Apa Sih itu #1 Non-Profit E-Commerce Consulting di Indonesia?

Membaca blog post dari bro Okto Silaban, tentang #1 Non-Profit E-Commerce Consulting di Indonesia, saya menjadi ikut berpikir, seberapa butuh e-commerce consulting di Indonesia?

Saya tidak punya data yang pasti, tapi saya cukup yakin dengan tingginya penetrasi internet dan mobile ke masyarakat, dunia e-commerce makin bertumbuh dengan pesat. Dari observasi pribadi saya melihat makin banyak masyarakat yang mencoba-coba untuk berjualan dengan fasilitas internet. Awalnya mengisi waktu luang dengan mengupload barang-barang pribadi yang bisa dijual di social media seperti Facebook, Twitter, Pinterest dan juga Instagram.

Hanya saja menurut saya bergantung pada social media sendiri itu tidak cukup. Penggunaan social media, hanya terbatas pada marketing dan itu pun hanya mengandalkan friend atau follower list yang sebelumnya telah dimiliki oleh si penjual. Memang dengan adanya kekuatan jaringan pertemanan dan kemudahan berbagi, penyebaran pemasaran ini menjadi semakin kuat. Akan tetapi pengembangan e-commerce tidak hanya terbatas pada marketing saja. Ada banyak hal lain mulai dari manajemen ketersediaan stok, pembayaran, customer service, dan juga logistik.

#1 Non-Profit E-Commerce Consulting di Indonesia
#1 Non-Profit E-Commerce Consulting di Indonesia

Ketika penjualan sudah semakin besar, tentu saja penjual membutuhkan lebih dari sekedar situs untuk mengunggah foto dan daftar harga. Untuk itu telah banyak layanan-layanan yang dibangun untuk memberikan jasa ini. Dengan layanan ini, penjual mendapatkan fasilitas-fasilitas secara lengkap. Fasilitas mendasar pada layanan ini tentu saja adalah memberikan situs pribadi dan dengan domain pribadi kepada penjual agar terlihat lebih profesional.

Strategi utama untuk mempromosikan situs e-commerce tersebut, selain mempromosikan di social media, adalah dengan melakukan Search Engine Optimization, atau sering disebut SEO. Layanan e-commerce yang saya sebutkan di atas tentu saja juga harus memperhatikan hal ini. Kalau tidak akan sangat sulit bagi pengguna agar bisa terekspos melalui search engine.

Sekarang memang sudah banyak layanan-layanan yang memberikan fasilitas ini. Yang cukup populer belakangan ini antara lain Sirclo.com, Pixtem.com, dan Shopify.com. Fitur-fitur yang ditawarkan pun beragam. Dan fitur-fitur yang ditawarkan pun lengkap, seperti yang sudah saya sebutkan, layaknya fitur pembayaran, manajemen pemesanan, dan layanan pelanggan.

Yang jelas, layanan-layanan di atas bertujuan untuk mengambil profit dari kepuasan pelanggan. Tetapi belakangan juga ada yang menyebut diri sebagai Non-profit E-Commerce Consulting. Ini agak membingungkan karena baru pertama kali saya mendengar istilah non-profit disandingkan dengan e-commerce maupun consulting. Tapi sangat salut ada yang masih peduli dengan perkembangan UKM di Indonesia ini sehingga mau membantu konsultasi hal-hal seperti Search engine optimization, kepada para UKM tanpa mendulang profit.

Jayalah selalu UKM Indonesia.

**disclaimer: this is just a internal joke. thank you bro okto for the idea.

(stock photo free from picjumbo.com)

Cerita dari Acara Bandung Engineering Meetup July 2013: Javascript Technologies

Kemarin, saya dan beberapa rekan-rekan engineer di Bandung mengadakan meetup kecil di BrusselsSpring Setiabudi yang bertajuk Javascript TechnologiesMeetup ini berawal dari ide saya, Arisetyo, dan Ghanoz yang ingin mengadakan acara sharing yang lebih technical. Di Bandung sendiri sudah ada komunitas yakni FOWAB yang isinya adalah para pelaku dunia dijital Bandung dari berbagai kalangan mulai dari entrepreneurdesigner, dan termasuk juga engineer.

Saya secara pribadi menilai FOWAB telah sangat sukses menarik minat banyak sekali masyarakat Bandung untuk terjun menjadi pelaku dunia dijital. Kesuksesan ini ditunjukkan dari banyak sekali acara-acara yang mengundang banyak sekali partisipan termasuk di antara GEEKFEST yang diadakan tahun lalu yang berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain di Bandung. Meski demikian beberapa rekan-rekan engineer merasa membutuhkan acara sharing yang lebih teknis sebagai tempat berbagi best practice dan solusi masalah teknis. Oleh karena itu saya mengajak rekan-rekan untuk menginisiasi acara ini.

Format acaranya cukup sederhana. Setiap meetup akan memiliki topik khusus, seperti kemarin “Javascript Technologies”. Nanti akan ada presentasi pembuka dari rekan-rekan engineer yang menggunakan teknologi tersebut untuk masalah yang dihadapi. Sharing akan dilanjutkan dengan diskusi. Rekan-rekan yang hadir bisa mengutarakan masalah yang sedang dihadapi dan kemungkinan solusi yang bisa ditawarkan oleh teknologi yang sedang dibahas. Biasanya di diskusi ini rekan-rekan yang lain juga bisa menawarkan solusi lain untuk masalah yang sama atau yang mirip yang pernah dihadapi.

Sesi sharing pada meetup kemarin dibuka oleh Arisetyo yang mejelaskan tentang teknologi Javascript yang digunakan di Ohdio.fm. Ohdio adalah sebuah layanan music streaming yang menyediakan playlist berdasarkan mood. Pengunjung dapat memilih playlist sesuai dengan mood seperti ‘sedih’, ‘senang’, ‘galau’, dll dan mendengarkan lagu-lagu yang disediakan.

Arisetyo, atau lebih sering dikenal sebagai OmAri, bergabung dengan Ohdio untuk membangun wajah baru dari Ohdio. Tantangan pertama yang dihadapi oleh OmAri adalah keputusan untuk melanjutkan arsitektur yang ada atau menggunakan teknologi yang sudah familiar. Teknologi yang digunakan pada wajah lama Ohdio adalah Python di atas Tornado.

Berhubung OmAri memiliki latar belakang front-end engineer yang banyak berkutat dengan ActionScript dan Javascript, OmAri memutuskan untuk membangun ulang menggunakan Javascript. Keputusan ini juga didukung oleh perubahan wajah khususnya perubahan konsep layanan serta model bisnis Ohdio. Teknologi yang dipilih adalah DurandalJS untuk front-end dan NodeJS untuk bagian back-end. Framework DurandalJS dipilih karena kemudahannya untuk digunakan dalam membangun Single Page Application. DurandalJS ini sendiri merupakan pembungkus teknologi Knockout, RequireJS, dan jQuerySelain membahas tentang tantangan-tantangan teknis di Ohdio, OmAri juga banyak curhat bercerita tentang sejarah beliau di bidang teknis (ketauan umurnya) mulai dari VBScript, ActionScript hingga Javascript.

Sesi sharing selanjutnya diisi oleh Muhammad Ghazali atau yang biasa kita panggil dengan Ghanoz. Dalam sharingnya Ghanoz lebih terfokus pada pengembangan menggunakan NodeJS. Ghanoz membuka sharingnya dengan tulisannya Kalau ada yang bertanya apa itu Node.js tentang apa itu NodeJS, kelebihan-kelebihannya, dan tipe aplikasi yang relevan. Beberapa hal pendukung NodeJS yang juga diceritakan oleh Ghanoz antara lain ExpressJS sebuah web application framework untuk NodeJS, NodeUp podcast untuk NodeJS, Async utilities for Node.

Banyak sekali hal yang dibahas pada sesi diskusi, mulai dari penggunaan MongoDB pada NodeJS, desain dokumen MongoDB yang digunakan pada Ohdio, perbandingan mindset pada pemrograman asynchronous, hingga pemanfaatan WebSocket pada NodeJS dan PHP. Bahkan OmAri juga mendemokan contoh aplikasi sederhana untuk chatting menggunakan Node, Express, Socket.io, and Knockout.js.

Saya pribadi sangat senang dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh rekan-rekan dan saya optimis bahwa acara ini dapat rutin diadakan setiap bulannya. Pada akhir acara, saya melakukan survey tentang topik yang menarik untuk dibahas pada meetup selanjutnya. Rekan-rekan yang lain rupanya masih antusias untuk melakukan pembahasan yang lebih luas mengenai Javascript terutama bagian front-endnya karena pada meetup kali ini lebih banyak ke back-endnya. Dan kemungkinan besar OmAri akan menunjukan banyak sekali tips dan triknya.

Tunggu tanggal main selanjutnya. See you again!

A Game of Thrones: The Board Game

A Game of Thrones: The Board Game

Dua bulan lalu saya membeli sebuah board game yakni A Game of Thrones. Para pecinta buku fiksi pasti tahu kalau judul ini tidak lain merupakan judul dari buku pertama seri A Song of Ice and Fire. Buku ini pun telah diangkat menjadi sebuah serial televisi dengan judul yang sama.

Saya sendiri cukup senang bermain board game, meski mungkin belum bisa dibilang penggemar berat board game. Beberapa board game yang pernah saya mainkan antara lain Citadels dan The Settlers of Catan. Cerita bagaimana saya membeli board game A Game of Thrones ini bermula dari permainan Citadels dengan teman-teman FOWAB. Jadi, hampir semua board game itu pasti ada semacam booklet yang berisi kumpulan board game. Ketika kami bermain Citadels, saya iseng-iseng membaca-baca booklet tersebut. Di situ saya menemukan ada board game A Game of Thrones. Karena saya sangat suka dengan buku seri A Song of Ice and Fire dan juga serial TV A Game Of Thrones, saya jadi penasaran dengan board game tersebut.

Setelah cari-cari sana sini, saya lihat kalau ada yang jual board game ini di Kaskus seharga sekitar 700 ribu rupiah. Tapi untungnya ada yang jual di Singapore yakni di toko board game bernama BOGAS dengan harga 78 SGD (atau sekitar 500 ribu rupiah). Dan saya pun bisa menitip ke rekan yang saat itu sedang pulang ke Indonesia.

Ini buku peraturan atau majalah?

Kesan pertama setelah membuka bungkus board game ini adalah: SUPER EPIC! Ini board game punya banyak sekali ornamen-ornamen, mulai dari token-token kecil dari karton, pion-pion, kartu, dan papan yang ukurannya benar-benar besar.  Belum lagi ditambah buku peraturan yang setebal majalah. Kalau dilihat dari awal, memang sudah sangat ketahuan kalau board game ini cara mainnya benar-benar kompleks.

 

Aksesori Permainan

Board game ini dapat dimainkan oleh tiga hingga enam pemain, tetapi sangat disarankan enam orang agar permainan semakin seru. Setiap pemain memegang sebuah House yakni antara lain Stark, Lannister, Baratheon, Greyjoy, Tyrell, dan Martell. A Game of Thrones: The Board Game ini mengambil cerita tepat setelah Robert Baratheon meninggal (meski tokohnya masih dapat dimainkan) dan di bagian awal The Wars of Five Kings, meski dalam board game ini Stannis Baratheon dan Renly Baratheon masih dianggap dalam satu pihak.

Tujuan utama dari permainan ini adalah untuk merebut sebanyak-banyaknya kastil yang ada di papan permainan. Pemenang permainan adalah pemain yang pertama kali meraih tujuh buah kastil atau memiliki kastil paling banyak pada akhir ronde 10. Papan permainan menggambarkan peta dari Westeros beserta daerah-daerah kekuasaannya mulai dari Winterfell, Pyke, Dragonstone, Lannisport (Casterly Rock disatukan dengan Lannisport di board game ini), Highgarden, hingga Sunspear.

Peta Permainan Yang Benar-Benar Luas

Dalam usahanya merebut wilayah-wilayah yang ada di Westeros, setiap House memiliki unit-unit perang mulai dari footman, knight, ship, dan siege. Jika ada dua House yang saling bertemu dalam sebuah wilayah, kedua House ini akan bertempur memperebutkan wilayah tersebut. Untuk memenangkan pertempuran ini, House dapat memanggil para tokoh dari House tersebut. Misalnya di House of Lannister, tokoh-tokoh yang dapat dipanggil antara lain Ser Jaime Lannister, Tyrion Lannister, Ser Gregor Clegane, dll. Di House Stark juga misalnya, tokoh-tokoh yang dapat dipanggil antara lain Eddard Stark, Robb Stark, dll. Setiap tokoh ini memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk menambah kekuatan pasukan ataupun kemampuan khusus untuk memberi keuntungan kepada pemain setelah pertempuran.

The Iron Throne

Para penggemar A Song of Ice and Fire pasti tahu kalau di seri ini hal yang sangat menonjol bukanlah peperangannya, tetapi segi politiknya. Begitupula dalam board game ini. Kekuatan pasukan bukanlah segalanya. Di dalam A Game of Thrones: The Board Game ini, politik lah yang memberikan arti kata “seru” dalam permainan. Setiap pemain dapat berkoalisi dengan pemain-pemain lain untuk melawan pemain (atau pemain-pemain) lain. Koalisi ini dapat berupa penyusunan strategi, bahkan permintaan bantuan pasukan dari House koalisi saat melakukan pertempuran melawan House musuh (dan koalisinya tentunya). Selain untuk pertempuran, strategi ini sangat penting karena setiap House memiliki keuntungan-keuntungan masing-masing dalam permainan. Misalnya, di awal permainan House Baratheon memegang keuntungan dalam bentuk posisi Iron Throne yakni keuntungan dalam inisiatif permainan, House Greyjoy memegang Fiefdom yakni keuntungan dalam kekuatan pasukan, dan House Lannister memegang King’s Court yakni keuntungan dalam bentuk mata-mata.

Ada kalanya di mana semua House harus menghentikan perseteruan dan bersatu untuk mengalahkan musuh bersama: The Wildlings. Di saat-saat seperti ini, semua House harus bekerja sama membantu The Night’s Watch untuk mencegah invasi dari para musuh yang berasal dari belakang The Wall. Memang mungkin ada beberapa House yang sangat egois dengan tidak mempedulikan ancaman Wildlings. Akan tetapi, selalu ada keuntungan bagi House yang memperhatikan keamanan Westeros dari Wildlings ini.

Sejak membeli Board Game ini, saya sudah bermain sebanyak 5 kali dengan teman-teman, terutama teman-teman di Hackerspace Bandung. Setiap permainan yang saya lakukan berlangsung sangat lama, terutama karena harus menjelaskan permainan kepada teman-teman yang lain. Biasanya permainan berlangsung sekitar 2 atau 3 jam. Benar-benar panjang dan cukup melelahkan. Tapi menurut saya permainan ini sangat seru, terutama karena ada faktor politiknya. Bagi rekan-rekan yang lebih suka board game yang sifatnya casual, board game ini tidak terlalu disarankan karena memiliki peraturan permainan yang sangat kompleks. Permainan ini benar-benar cocok untuk rekan-rekan yang menyukai strategi, intrik, serta politik di antara pemain.

When you play the game of thrones, you win or you die. There is no middle ground.” ~ Cersei Lannister.

(Beberapa foto adalah milik hapenya Dian Ara)

Kindle Fire

Tulisan ini untuk memenuhi janji kepada teman-teman saya yang penasaran seperti apa sih itu Kindle Fire.

Jadi ceritanya minggu lalu saya menitip Kindle Fire ke salah satu rekan kerja yang sedang pulang dari Amerika Serikat. Awalnya saya ingin membeli Kindle Touch, karena tertarik dengan Kindle Touchnya punya Andra. Tapi begitu melihat situsnya Amazon, saya langsung tertarik dengan Kindle Fire yang saat itu masih pre-order. Kenapa? Alasan pertama adalah karena sudah berwarna dan juga dengan sistem operasi Android. Alasan kedua karena harganya hanya berbeda $100 daripada Kindle Touch yakni seharga $199.

Pesanan Kindle Fire

Seperti apa sih Kindle Fire itu?

Dari segi ukuran, Kindle Fire tidak terlalu berbeda dengan tablet-tablet berukuran 7 inchi lainnya. Tapi yang jelas jika saya bandingkan saat saya memegang tablet milik rekan saya, misalnya Galaxy Tab, beratnya juga tidak terlalu jauh berbeda. Hanya sedikit lebih ringan, tapi tidak terlalu kentara. Dan karena ukuran serta tebalnya yang sama, Kindle Fire ini dapat menggunakan case yang diperuntukkan bagi Galaxy Tab. Karena pada saat saya membelinya, Kindle Fire ini belum ada seminggu dirilis, maka saya terpaksa membeli case untuk Galaxy Tab.

Lalu kalau dilihat dari tampilan desktop, Kindle Fire ini cukup unik dibanding tablet-tablet Android. Beberapa tablet Android lainnya memiliki tampilan awal berupa Google search bar dan ikon-ikon aplikasi. Tapi tampilan desktop Android dari Kindle Fire ini dikustomisasi sehingga menyerupai rak buku. Rak pertama berisi aplikasi-aplikasi (terutama judul-judul buku, karena natur dari Kindle Fire ini yang fungsi utamanya sebagai e-book reader ketimbang multipurpose tablet PC) yang terakhir dibuka, dan rak-rak selanjutnya berisi aplikasi-aplikasi favorit. Menariknya, untuk shortcut dari e-book, ada semacam penanda seberapa jauh progres kita selama membaca buku tersebut.

Tampilan desktop di Kindle Fire. Di bagian kanan atas buku Heat Wave ada penanda "1%" yakni seberapa jauh saya sudah membaca buku tersebut.

Format buku-buku yang didukung oleh device ini dan yang sudah saya coba antara lain AZW (tentu saja, karena ini adalah format e-book Amazon) dan MOBI (Mobipocket). Selain itu Kindle Fire ini juga mendukung format dokumen seperti PDF, DOCX, dan lain-lain. Untuk bisa menggunakan format dokumen terakhir, kita dapat dengan mudah menyambungkan Kindle Fire ini ke komputer mentransfer berkas-berkas tersebut ke device layaknya flashdrive. Nantinya Kindle Fire akan otomatis mendeteksi berkas-berkas baru dan menaruhnya ke dalam kategori Book atau Docs. Selain itu juga Kindle Fire ini mendukung berkas multimedia seperti video dan musik.

Konten-konten seperti buku dan multimedia ini selain dapat ditransfer ke dalam device juga dapat diperoleh dengan membelinya di Amazon Store. Salah satu fitur yang menarik di sini adalah adanya integrasi dengan Amazon Cloud Drive. Konten-konten yang kita beli dari Amazon langsung disimpan di Amazon Cloud Drive lalu dapat kita unduh di Kindle Fire. Konten-konten ini akan terus disimpan di cloud sehingga kalau Kindle kita hilang, kita dapat tinggal membeli yang baru dan dapat kembali mengunduh konten-konten tersebut.

Tampilan e-book Kindle Fire

Membaca buku di Kindle Fire ini menurut saya cukup nyaman. Hanya saja kekurangan di Kindle Fire ini adalah layarnya masih memiliki pantulan cahaya, berbeda dengan di Kindle lain yang dilengkapi teknologi e-Ink sehingga tidak memiliki glare. Awalnya mungkin agak tidak terbiasa, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan nyaman selama kita dapat memilih tempat dengan pencahayaan yang cukup nyaman untuk membaca. Dan enaknya e-book readernya bisa kita konfigurasi untuk meningkatkan kenyamanan dalam membaca, seperti pengaturan ukuran tulisan, spasi antar baris, dan latar belakang. Untuk latar belakang, saya menyarankan memakai latar belakang hitam dengan warna tulisan putih yang menurut saya sangat nyaman untuk dibaca. Selain itu juga ada fitur bookmarking halaman serta notes jika kita ingin menulis catatan atau keterangan tentang bagian tertentu di buku.

Pencarian Kamus

Hal lain yang saya suka dari e-book readernya adalah adanya pencarian kamus yang terintegrasi. Saya suka membaca buku-buku fantasi dalam bahasa Inggris, tetapi karena penguasaan kosa-kata saya sangat buruk, saya seringkali harus bolak-balik antara buku dengan kamus bahasa Inggris yang dua-duanya sangat tebal. Tetapi dengan Kindle Fire ini, saya cukup memencet kata yang tidak saya mengerti, kemudian muncul kotak dialog yang berisi entri kamus dari kata tersebut yang berasal dari New Oxford American Dictionary. Selain lewat fitur tadi, kita juga dapat membuka kamus ini seperti layaknya buku lain.

Dibandingkan dengan tablet-tablet yang lain, Kindle Fire ini memang sangat minim fitur seperti tidak adanya kamera dan tidak bisa tersambung dengan jaringan 3G. Tapi paling tidak ada fitur-fitur WiFi dan headphone jack yang menurut saya sudah cukup. Sejujurnya adanya WiFi pun, menurut saya, agak mengganggu konsentrasi membaca karena setiap kali ada WiFi, saya selalu tergoda untuk membuka Facebook, Twitter, dan Plurk ketimbang membaca. Hehe. Yang jelas Kindle Fire ini buat saya yang senang membaca, benar-benar recommended banget lah karena fiturnya lumayan banyak dan juga harganya sangat terjangkau ketimbang tablet yang lain. 🙂

Jangan Takut Daftar ITB!

“ITB mahal!”

“Dulu ITB murah ah!”

“Untung ya, saya masuk ITBnya dulu”

“Kalo gini ntar cuman anak-anak orang kaya aja yang bisa masuk ITB”

Begitu banyak komentar pesimis yang dilontarkan semua orang mulai dari calon mahasiswa, orang tua calon mahasiswa, hingga mahasiswa dan alumni ITB menanggapi kian mahalnya biaya untuk masuk ITB sekarang. Memang tidak terlalu berlebihan melihat, menurut situs USM ITB, biaya muka untuk kuliah di ITB lewat jalur SNMPTN Undangan pun sebesar 55 juta rupiah. Lebih besar dibandingkan USM ITB yang saya ikuti 5 tahun lalu.

Haruskah ITB mahal? Saya rasa harus. Mengutip sebuah komentar (yang juga merupakan kutipan) di profile Facebook saya,

“Pendidikan yg baik itu musti mahal harganya, yang jadi pertanyaan, siapa yg bayar?” Dwiwahju Sasongko, 2005, Dekan FTI.

Mungkin akan ada sangat banyak alasan mengapa biaya pendidikan harus mahal. Di antara semua itu, yang paling penting adalah untuk menjamin kualitas pendidikan mulai dari pembiayaan tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan tersebut. Dan yang selanjutnya adalah untuk memperlihatkan bahwa pendidikan bukanlah sebuah hal yang bisa diremehkan (“taken for granted“).

Akuilah, semakin mahal pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu, semakin kita menghargai hal tersebut dan semakin kita akan memanfaatkan hal tersebut sebaik-baiknya. Begitu pula pendidikan.

Dari apa saya amati, semua ketakutan yang diumbar para calon mahasiswa  tidak lain hanyalah alasan untuk menyembunyikan rasa tidak percaya diri terhadap kompetisi akademik demi meraih kursi ITB. Hanya karena merasa diri tidak mampu lantas semua hal tentang ITB dijelek-jelekkan. Tidak lah perlu dirisaukan masalah 55 juta untuk mendaftar ITB. Di situs USM sendiri disebutkan ada prosedur untuk meminta keringanan biaya untuk mendaftar. Selain itu ada banyak beasiswa yang akan menanti para mahasiswa yang membutuhkan. Yang penting fokus dalam meningkatkan kemampuan akademik untuk mengikuti ujian masuk. ITB selalu menghargai mereka yang berprestasi.

Selain itu melalui tulisan ini, saya mengajak para alumni ITB untuk terus mendorong adik-adik kelasnya agar mendaftar ITB tanpa perlu memusingkan perkara biaya masuk dan biaya kuliah untuk mendaftar ITB. Pendidikan yang telah kita dapatkan selama di ITB jauh lebih mahal. Jangan sampai banyak bibit-bibit unggul jadi enggan masuk ITB hanya karena pesimisme kita.

Untuk detil mengenai beasiswa yang ada di ITB, silakan baca artikel Jangan Takut Masuk ITB.

Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya

Setelah melalui banyak sekali kontroversi dari sekitar tahun 2002, mulai tahun ajaran ini USM ITB akan ditiadakan. Saya baru mengetahui berita ini sejak ada dengungan di twitter yang merujuk pada situs USM ITB. Di situs yang biasanya menampilkan berita mengenai prosedur pendaftaran USM ITB kini menampilkan pengumuman bahwa ITB hanya akan melaksanakan ujian masuk melalui SNMPTN.

Hal ini dilakukan sesuai dengan petunjuk Mendiknas no 34/2010. Dan kabar yang saya dapat dari Facebooknya Pak Rinaldi Munir menyatakan bahwa status BHP (Badan Hukum Pendidikan) ditiadakan dan ITB kembali menjadi sekadar PTN. Status BHP ini melindungi hak sebuah perguruan tinggi untuk mengadakan seleksi masuk tersendiri di luar ujian masuk terpusat (yang sejarahnya mulai dari SKALU, Sipenmaru, UMPTN, SPMB, dan sekarang menjadi SNMPTN). Sejak awal memang status BHP menuai banyak kritik terutama pada dua hal: sikap pemerintah yang seakan-akan melepas tanggung jawab dari usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan komersialisasi pendidikan yang berujung pada diskriminasi terhadap calon mahasiswa yang berhak untuk mengenyam pendidikan.

Continue reading Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya

Debat

Paling kesel kalo diajak debat dengan orang yang seperti ini. Mereka mengajak debat bukan untuk membicarakan apa yang benar, tapi untuk mengukuhkan apa yang mereka anggap benar. Terlebih lagi mereka yang hanya ingin mencari muka di depan orang lain. Just for gaining confident.

Ketika mereka berhasil memojokkan lawan debatnya, mereka tersenyum lebar dan merasa sebagai pemenang, terlepas dari apakah yang mereka pegang adalah benar dan apakah hal tersebut memang berguna bagi mereka di masa yang akan datang. Ketika mereka terpojok, mereka akan memutarbalikkan situasi menjadi seakan-akan mereka adalah orang tidak berdaya yang tertindas.

Orang-orang seperti ini akan menghabis-habiskan detik demi detik yang berharga dalam hidup kita. Menurut pengalaman, sangat mudah untuk mengidentifikasi orang seperti ini. Karena mereka hanya bertujuan untuk meraih kepercayaan diri terhadap apa yang mereka pegang, biasanya mereka hanya berputar-putar di sebuah argumen yang sama tak peduli argumen lawan apakah yang kita keluarkan.

Dan ini selalu mengarah kepada diskusi yang sangat tidak sehat.

Don’t waste your precious time for them. 🙂