Books, Diary, General, Intermezzo, My PC, Technology

Kindle Fire

Tulisan ini untuk memenuhi janji kepada teman-teman saya yang penasaran seperti apa sih itu Kindle Fire.

Jadi ceritanya minggu lalu saya menitip Kindle Fire ke salah satu rekan kerja yang sedang pulang dari Amerika Serikat. Awalnya saya ingin membeli Kindle Touch, karena tertarik dengan Kindle Touchnya punya Andra. Tapi begitu melihat situsnya Amazon, saya langsung tertarik dengan Kindle Fire yang saat itu masih pre-order. Kenapa? Alasan pertama adalah karena sudah berwarna dan juga dengan sistem operasi Android. Alasan kedua karena harganya hanya berbeda $100 daripada Kindle Touch yakni seharga $199.

Pesanan Kindle Fire

Seperti apa sih Kindle Fire itu?

Dari segi ukuran, Kindle Fire tidak terlalu berbeda dengan tablet-tablet berukuran 7 inchi lainnya. Tapi yang jelas jika saya bandingkan saat saya memegang tablet milik rekan saya, misalnya Galaxy Tab, beratnya juga tidak terlalu jauh berbeda. Hanya sedikit lebih ringan, tapi tidak terlalu kentara. Dan karena ukuran serta tebalnya yang sama, Kindle Fire ini dapat menggunakan case yang diperuntukkan bagi Galaxy Tab. Karena pada saat saya membelinya, Kindle Fire ini belum ada seminggu dirilis, maka saya terpaksa membeli case untuk Galaxy Tab.

Lalu kalau dilihat dari tampilan desktop, Kindle Fire ini cukup unik dibanding tablet-tablet Android. Beberapa tablet Android lainnya memiliki tampilan awal berupa Google search bar dan ikon-ikon aplikasi. Tapi tampilan desktop Android dari Kindle Fire ini dikustomisasi sehingga menyerupai rak buku. Rak pertama berisi aplikasi-aplikasi (terutama judul-judul buku, karena natur dari Kindle Fire ini yang fungsi utamanya sebagai e-book reader ketimbang multipurpose tablet PC) yang terakhir dibuka, dan rak-rak selanjutnya berisi aplikasi-aplikasi favorit. Menariknya, untuk shortcut dari e-book, ada semacam penanda seberapa jauh progres kita selama membaca buku tersebut.

Tampilan desktop di Kindle Fire. Di bagian kanan atas buku Heat Wave ada penanda "1%" yakni seberapa jauh saya sudah membaca buku tersebut.

Format buku-buku yang didukung oleh device ini dan yang sudah saya coba antara lain AZW (tentu saja, karena ini adalah format e-book Amazon) dan MOBI (Mobipocket). Selain itu Kindle Fire ini juga mendukung format dokumen seperti PDF, DOCX, dan lain-lain. Untuk bisa menggunakan format dokumen terakhir, kita dapat dengan mudah menyambungkan Kindle Fire ini ke komputer mentransfer berkas-berkas tersebut ke device layaknya flashdrive. Nantinya Kindle Fire akan otomatis mendeteksi berkas-berkas baru dan menaruhnya ke dalam kategori Book atau Docs. Selain itu juga Kindle Fire ini mendukung berkas multimedia seperti video dan musik.

Konten-konten seperti buku dan multimedia ini selain dapat ditransfer ke dalam device juga dapat diperoleh dengan membelinya di Amazon Store. Salah satu fitur yang menarik di sini adalah adanya integrasi dengan Amazon Cloud Drive. Konten-konten yang kita beli dari Amazon langsung disimpan di Amazon Cloud Drive lalu dapat kita unduh di Kindle Fire. Konten-konten ini akan terus disimpan di cloud sehingga kalau Kindle kita hilang, kita dapat tinggal membeli yang baru dan dapat kembali mengunduh konten-konten tersebut.

Tampilan e-book Kindle Fire

Membaca buku di Kindle Fire ini menurut saya cukup nyaman. Hanya saja kekurangan di Kindle Fire ini adalah layarnya masih memiliki pantulan cahaya, berbeda dengan di Kindle lain yang dilengkapi teknologi e-Ink sehingga tidak memiliki glare. Awalnya mungkin agak tidak terbiasa, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan nyaman selama kita dapat memilih tempat dengan pencahayaan yang cukup nyaman untuk membaca. Dan enaknya e-book readernya bisa kita konfigurasi untuk meningkatkan kenyamanan dalam membaca, seperti pengaturan ukuran tulisan, spasi antar baris, dan latar belakang. Untuk latar belakang, saya menyarankan memakai latar belakang hitam dengan warna tulisan putih yang menurut saya sangat nyaman untuk dibaca. Selain itu juga ada fitur bookmarking halaman serta notes jika kita ingin menulis catatan atau keterangan tentang bagian tertentu di buku.

Pencarian Kamus

Hal lain yang saya suka dari e-book readernya adalah adanya pencarian kamus yang terintegrasi. Saya suka membaca buku-buku fantasi dalam bahasa Inggris, tetapi karena penguasaan kosa-kata saya sangat buruk, saya seringkali harus bolak-balik antara buku dengan kamus bahasa Inggris yang dua-duanya sangat tebal. Tetapi dengan Kindle Fire ini, saya cukup memencet kata yang tidak saya mengerti, kemudian muncul kotak dialog yang berisi entri kamus dari kata tersebut yang berasal dari New Oxford American Dictionary. Selain lewat fitur tadi, kita juga dapat membuka kamus ini seperti layaknya buku lain.

Dibandingkan dengan tablet-tablet yang lain, Kindle Fire ini memang sangat minim fitur seperti tidak adanya kamera dan tidak bisa tersambung dengan jaringan 3G. Tapi paling tidak ada fitur-fitur WiFi dan headphone jack yang menurut saya sudah cukup. Sejujurnya adanya WiFi pun, menurut saya, agak mengganggu konsentrasi membaca karena setiap kali ada WiFi, saya selalu tergoda untuk membuka Facebook, Twitter, dan Plurk ketimbang membaca. Hehe. Yang jelas Kindle Fire ini buat saya yang senang membaca, benar-benar recommended banget lah karena fiturnya lumayan banyak dan juga harganya sangat terjangkau ketimbang tablet yang lain. :)

Standard
Technology

Java User Meetup Bandung Mei 2010

Sebagai salah satu dari banyak komunitas berbasis pengembang perangkat lunak, komunitas Java User Group Bandung (JUG-Bandung) memiliki motivasi untuk saling berbagi ilmu di antara anggotanya. Motivasi ini lah yang mendorong JUG-Bandung untuk mengadakan acara Java User Meetup (JAMU) untuk pertama kalinya. Acara ini diselenggarakan hari Sabtu 8 Mei 2010 lalu di Labtek Benny Subianto, ITB. Terselenggaranya acara ini adalah hasil kerja sama dengan Open Source User Meetup (OSUM) ITB dan Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB. Continue reading

Standard
Other, Technology

Java User Meetup Bandung Mei 2010

Java User Meetup atau JaMU adalah acara yang diadakan oleh Java User Group untuk belajar bersama mengenai sebuah topik dalam teknologi berbasis Java. JUG Bandung juga akan menginisiasi pengadaan acara serupa secara rutin untuk komunitas pengguna Java di kota Bandung dan tidak tertutup juga untuk kota-kota lain di provinsi Jawa Barat.

Tema yang diangkat kali ini adalah mengenai Google Web Toolkit (GWT). GWT adalah sebuah perangkat pengembangan aplikasi internet menggunakan AJAX. Topik ini akan dibawa oleh Muhammad Ghazali (Pengurus JUG Bandung)

Selain dari sharing knowledge tersebut, akan ada acara ramah tamah anggota komunitas dan juga sharing/brainstorming visi, misi, dan kegiatan JUG Bandung.

Acara akan diadakan pada
Hari : Sabtu, 8 Mei 2010
Waktu : 09.00 pagi s.d. selesai
Tempat: Ruang 7602, Gedung Labtek Benny Subianto lt. 3 Institut Teknologi Bandung

Kehadiran tidak dipungut biaya.

Harap konfirmasi kehadiran di
http://www.facebook.com/event.php?eid=113889095314931

Milis JUG-Bandung http://groups.google.com/group/jug-bandung

Standard
Diary, Technology

COMIC Februari 2010 : Komunitas Pengembang Menggalang Kebersamaan

Saya dan beberapa rekan JUG Bandung diundang untuk menjadi narasumber untuk acara COMIC dua hari yang lalu. Untuk yang belum tahu mengenai COMIC akan saya jelaskan sedikit. COMIC adalah sebuah acara yang mengumpulkan beberapa komunitas atau praktisi di Bandung untuk saling bertukar cerita, pengalaman, ide, dan wacana. Komunitas-komunitas yang diundang tidak hanya komunitas yang bergelut di bidang Teknologi Informasi ataupun bidang Multimedia, tapi juga komunitas lain yang menggunakan teknologi-teknologi untuk kegiatan mereka. COMIC sudah ada dari 2 tahun lalu. Rencananya memang selalu diadakan setiap bulan tapi karena satu dan lain hal baru diadakan 6 kali termasuk yang kemarin. Saya sendiri sudah pernah hadir 3 kali sebagai penonton ditambahkan 1 kali sebagai narasumber.

COMIC kali ini menggunakan tema “Komunitas Pengembang dalam Menggalang Kebersamaan“. Tema ini kebetulan saya yang menyumbangnya. Awalnya memang agak sulit untuk mencari narasumber yang berdomisili di Bandung. Saya sendiri juga tidak banyak mengikuti komunitas-komunitas pengembang. Yang saya tahu antara lain Java User Group Bandung, Open Solaris User Group Bandung, dan MySQL User Group Bandung. Mengundang 2 dari mereka menurut saya akan membuat acara tidak terlalu seru karena semuanya berada dalam satu bendera dan juga orang-orangnya itu-itu saja. Untunglah selain JUG Bandung diundang tim pengembang WordPress yakni mas Setyagus dan rekan-rekan.

Continue reading

Standard
Technology

Fitur Baru di Tumblr

Gw sekarang udah jarang menggunakan Tumblr, tapi gw tetap suka dengan konsepnya Tumblr. Inovasi adalah kuncinya. Tumblr adalah salah satu situs web yang terus memperbaiki dan menambahkan fitur-fitur baru. Salah satunya adalah yang tadi pagi gw baca yakni “Ask Me Anything”. Agak lucu karena konsepnya benar-benar mirip dengan Formspring.me.

Sepertinya Tumblr bisa dengan mudah mengalahkan Formspring. Karena membludaknya pengguna Formspring, situs ini belakangan sering mengalami kerusakan di basis data. Di saat seperti itu, Tumblr mengeluarkan fitur yang sama dengan keunggulan infrastruktur dan engine yang sudah terbukti. Dan lagi, pengguna Tumblr sudah jauh lebih banyak sehingga mungkin Formspring bisa kehilangan penggemar yang sudah sekaligus pengguna Tumblr. Sayangnya mungkin fitur “Ask Me Anything” dari Tumblr masih belum sebanyak Formspring. Akan lebih baik kalau Tumblr memberikan halaman khusus yang menampilkan hanya pertanyaannya saja.

Well, again. Feel free to ask me anything.

Standard
Intermezzo, Projects, Technology

Fitur Facebook yang gak guna ituh..

Pertama-tama gw gak habis pikir kenapa sih Facebook ngasih fitur buat ngasi liat wall orang ke orang lain….

Setelah beberapa bulan, Facebook menambahkan fitur baru…. Yakni ngomentarin wall orang ke orang lain…. Fitur yang sama gak kalah pentingnya sama fitur di atas, menurut gw….

Dan pada akhirnya gw menyesali kebodohan gw…. Karena saat ini gw tau gunanya buat apa….

Haha

Facebook is the best lah!

Standard
Opinions, Technology

Kenapa Web Standard?

Tugas besar Pemrograman Internet kali ini adalah untuk menyusun sebuah situs mirip jejaring sosial yang berisi profil-profil diri dari anggota kelompok yang terkait satu sama lain menggunakan hyperlink. Salah satu poin yang gw propose di spesifikasi tugas besar tersebut adalah Web Standard compliance.

Apa sih itu Web Standard? Web Standard adalah sebuah teknologi atau spesifikasi yang telah disusun untuk membuat atau menginterpretasikan konten berbasis web. Standar-standar ini didefinisikan terutama oleh World Wide Web Consortium. Setiap pengembang web seharusnya mengikuti standar yang telah ditetapkan tersebut. Dan untungnya Pak Riza, dosen yang bersangkutan, sangat setuju dengan adanya spesifikasi tersebut.

Kenapa sih harus ikut Web Standard?

Continue reading

Standard
Other, Technology

Design Your Software and Help our Nation

Mungkin para mahasiswa, khususnya jurusan IT, sudah tidak asing lagi dengan kompetisi Software Design di Microsoft Imagine Cup. Nah Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB dalam rangka acara besarnya yaitu ARKAVIDIA, mengadakan  sebuah Software Design Competition yang bertemakan “Future Public Service” . Kompetisi ini sendiri merupakan suatu ajang yang kompetitif untuk meningkatkan kepedulian terhadap “Future Public Service” di Indonesia dan kreatifitas mahasiswa dalam menciptakan suatu desain perangkat lunak yang mudah digunakan oleh masyarakat. Terlebih lagi di masa depan, layanan yang bersifat publik sudah seharusnya dikendalikan oleh otomatisasi berbasis komputer dan diharapkan dapat memberikan ide yang menarik untuk membantu kemajuan pelayanan publik di Indonesia pada khususnya.


Pendaftaran untuk lomba ini telah dibuka sejak awal Januari lalu dan masih akan dibuka hingga akhir Februari ini. Dalam lomba yang diperuntukan bagi seluruh mahasiswa di Indonesia ini, peserta bebas menggunakan teknologi yang digunakan (Java, .NET, dsb. tak terkendala bahasa) dan diperbolehkan menggunakan banyak teknologi sekaligus (interoperabilitas antar teknologi dapat menjadi nilai tambah dalam penilaian). Peserta diharuskan mengirimkan proposal perangkat lunaknya sebelum batas waktu yang ada,
Nantinya akan dipilih 10 finalis yang akan mempresentasikan karyanya di Expo ARKAVIDIA pada bulan April nanti. Hadiah untuk juara I bernilai 10 juta rupiah, sedangkan untuk juara II sebesar 5 juta rupiah, dan 3 juta rupiah untuk juara III. Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran dapat langsung mengunjungi website resmi ARKAVIDIA yaitu http://arkavidia.com.
So, ingin merancang software yang bisa membatu public service kita danmendapatkan hadiah yang besar? Langsung saja berpartisipasi! :D

Standard
Diary, Intermezzo, Technology

Ubuntu TOKI Remix

Photobucket Ubuntu TOKI Remix adalah paket LiveCD Ubuntu yang telah dikembangkan dan dipaketkan ulang untuk kebutuhan pembelajaran bagi siswa yang berminat di dalam bidang pemrograman untuk olimpiade komputer Indonesia. Berbeda dengan paket Ubuntu biasa, paket TOKI Remix ini berisi aplikasi-aplikasi standar yang dibutuhkan dalam pemrograman dan juga buku-buku pembelajaran serta soal-soal latihan.

Dengan menggunakan LiveCD ini siswa dapat belajar dan berlatih secara mandiri tanpa harus repot-repot melakukan instalasi aplikasi dan juga mencari-cari buku pelajaran dan soal-soal latihan. Siswa hanya tinggal memasang LiveCD pada komputer mana pun yang kompatibel (spesifikasinya tidak terlalu memberatkan) dan kemudian belajar dan berlatih pada lingkungan yang disediakan pada LiveCD.

Continue reading

Standard