Cerita dari Acara Bandung Engineering Meetup July 2013: Javascript Technologies

Kemarin, saya dan beberapa rekan-rekan engineer di Bandung mengadakan meetup kecil di BrusselsSpring Setiabudi yang bertajuk Javascript TechnologiesMeetup ini berawal dari ide saya, Arisetyo, dan Ghanoz yang ingin mengadakan acara sharing yang lebih technical. Di Bandung sendiri sudah ada komunitas yakni FOWAB yang isinya adalah para pelaku dunia dijital Bandung dari berbagai kalangan mulai dari entrepreneurdesigner, dan termasuk juga engineer.

Saya secara pribadi menilai FOWAB telah sangat sukses menarik minat banyak sekali masyarakat Bandung untuk terjun menjadi pelaku dunia dijital. Kesuksesan ini ditunjukkan dari banyak sekali acara-acara yang mengundang banyak sekali partisipan termasuk di antara GEEKFEST yang diadakan tahun lalu yang berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain di Bandung. Meski demikian beberapa rekan-rekan engineer merasa membutuhkan acara sharing yang lebih teknis sebagai tempat berbagi best practice dan solusi masalah teknis. Oleh karena itu saya mengajak rekan-rekan untuk menginisiasi acara ini.

Format acaranya cukup sederhana. Setiap meetup akan memiliki topik khusus, seperti kemarin “Javascript Technologies”. Nanti akan ada presentasi pembuka dari rekan-rekan engineer yang menggunakan teknologi tersebut untuk masalah yang dihadapi. Sharing akan dilanjutkan dengan diskusi. Rekan-rekan yang hadir bisa mengutarakan masalah yang sedang dihadapi dan kemungkinan solusi yang bisa ditawarkan oleh teknologi yang sedang dibahas. Biasanya di diskusi ini rekan-rekan yang lain juga bisa menawarkan solusi lain untuk masalah yang sama atau yang mirip yang pernah dihadapi.

Sesi sharing pada meetup kemarin dibuka oleh Arisetyo yang mejelaskan tentang teknologi Javascript yang digunakan di Ohdio.fm. Ohdio adalah sebuah layanan music streaming yang menyediakan playlist berdasarkan mood. Pengunjung dapat memilih playlist sesuai dengan mood seperti ‘sedih’, ‘senang’, ‘galau’, dll dan mendengarkan lagu-lagu yang disediakan.

Arisetyo, atau lebih sering dikenal sebagai OmAri, bergabung dengan Ohdio untuk membangun wajah baru dari Ohdio. Tantangan pertama yang dihadapi oleh OmAri adalah keputusan untuk melanjutkan arsitektur yang ada atau menggunakan teknologi yang sudah familiar. Teknologi yang digunakan pada wajah lama Ohdio adalah Python di atas Tornado.

Berhubung OmAri memiliki latar belakang front-end engineer yang banyak berkutat dengan ActionScript dan Javascript, OmAri memutuskan untuk membangun ulang menggunakan Javascript. Keputusan ini juga didukung oleh perubahan wajah khususnya perubahan konsep layanan serta model bisnis Ohdio. Teknologi yang dipilih adalah DurandalJS untuk front-end dan NodeJS untuk bagian back-end. Framework DurandalJS dipilih karena kemudahannya untuk digunakan dalam membangun Single Page Application. DurandalJS ini sendiri merupakan pembungkus teknologi Knockout, RequireJS, dan jQuerySelain membahas tentang tantangan-tantangan teknis di Ohdio, OmAri juga banyak curhat bercerita tentang sejarah beliau di bidang teknis (ketauan umurnya) mulai dari VBScript, ActionScript hingga Javascript.

Sesi sharing selanjutnya diisi oleh Muhammad Ghazali atau yang biasa kita panggil dengan Ghanoz. Dalam sharingnya Ghanoz lebih terfokus pada pengembangan menggunakan NodeJS. Ghanoz membuka sharingnya dengan tulisannya Kalau ada yang bertanya apa itu Node.js tentang apa itu NodeJS, kelebihan-kelebihannya, dan tipe aplikasi yang relevan. Beberapa hal pendukung NodeJS yang juga diceritakan oleh Ghanoz antara lain ExpressJS sebuah web application framework untuk NodeJS, NodeUp podcast untuk NodeJS, Async utilities for Node.

Banyak sekali hal yang dibahas pada sesi diskusi, mulai dari penggunaan MongoDB pada NodeJS, desain dokumen MongoDB yang digunakan pada Ohdio, perbandingan mindset pada pemrograman asynchronous, hingga pemanfaatan WebSocket pada NodeJS dan PHP. Bahkan OmAri juga mendemokan contoh aplikasi sederhana untuk chatting menggunakan Node, Express, Socket.io, and Knockout.js.

Saya pribadi sangat senang dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh rekan-rekan dan saya optimis bahwa acara ini dapat rutin diadakan setiap bulannya. Pada akhir acara, saya melakukan survey tentang topik yang menarik untuk dibahas pada meetup selanjutnya. Rekan-rekan yang lain rupanya masih antusias untuk melakukan pembahasan yang lebih luas mengenai Javascript terutama bagian front-endnya karena pada meetup kali ini lebih banyak ke back-endnya. Dan kemungkinan besar OmAri akan menunjukan banyak sekali tips dan triknya.

Tunggu tanggal main selanjutnya. See you again!

Kindle Fire

Tulisan ini untuk memenuhi janji kepada teman-teman saya yang penasaran seperti apa sih itu Kindle Fire.

Jadi ceritanya minggu lalu saya menitip Kindle Fire ke salah satu rekan kerja yang sedang pulang dari Amerika Serikat. Awalnya saya ingin membeli Kindle Touch, karena tertarik dengan Kindle Touchnya punya Andra. Tapi begitu melihat situsnya Amazon, saya langsung tertarik dengan Kindle Fire yang saat itu masih pre-order. Kenapa? Alasan pertama adalah karena sudah berwarna dan juga dengan sistem operasi Android. Alasan kedua karena harganya hanya berbeda $100 daripada Kindle Touch yakni seharga $199.

Pesanan Kindle Fire

Seperti apa sih Kindle Fire itu?

Dari segi ukuran, Kindle Fire tidak terlalu berbeda dengan tablet-tablet berukuran 7 inchi lainnya. Tapi yang jelas jika saya bandingkan saat saya memegang tablet milik rekan saya, misalnya Galaxy Tab, beratnya juga tidak terlalu jauh berbeda. Hanya sedikit lebih ringan, tapi tidak terlalu kentara. Dan karena ukuran serta tebalnya yang sama, Kindle Fire ini dapat menggunakan case yang diperuntukkan bagi Galaxy Tab. Karena pada saat saya membelinya, Kindle Fire ini belum ada seminggu dirilis, maka saya terpaksa membeli case untuk Galaxy Tab.

Lalu kalau dilihat dari tampilan desktop, Kindle Fire ini cukup unik dibanding tablet-tablet Android. Beberapa tablet Android lainnya memiliki tampilan awal berupa Google search bar dan ikon-ikon aplikasi. Tapi tampilan desktop Android dari Kindle Fire ini dikustomisasi sehingga menyerupai rak buku. Rak pertama berisi aplikasi-aplikasi (terutama judul-judul buku, karena natur dari Kindle Fire ini yang fungsi utamanya sebagai e-book reader ketimbang multipurpose tablet PC) yang terakhir dibuka, dan rak-rak selanjutnya berisi aplikasi-aplikasi favorit. Menariknya, untuk shortcut dari e-book, ada semacam penanda seberapa jauh progres kita selama membaca buku tersebut.

Tampilan desktop di Kindle Fire. Di bagian kanan atas buku Heat Wave ada penanda "1%" yakni seberapa jauh saya sudah membaca buku tersebut.

Format buku-buku yang didukung oleh device ini dan yang sudah saya coba antara lain AZW (tentu saja, karena ini adalah format e-book Amazon) dan MOBI (Mobipocket). Selain itu Kindle Fire ini juga mendukung format dokumen seperti PDF, DOCX, dan lain-lain. Untuk bisa menggunakan format dokumen terakhir, kita dapat dengan mudah menyambungkan Kindle Fire ini ke komputer mentransfer berkas-berkas tersebut ke device layaknya flashdrive. Nantinya Kindle Fire akan otomatis mendeteksi berkas-berkas baru dan menaruhnya ke dalam kategori Book atau Docs. Selain itu juga Kindle Fire ini mendukung berkas multimedia seperti video dan musik.

Konten-konten seperti buku dan multimedia ini selain dapat ditransfer ke dalam device juga dapat diperoleh dengan membelinya di Amazon Store. Salah satu fitur yang menarik di sini adalah adanya integrasi dengan Amazon Cloud Drive. Konten-konten yang kita beli dari Amazon langsung disimpan di Amazon Cloud Drive lalu dapat kita unduh di Kindle Fire. Konten-konten ini akan terus disimpan di cloud sehingga kalau Kindle kita hilang, kita dapat tinggal membeli yang baru dan dapat kembali mengunduh konten-konten tersebut.

Tampilan e-book Kindle Fire

Membaca buku di Kindle Fire ini menurut saya cukup nyaman. Hanya saja kekurangan di Kindle Fire ini adalah layarnya masih memiliki pantulan cahaya, berbeda dengan di Kindle lain yang dilengkapi teknologi e-Ink sehingga tidak memiliki glare. Awalnya mungkin agak tidak terbiasa, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan nyaman selama kita dapat memilih tempat dengan pencahayaan yang cukup nyaman untuk membaca. Dan enaknya e-book readernya bisa kita konfigurasi untuk meningkatkan kenyamanan dalam membaca, seperti pengaturan ukuran tulisan, spasi antar baris, dan latar belakang. Untuk latar belakang, saya menyarankan memakai latar belakang hitam dengan warna tulisan putih yang menurut saya sangat nyaman untuk dibaca. Selain itu juga ada fitur bookmarking halaman serta notes jika kita ingin menulis catatan atau keterangan tentang bagian tertentu di buku.

Pencarian Kamus

Hal lain yang saya suka dari e-book readernya adalah adanya pencarian kamus yang terintegrasi. Saya suka membaca buku-buku fantasi dalam bahasa Inggris, tetapi karena penguasaan kosa-kata saya sangat buruk, saya seringkali harus bolak-balik antara buku dengan kamus bahasa Inggris yang dua-duanya sangat tebal. Tetapi dengan Kindle Fire ini, saya cukup memencet kata yang tidak saya mengerti, kemudian muncul kotak dialog yang berisi entri kamus dari kata tersebut yang berasal dari New Oxford American Dictionary. Selain lewat fitur tadi, kita juga dapat membuka kamus ini seperti layaknya buku lain.

Dibandingkan dengan tablet-tablet yang lain, Kindle Fire ini memang sangat minim fitur seperti tidak adanya kamera dan tidak bisa tersambung dengan jaringan 3G. Tapi paling tidak ada fitur-fitur WiFi dan headphone jack yang menurut saya sudah cukup. Sejujurnya adanya WiFi pun, menurut saya, agak mengganggu konsentrasi membaca karena setiap kali ada WiFi, saya selalu tergoda untuk membuka Facebook, Twitter, dan Plurk ketimbang membaca. Hehe. Yang jelas Kindle Fire ini buat saya yang senang membaca, benar-benar recommended banget lah karena fiturnya lumayan banyak dan juga harganya sangat terjangkau ketimbang tablet yang lain. 🙂

Java User Meetup Bandung Mei 2010

Sebagai salah satu dari banyak komunitas berbasis pengembang perangkat lunak, komunitas Java User Group Bandung (JUG-Bandung) memiliki motivasi untuk saling berbagi ilmu di antara anggotanya. Motivasi ini lah yang mendorong JUG-Bandung untuk mengadakan acara Java User Meetup (JAMU) untuk pertama kalinya. Acara ini diselenggarakan hari Sabtu 8 Mei 2010 lalu di Labtek Benny Subianto, ITB. Terselenggaranya acara ini adalah hasil kerja sama dengan Open Source User Meetup (OSUM) ITB dan Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB. Continue reading Java User Meetup Bandung Mei 2010

Java User Meetup Bandung Mei 2010

Java User Meetup atau JaMU adalah acara yang diadakan oleh Java User Group untuk belajar bersama mengenai sebuah topik dalam teknologi berbasis Java. JUG Bandung juga akan menginisiasi pengadaan acara serupa secara rutin untuk komunitas pengguna Java di kota Bandung dan tidak tertutup juga untuk kota-kota lain di provinsi Jawa Barat.

Tema yang diangkat kali ini adalah mengenai Google Web Toolkit (GWT). GWT adalah sebuah perangkat pengembangan aplikasi internet menggunakan AJAX. Topik ini akan dibawa oleh Muhammad Ghazali (Pengurus JUG Bandung)

Selain dari sharing knowledge tersebut, akan ada acara ramah tamah anggota komunitas dan juga sharing/brainstorming visi, misi, dan kegiatan JUG Bandung.

Acara akan diadakan pada
Hari : Sabtu, 8 Mei 2010
Waktu : 09.00 pagi s.d. selesai
Tempat: Ruang 7602, Gedung Labtek Benny Subianto lt. 3 Institut Teknologi Bandung

Kehadiran tidak dipungut biaya.

Harap konfirmasi kehadiran di
http://www.facebook.com/event.php?eid=113889095314931

Milis JUG-Bandung http://groups.google.com/group/jug-bandung

COMIC Februari 2010 : Komunitas Pengembang Menggalang Kebersamaan

Saya dan beberapa rekan JUG Bandung diundang untuk menjadi narasumber untuk acara COMIC dua hari yang lalu. Untuk yang belum tahu mengenai COMIC akan saya jelaskan sedikit. COMIC adalah sebuah acara yang mengumpulkan beberapa komunitas atau praktisi di Bandung untuk saling bertukar cerita, pengalaman, ide, dan wacana. Komunitas-komunitas yang diundang tidak hanya komunitas yang bergelut di bidang Teknologi Informasi ataupun bidang Multimedia, tapi juga komunitas lain yang menggunakan teknologi-teknologi untuk kegiatan mereka. COMIC sudah ada dari 2 tahun lalu. Rencananya memang selalu diadakan setiap bulan tapi karena satu dan lain hal baru diadakan 6 kali termasuk yang kemarin. Saya sendiri sudah pernah hadir 3 kali sebagai penonton ditambahkan 1 kali sebagai narasumber.

COMIC kali ini menggunakan tema “Komunitas Pengembang dalam Menggalang Kebersamaan“. Tema ini kebetulan saya yang menyumbangnya. Awalnya memang agak sulit untuk mencari narasumber yang berdomisili di Bandung. Saya sendiri juga tidak banyak mengikuti komunitas-komunitas pengembang. Yang saya tahu antara lain Java User Group Bandung, Open Solaris User Group Bandung, dan MySQL User Group Bandung. Mengundang 2 dari mereka menurut saya akan membuat acara tidak terlalu seru karena semuanya berada dalam satu bendera dan juga orang-orangnya itu-itu saja. Untunglah selain JUG Bandung diundang tim pengembang WordPress yakni mas Setyagus dan rekan-rekan.

Continue reading COMIC Februari 2010 : Komunitas Pengembang Menggalang Kebersamaan

Fitur Baru di Tumblr

Gw sekarang udah jarang menggunakan Tumblr, tapi gw tetap suka dengan konsepnya Tumblr. Inovasi adalah kuncinya. Tumblr adalah salah satu situs web yang terus memperbaiki dan menambahkan fitur-fitur baru. Salah satunya adalah yang tadi pagi gw baca yakni “Ask Me Anything”. Agak lucu karena konsepnya benar-benar mirip dengan Formspring.me.

Sepertinya Tumblr bisa dengan mudah mengalahkan Formspring. Karena membludaknya pengguna Formspring, situs ini belakangan sering mengalami kerusakan di basis data. Di saat seperti itu, Tumblr mengeluarkan fitur yang sama dengan keunggulan infrastruktur dan engine yang sudah terbukti. Dan lagi, pengguna Tumblr sudah jauh lebih banyak sehingga mungkin Formspring bisa kehilangan penggemar yang sudah sekaligus pengguna Tumblr. Sayangnya mungkin fitur “Ask Me Anything” dari Tumblr masih belum sebanyak Formspring. Akan lebih baik kalau Tumblr memberikan halaman khusus yang menampilkan hanya pertanyaannya saja.

Well, again. Feel free to ask me anything.

Fitur Facebook yang gak guna ituh..

Pertama-tama gw gak habis pikir kenapa sih Facebook ngasih fitur buat ngasi liat wall orang ke orang lain….

Setelah beberapa bulan, Facebook menambahkan fitur baru…. Yakni ngomentarin wall orang ke orang lain…. Fitur yang sama gak kalah pentingnya sama fitur di atas, menurut gw….

Dan pada akhirnya gw menyesali kebodohan gw…. Karena saat ini gw tau gunanya buat apa….

Haha

Facebook is the best lah!