama mang boru dan bengkila tuk bahasa karo nya
    ehh jangan lupa mampir ke blog ku yah.. and btw aku bisa KOPAs gak neh tuk aku masuk kin ke blog ku bona-gallery.com/dorigirsang

    1. ech dori, munthe itu dari ajinembah ke tongging, jangan terbalik. Pinang sori adalah putra mahkota Ajinembah dengan kerbosinanggalutunya ke simalungun yang menjadi raja raya.
      mungkin cerita anda itu terpengeruh oleh penulis merga-merga karo ya, itu karena kalo ginting munthe sering bilang asalnya dari tengging, padahal belum tentu, itu karena terkesima oleh kebesaran tongging (Raja Ihutan) sebelum pra kolonial.
      halo itu sama seperti sembiring meliala selalu bilang asalmuasanya dari sarinembah, padahal sarinembah adalah tempat pengembalaan dari biaknampe… dimana meliala yang pake subang asalnya dari biaknampe, lain lagi yang enggak pake subang, kenapa? karena sarinembah sempat menjadi kerajaan

  16. @dorigirsang :

    makasih untuk masukannya….

    bagus banget loh ceritanya ^_^

    silakan kalau mau ngambil artikel ini….. jangan lupa kasih tau kalau ada bahan diskusi lainnya ya ^_^

  17. aku lahir i Juhar,lapernah lit kubegimerga Prangin-angin LAKSA. Aku terlahir sebagai marga PINEM,tapi kakakku lit gelarna LAKSA br PINEM. Mungkin kami kali marga LAKSA ya….??.sdr Petra,kalo ada literatur ttg itu tlong informasikan saya.Sewaktu sekolah SMP 37 thn lalu kami belajar ttg BAHASA KARO,dan tdk ada di singgung marga LAKSA sebagai salah satu cbng Prangin angin.Aku masih ingat benar,bahkan tulisan batak KARO saya masih fasih samapai sekarang. Kalau ada yg minat belajar tulisan batak KARO aku siap meluangkan waktu utk itu.Kalo serius 1 hari tamat. Graaaatis. GBU.

  18. Abang adalah salah satu Pahlawan dalam Pelestarian Budaya, semoga anak cucu kita bisa lebih melestarikan keragaman budaya ini

    Salut Hormat Kami

  19. ada artikel saya tentang budaya KARO bagaimana cara say untuk memasukkannya? itu juga kalo di ijinkan, tapi tulisan saya sudah masuk di SORAMIDO Thn 2006, GBu

  20. terima kasih yach bang ats infonya. aq bru tau klo ginting itu terdiri dr beberapa sub merga. aq pikir ginting itu cuma 1 sub merga saja,

  21. Mejuah-juah.Blog ini merupakan inisiatif yang sangat cerdas dan membangun. Sudah sepantasnya kita sebagai kalak karo mencermati budaya kita serta marga apa yang kita sandang. Marga itu bukan hanya sesuatu yang diwariskan oleh orang tua kita, tetapi juga aturan kita agar dapat bertutur dengan orang karo yang lain. Dengan adanya blog dari silih saya ini, mungkin dapat membantu masyarakat karo yang kurang paham dengan asal usul marga yang disandangnya. Sekali bujur ras mejuah-juah.

  22. Sibayak lingga adalah anak dari raja lingga yang ke-3. Lingga dalam bhs gayo Linge Di tanah gayo ,Dan Kerajaan Lingga berasal dari Turki Rum,Linge berarti suara dalam bahasa gayo.Jadi,adakah hubungan Gayo dengan Karo? Jika ada yang tau sejarahnya tolong send ke [email protected] atau di replay di sini juga no problem. Thanks

  23. hai kakak/mami/nenek entahlah bingung aku manggilnya………….

    mari kita sama-sama mempromosikan budaya Karo

    orang karo tidak mau kalah

  24. membaca keterangan diatas saya merasa kurang puas,perlu data data yang lebih akurat lagi agar tidak terjadi kesimpang siuran,karna ini adalah sejarah harus kongkrit dan akurat. mengenai asal marga Sitepu yang diterangkan diatas menurut persi yang saya tahu (mendengar penjelasan dari kakek saya almarhum,dan kaum tua lainya yang bermarga sitepu) hampir saja sama apa yang dia ceritakan kepada saya, walaupun waktu dan tempat pembicaraan kami pada tempat dan waktu yang berbeda. menurut mereka marga sitepu berasal dari desa sihotang(TOBA) mereka tiga bersaudara, satu menetap di sihotang dua diantara mereka pergi merantau ke tanah karo, yang satu menetab dan membuka kampung di sukanalu Simbelang (sekarang) sedangkan yang satunya mendirikan kampung yang mereka sebut deskati atau Ndeskati. dari situlah awal pertama kali marga sitepu mendirikan perkampungan lain di seputar teran (Teruh deleng) yaitu gunung Sinabung dan danau Laukawar.
    mohon koreksi.
    bukti sitepu
    Jakarta Timur

  25. mejuah-juah.
    saya mau tanya ne,tlg anda ceritakan tentang marga purba ditanah karo.
    kebetulan saya cucu dari pa mbelgah.
    1lagi,kalao marga sirait(toba) itu masuk karo apa ya?
    bujur

    1. Karo-karo Purba kabarnya berasal dari Marga Purba Simalungun. Dimana dahulu pantang Purba Karo menjalin perkawinan dengan Purba Simelungun. Pada awal tahun 1960an ada seorang wanita putri seorang PURBA YANG TERKENAL KAYA DI kABANJAHE disunting oleh Marga Girsang, dan setahu saya sampe meninggal tidak dipesta adati.
      Kabarnya purba itu menginjakkan kakinya pertama di Peceren Berastagi.Dari Purba yang mana hanya marga Karo Purba yang tahu.
      Masalahnya afiliasi Purba Simalungu8n adalah Tarigan, sedangkan purba karo afiliasi ke karo-karo.

  26. mw nanya donk!!!!

    td kan pada sejarah marga saya ada baca klo sebagian dari sebayang tu ada yg bisa menikah dengan sesama marga…

    yang mau saya tanya sebayang dengan pinem itu bisa menikah g sich???

    tlg d jawabg secepatnya y cz saya penasaran bgt..

    terima kasih sebelumnya..

    [email protected]

  27. Aku sependapat dengan Bapak Masrul Purba, Spd,
    yang telah mengomentari mengenai asal-usul dan keberadaan marga-marga karo.

    Saya salah satu keturunan marga purba karo (Pa Mbelgah), yang merupakan keturunan dari salah satu raja di simalungun.
    Menurut cerita turun temurun:
    Purba Karo (Pa Mbelgah) yang mendiami daerah kabanjahe (Pendiri kota Kabanjahe,
    Pada awalnya seorang yang telah kecewa dengan keputusan saudaranya sendiri atas kepemimpinan kerajaan yang ditahtakan kepadanya.
    Maka, dengan berat hati (dia) melarikan diri ke hutan, yang sekarang disebut Kota Kabanjahe.

    Inilah salah satu cerita keberadaan Marga Purba di daerah karo.

    Dapat ditarik kesimpulan bahwa:
    Pada umumnya marga yang ada di karo berasal dari Simalungun dan Toba.

    Saya salut buat saudara petra yang telah membuat suatu silsilah mengenai keberadaan merga di karo, dan penyusunannya merupakan strategi Manajemen konflik (untuk mendatangkan sebuah tanggapan).

    Terus gali mengenai budaya dan sejarah, untuk pengetahuan bagi generasi penerus.

    Terima kasih

  28. wow..aku baru tau dan baru belajar tentang karo.. ternyata sejarahnya panjang juga yah.. nicee utk rubrik ini, memberi pengetahuan. padahal tridah bangun itu kakek ku loh, bukunya banyak di rumah hehe langsung belajarlah

  29. @pak Terminal:
    terima kasih atas tanggapannya. memang saya bertujuan untuk menghimpun opini massa ^_^
    kalau ada kritik saran lagi saya mohon ditulis di sini 🙂

    @kiki:
    kalau boleh, saya bisa minta dikirim fotokopian bukunya tidak?
    minta ijin ke kakeknya juga ya ^_^

  30. ehh……ehhh….mangnya bener yah kalo asal usul marga mang seprti yg da di atas?

    aku aja yang orang karo gak begitu tau mengenai adat istiadat soalnya aku besar di lingkungan jawa gitu, ada yang punya artikel mengenai asal usul bahasa karo gak?

    bagi-bagi informasi donk ^_^
    aku pengen mempelajari tentang budaya sukuku sendiri, kan dah banyak yah kita liat kalo budaya karo itu pelan tapi pasti semakin lama semakin hilang di telan moderenisasi dan distorsi zaman.

    padahal kita tau kalo budaya yang ada di negara kita tu banayak dan kalo di kembangkan gak kalah bersaing dengan budaya asing.

    thankz before oce..oce…^_^

  31. Horas.. mejuah juah.

    Bagi yang membutuhkan buku buku seputar Batak Toba,Batak Simalungun,Batak Karo,Batak Mandailing dll. Terbitan tahun 1950 an samapai 2009 ada sama saya. kebetulan saya kolektor buku kuno dan langka juga yang antik tentang budaya Batak yang mungkin bisa saya kirimkan ke alamta pembaca. Harga dan ongkos kirim ya dame dame saja. Gak apa apalah agak mahal ya,soalnya kita buat taman baca khusus informasi Batak yang berbahasa Belanda,Jerman,Belgia dll.

    [email protected]
    0813788103
    061-91317069
    Horas.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.