Diseruduk Motor Dari Belakang

Sudah hampir tiga bulan terakhir ini saya mencoba memulai kebiasaan baru bersepeda ke kantor. Banyak sekali tantangan yang harus dihadapi di kebiasaan baru ini, mulai dari harga sepedanya sendiri, kebiasaan untuk memarkir dan mengunci sepeda, bangun lebih pagi agar bisa menghindari kemacetan, dan niat untuk bersepeda itu sendiri. Dan ada satu lagi yang saya masih sulit untuk hadapi, yakni keamanan berkendara di jalan raya.

Kamis lalu pukul setengah tujuh pagi saya berangkat menuju kantor dengan sepeda. Rute yang selalu saya gunakan adalah Simpang Dago, Jalan Sumur Bandung, Jalan Siliwangi, Jalan Cihampelas, Jalan Cipaganti, Jalan Cemara, hingga Jalan Karang Tinggal. Bagian paling menantang dari rute tersebut adalah tikungan Jalan Siliwangi dan Jalan Cihampelas. Pertama, saya masih belum kuat di tanjakan Siliwangi jadi harus menggiring. Kedua, jalan ini lumayan ramai dengan sepeda motor dan saya harus pindah jalur dari tepi kiri ke kanan di jalan yang lebar ini. Setelah menggiring sepeda, saya kembali naik sepeda dan siap-siap pindah ke jalur kanan setelah memastikan jalanan kosong.

Brak! Saya jatuh dari sepeda dengan mendarat di aspal pada bagian tangan kanan dan kaki lebih dahulu. Beruntung kepala tidak terbentur pembatas jalan yang hanya tinggal beberapa jengkal. Saya melihat bagian kiri, ada satu sepeda motor yang juga jatuh bersama pengendara dan penumpangnya. Badan motornya retak dan beberapa serpihannya berserakan di jalan.

Saya langsung berdiri dan memeriksa bagian tubuh. Bagian dalam lengan kanan ada lecet yang lumayan lebar tapi tidak terlalu lebar. Bagian paha dekat lutut agak sedikit sakit, nampaknya juga ada lecet. Saya melihat sekeliling, banyak sekali orang yang memperhatikan.

Pengendara motor bersama penumpangnya langsung menghampiri saya.

“Kenapa beloknya mendadak?”, hardik si pengendara. Mereka mengenakan seragam SMA.

“Gak bisa pakai rem ya?”, balas saya. Saya berusaha tetap tenang, mencoba menaksir situasi sambil merasakan apakah ada bagian badan yang lain yang terasa sakit.

“Ya  gak bisa dong. Khan lagi kencang”, kembali bentak si pengendara.

“Kalau mau belok tuh kasih tanda”, dibantu oleh si penumpang sambil memperagakan kepakan tangan kanan.

Sebelum saya sempat membalas, beberapa orang yang tadi menonton mencoba melerai dan membantu kami untuk pindah ke tepi jalan agar mobil dan motor di belakang bisa lewat. Gagang sepeda saya ternyata bengkok, tidak tegak lurus dengan ban depan.

Lalu ada tiga orang polisi (saya hingga sekarang masih tidak yakin dua atau tiga, tapi sepertinya tiga), satu orang menghampiri saya menanyakan keadaan saya dan yang lain ke kedua anak SMA itu. Petugas yang di dekat saya melihat keadaan sepeda saya dan menunjukkan saya bagaimana cara meluruskan gagang sepeda. “Okay, satu masalah kelar”, pikir saya, lega karena tidak harus beli sepeda baru.

“Kamu mana SIMnya tunjukkin ke saya”, kata polisi yang satunya ke pengendara motor.

“Gak punya pak, adanya STNK”

“Iya lah, kamu gak punya SIM, di bawah umur khan kamu?”

Saya langsung merasa iba dengan kedua anak SMA. Mereka pasti kena tilang. Saya juga perhatikan sepeda motornya tidak memiliki plat nomor belakang. Ini pasti pelanggarannya berlapis.

“Tapi itu sepedanya beloknya mendadak, Pak”

“Ah, di sini sering kok lewat sepeda tapi gak pernah kenapa-kenapa. Kamu pasti kenceng banget ya. Harusnya kalau tau ada sepeda itu kamu ngerem”

“Tapi khan kita terlambat ke sekolah, Pak”, duh, si anak ini menggali kuburan sendiri.

Sambil memperhatikan mereka, polisi yang menemani saya bercerita kalau dia memiliki saudara yang kehilangan nyawa karena ditabrak motor. Kemudian pak Polisi ini menegur kedua anak SMA ini untuk bertanggung jawab.

“Ini kamu temenin si bapak ke Puskesmas. Tanggung jawab ini lukanya gede”

“Aduh, pak gak apa-apa, saya nanti ke rumah sakit aja sendiri. Masih bisa jalan. Ada asuransi juga”, jawab saya. Saya tidak ingin merepotkan anak-anak SMA ini. Kasihan, sudah telat ke sekolah, sepeda motornya juga rusak, dan dimarahi polisi lagi, hasih harus disuruh mengantarkan ke puskesmas dan bayar biaya pengobatan.

“Ini kamu lihatin sepeda si bapaknya. Rusak tuh. Kamu ganti yang rusak. Ini sepedanya lebih mahal dari motor kamu tau gak?.” Spontan saya langsung tersenyum menahan untuk tidak tertawa atas pernyataan terakhir. Si Pak Polisi langsung terheran melihat saya tersenyum. Saya menggeleng kepala. Saya sangat mengapresiasi usaha si Pak Polisi agar kedua anak SMA ini bertanggung jawab.

Akhirnya beliau berusaha untuk terakhir kalinya, “Ya sudah kalian minta maaf ke bapak ini.”

Saya tersenyum dan menyodorkan tangan kanan. Mereka berdua awalnya agak enggan untuk meminta maaf. Tapi setelah ditegur oleh polisi akhirnya mereka juga mengulurkan tangan untuk meminta maaf.

Setelah itu ketiga polisi menggiring kedua anak SMA itu ke pos polisi, meninggalkan saya yang bingung mau berbuat apa selanjutnya. Saya menyusul ke pos polisi sambil tertatih-tatih membawa sepeda. Mereka terlihat sedang mengurus penilangan.

“Pak, saya duluan ya mau ke rumah sakit”, saya minta ijin ke Pak Polisi.

“Oh iya, Pak. Sini biar saya bantu sebrangin.”

Dan saya melenggang pergi ke kantor yang jaraknya masih sekitar 3 kilometer lagi.

Kondisi saya saat ini tidak apa-apa. Hanya lecet kecil dan sudah ditangani di UGD Borromeus. Kondisi sepedanya saat ini masih di bengkel. Velg ban belakang bengkok dan jari-jarinya patah dua batang. Tapi biayanya tidak terlalu besar juga, untungnya.

Pelajaran utamanya adalah harus bisa lebih hati-hati lagi dalam mengendarai sepeda. Mungkin lain kali kalau di jalan besar yang sedang ramai, saya nampaknya harus menyebrang jalan dengan kaki ketimbang sepeda. Di negara ini kita tidak akan pernah bisa tahu kelakuan pengemudi kendaraan bermotor lain seperti apa dan tidak juga bisa mengasumsikan apakah mereka bisa lebih toleran terhadap pengendara sepeda.

Mengatur Keuangan Dengan Aplikasi You Need A Budget

Sedikit berbagi di bulan yang penuh berkah ini. Berhubung sekarang sering sekali ditanyakan tentang hal-hal yang hubungannya tentang finansial, mulai dari pembiayaan untuk membeli properti (tentu saja berhubung pekerjaan saya di UrbanIndo), investasi saham, investasi di reksadana, hingga manajemen finansial perorangan, saya mencoba untuk mulai menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan finansial di blog ini.

Sebagai generasi muda yang dihadapi oleh tantangan untuk memiliki properti karena terus meningkatnya harga properti dan juga terpaan godaan-godaan konsumerisme, ada baiknya kita mulai belajar mengatur keuangan dengan baik.

Kali ini saya akan berbagi tentang salah satu aplikasi yang saya rekomendasikan untuk melakukan manajemen finansial: You Need A Budget. Dari namanya ini bukanlah aplikasi pencatatan (money tracking) biasa, tapi memiliki fungsi utama sebagai aplikasi untuk budgeting. Kelebihan budgeting dibanding tracking biasa adalah kita dapat melakukan perencanaan pengeluaran ketimbang dan melihat apakah pengeluaran yang tercatat masih sesuai dengan rencana yang kita susun.

Hal yang menarik dari YNAB adalah aplikasi ini memiliki metode khusus yang terdiri dari empat aturan: Give Every Dollar A Job, Embrace Your True Expenses, Roll With The Punch, dan Age Your Money. Ketika saya pertama kali mencoba mulai metode ini, saya agak sulit memahaminya, tapi sejalan dengan waktu dan setelah menonton video serta membaca artikelnya, sebenarnya metode ini tidak terlalu sulit untuk mengerti. Untuk lebih jelasnya, aturan-aturannya saya jelaskan di bawah ini.

Continue reading Mengatur Keuangan Dengan Aplikasi You Need A Budget

Trying To Read More This Year

One similar thing that I understand for successful people that I’m really looking up to is that they read a lot. Insanely a lot. Warren Buffett is said to spend 80% of his day reading. Bill Gates has a dedicated page about books that he read. Mark Zuckerberg started a book club. Elon Musk learned how to build rocket by devouring books.

In one public event at the end 2015, I met with the Dr Werner Vogels, the CTO of Amazon.com. He was in rush to the parking lot and I caught him to take a selfie. Seeing him in such a hurry, I asked only one question.

“I love your blog and love how you share papers you read there. You are a very busy man, how do you make time?”

He then answered something simple like,

Continue reading Trying To Read More This Year

Coffee Cupping Experience at Caribou Coffee PvJ

If people can be divided into two classes, coffee person and tea person, I will definitely say I am the latter. But that never stops me from hanging out at great coffee shops, as long as they serve tea or at least chocolate. I love the comfortable styles at common coffee shops rather than fancy atmosphere by tea houses.

Lately I have been regularly hanging out at Caribou Coffee after work… to do more work. Or just do some book readings. The interior gives so much inspiration to me that I feel more productive taking work here than home. Or just some book readings; I can finish books faster here than in my room (It becomes obvious that I am writing this in between my working break here, doesn’t it?). In addition to that, the service is just awesome. The baristas are so friendly and have great sense of humor.

Continue reading Coffee Cupping Experience at Caribou Coffee PvJ

New Year, New Habit: 3 Things I’m Feeling Grateful Today

It’s 2017, time for trying a new habit. Last year I’ve added a simple one: making bed after waking. Now instead of opening my phone right away and checking up social medias, I make my bed. I learned this habit from a Youtube video shows a speech from a Navy Seal Admiral. You can see from this a lot of reasons why you should start off your day by making your bed.

If you have read Charles Duhigg’s The Power of Habit, you should be familiar about ‘keystone habit’ – a good habit that are correlated with other good habit. Making bed has become one for me. After I made my bed, I would feel bad if I started sleeping in again, so I started do something else and those became new habits like stretching my muscle, checking my weight, reading books or articles, and planning my day.

For these couple of weeks of 2017, I have been starting a new habit that I called ‘3 Things I’m Feeling Grateful Today‘. I didn’t have any slight idea about starting this actually. It started when Arip gave me new year present: a beautiful planner with my initial engraved on it. Since I already have a working digital system, I don’t have any use of the planner. But then I got an idea. What if I write every day, three things that I was feeling really grateful about that day?

 

As a Christian growing up loving hymns, I got this concept of count your many blessings from one of the hymns. Here’s the lyric of the hymn.

When upon life’s billows you are tempest-tossed,
When you are discouraged, thinking all is lost,
Count your many blessings; name them one by one,
And it will surprise you what the Lord has done.

This is a way for me to count many blessing that The Lord hath given to me each day. One day maybe when I am feeling so down, I am going to open this book, count on those many blessing, and thank The Lord that despite every obstacle that I faced on that day, The Lord had been and is still with me.

PS:

Tadi Malam Tiga Tahun Lalu

Malam tadi tiga tahun lalu, saya bersama beberapa rekan berkumpul minum-minum di salah satu lounge di Simpang Dago. Mungkin saat itu saya terlalu banyak minum atau saya terlalu larut dalam pembicaraan, saya tidak merasakan ponsel terus bergetar dari adik saya yang ingin mengabarkan bahwa Bapak malam itu masuk ICU. Saya menyadari runtunan panggilan tak terjawab di layar ponsel paginya. Dan itu pun sudah terlambat. Saya tidak sempat mendampingi Bapak menjelang saat akhirnya.

Saya hanya sempat mengucapkan “Aku sayang Bapak” berulang-ulang kali lewat telepon ke Bapak yang sudah tidak sadarkan diri. Saat itu saya masih di dalam bus travel yang terjebak macet di tol, hanya berjarak satu jam dari rumah sakit. Tiga puluh menit kemudian Bapak menghembuskan nafas terakhir. Tidak terkejar untuk melihat wajah Bapak yang masih hidup terakhir kali.

Ironinya, dalam pembicaraan di sela-sela alkohol malam itu, saya mengungkapkan ke teman-teman bahwa meskipun saat itu saya masih sendiri, saya ingin sekali cepat menikah karena Bapak saat itu sakit-sakitan. Saya ingin agar Bapak bisa sempat menyaksikan anaknya bahagia di pelaminan. Sehari setelah kepergian Bapak, salah seorang teman yang ikut dalam pembicaraan tersebut mengucapkan belasungkawa sekaligus mengingatkan tentang pembicaraan itu. Tidak ada terbersit pikiran atau firasat saya malam itu kalau Bapak akan pergi esoknya.

Mungkin memang sudah jalannya.

Twenty Nine

Today marks the final year in my twenties. I think most people would say that notable achievements will start coming in the third decade of one’s life. The previous decade is just filled by series of textbook learning, adventures, and whole bunch of trial-and-errors before starting to put some scratch little by little in the face of the world marking your legacy. While in the previous decade you mostly learn from people’s mistakes and successes, now you will start making your own mistakes for other people to learn.

I hope I have learned enough to prepare myself to a whole new decade. But I did learn a lot of new points in the past year. I think, just like me, you will realize that you have learned about a great deal in a year when all the problems you faced in the year became more complex and more delicate. Those problems, if compared with the problems you faced previously, will make them look so easy.

I learned about leading people and handling myself with them. I learned about relying and trusting other people just so then I learned to say farewell to those I have been relying and trusting. I learned to own my mistakes and learned to learn from them and learned to make more mistakes to learn to and so on. Just couple of years ago I started picking up books on self-improvement, leadership, habits, happiness, or people – with great skepticism in the beginning, but then I ended up hungry for more trying to catch up on what I have been missing all of these years.

Health is also becoming a more priority for me pay attention. In my youth, I never really care about health; never even bothered to invest little time for the benefit of the years to come. These couple of years I have paid more attention to my health. Not seldom old habits tried to reintroduce them selves. It’s the consequences of my old habits that are trying to keep up that I have been so worrying about. Some times I just hope I can pass through the third decade at all. Finger crossed.

There are another plenty of things that I am hoping for. I want to write a lot more of them, but it’s still three o’clock in the morning and I want to continue sleeping. But I shall just see what the world have in store for me. Looking forward to more challenges, more people, and more learning experience!