Installing Android Ice Cream Sandwich on My Kindle Fire

So, what have I been doing in these long holiday? I don’t celebrate Eid ul-Fitr and I like it here in Bandung, so I practically don’t have anything important here. But I’ve been meaning to play with my Kindle Fire for weeks. And what I mean by “playing” is something you may call as “hacking” (although I don’t really see it as “hacking” since I just run some scripts made by other people). Before you read the rest, I want to warn you that this is not a guide or tutorial, just another blog post of my life.

They say you don’t really own your Android device until you “root” it. And why do I have to “root” my Kindle Fire other than for having fun? Since I bought it couple months ago, I only used it for browsing the Internet and reading books. Unfortunately because I couldn’t buy anything from Amazon, I only read books from my PDF collections (which are mostly academic papers) and from the Project Gutenberg site (they have so many great classic books there!). I thought I could add more things into my Kindle if I tried adding some stuffs. To add some stuffs outside Amazon, you don’t have any way other than to root the device and install Google Play in it. I thought I didn’t have anything to lose if I rooted it.

Seriously, I had no idea.

And then last night I searched for some tutorials then I found this article which directed me to the Kindle Fire Utility. At first I met some difficulties trying the KFU. Some of the steps I ran through didn’t match the one they wrote in the articles I found. I felt so stressed. But gladly, I realized that the KFU was written in batch script and I thought I knew some batch script. I opened the script and I tried running the script line by line manually until I found the error. Turns out there was some incompatibility between the command written in the script with the newest version of the additional tools used in the script. After searching here and there, I found the fix and I retried running the problem line.

Voila! My Kindle Fire was finally rooted. It showed different launcher and I could also install applications from Google Play. The smile in my face didn’t last very long. I tried installing some applications but the Google Play said that most of them were not compatible with my device.

I didn’t know if I had to be satisfied with that or not. It seemed that it was okay to stop at that point. I could still read books using my Kindle Fire and I didn’t lose anything other than the warranty from Amazon. But the Fire’s warranty had never meant anything since I got my hand on it and, on the bright side, I gained some EXP+ on rooting an Android device.

But then I thought I should try installing newer Android OS version. Although I only figured it out after I successfully installed it, at that time I guessed the reason that most of the applications in Google Play were not compatible with my device was because the Android OS running in the Fire was too old. Kindle Fire run a forked OS based on Android OS 2.3 Gingerbread. Android OS version naming is based on letter. Gingerbread starts with G, and the newest version, Jellybean, starts with J, and there are two letters H and I between them. I decided to install the I letter, Ice Cream Sandwich to my Fire and hoping that I could install applications from Google Play once I succeeded.

It was point of no return (a little bit exaggerating, there was an option to back up the system files). Once I installed the new OS, I might lose the Kindle application when I already felt so comfortable using the application to read. But no pain no gain. Again I searched for another tutorial. I found one in the same site. It turns out, once you already rooted the device, installing new OS is really easy. I just needed to put a zip file containing the ROM and some applications, install the zip file using the recovery application, and then reboot it.

My Kindle Fire running Ice Cream Sandwich

Done! My Kindle Fire is running the Ice Cream Sandwich now. Like I guessed, the device can now install many application from Google Play which were not compatible with the old OS. I lost the Kindle App, but you can settle by using alternative application such as Aldiko or Kobo (or you can spend extra effort searching for Kindle for Android APK file). About the performance, I don’t really see the difference if it’s faster or slower. But what I’m afraid of is the battery. Since I install a bunch of applications, I’m kind of afraid that the device will run out of its battery faster than it’s usual 8-hours. In the end, I pretty much like this new face of my Kindle Fire.

Kindle Fire

Tulisan ini untuk memenuhi janji kepada teman-teman saya yang penasaran seperti apa sih itu Kindle Fire.

Jadi ceritanya minggu lalu saya menitip Kindle Fire ke salah satu rekan kerja yang sedang pulang dari Amerika Serikat. Awalnya saya ingin membeli Kindle Touch, karena tertarik dengan Kindle Touchnya punya Andra. Tapi begitu melihat situsnya Amazon, saya langsung tertarik dengan Kindle Fire yang saat itu masih pre-order. Kenapa? Alasan pertama adalah karena sudah berwarna dan juga dengan sistem operasi Android. Alasan kedua karena harganya hanya berbeda $100 daripada Kindle Touch yakni seharga $199.

Pesanan Kindle Fire

Seperti apa sih Kindle Fire itu?

Dari segi ukuran, Kindle Fire tidak terlalu berbeda dengan tablet-tablet berukuran 7 inchi lainnya. Tapi yang jelas jika saya bandingkan saat saya memegang tablet milik rekan saya, misalnya Galaxy Tab, beratnya juga tidak terlalu jauh berbeda. Hanya sedikit lebih ringan, tapi tidak terlalu kentara. Dan karena ukuran serta tebalnya yang sama, Kindle Fire ini dapat menggunakan case yang diperuntukkan bagi Galaxy Tab. Karena pada saat saya membelinya, Kindle Fire ini belum ada seminggu dirilis, maka saya terpaksa membeli case untuk Galaxy Tab.

Lalu kalau dilihat dari tampilan desktop, Kindle Fire ini cukup unik dibanding tablet-tablet Android. Beberapa tablet Android lainnya memiliki tampilan awal berupa Google search bar dan ikon-ikon aplikasi. Tapi tampilan desktop Android dari Kindle Fire ini dikustomisasi sehingga menyerupai rak buku. Rak pertama berisi aplikasi-aplikasi (terutama judul-judul buku, karena natur dari Kindle Fire ini yang fungsi utamanya sebagai e-book reader ketimbang multipurpose tablet PC) yang terakhir dibuka, dan rak-rak selanjutnya berisi aplikasi-aplikasi favorit. Menariknya, untuk shortcut dari e-book, ada semacam penanda seberapa jauh progres kita selama membaca buku tersebut.

Tampilan desktop di Kindle Fire. Di bagian kanan atas buku Heat Wave ada penanda "1%" yakni seberapa jauh saya sudah membaca buku tersebut.

Format buku-buku yang didukung oleh device ini dan yang sudah saya coba antara lain AZW (tentu saja, karena ini adalah format e-book Amazon) dan MOBI (Mobipocket). Selain itu Kindle Fire ini juga mendukung format dokumen seperti PDF, DOCX, dan lain-lain. Untuk bisa menggunakan format dokumen terakhir, kita dapat dengan mudah menyambungkan Kindle Fire ini ke komputer mentransfer berkas-berkas tersebut ke device layaknya flashdrive. Nantinya Kindle Fire akan otomatis mendeteksi berkas-berkas baru dan menaruhnya ke dalam kategori Book atau Docs. Selain itu juga Kindle Fire ini mendukung berkas multimedia seperti video dan musik.

Konten-konten seperti buku dan multimedia ini selain dapat ditransfer ke dalam device juga dapat diperoleh dengan membelinya di Amazon Store. Salah satu fitur yang menarik di sini adalah adanya integrasi dengan Amazon Cloud Drive. Konten-konten yang kita beli dari Amazon langsung disimpan di Amazon Cloud Drive lalu dapat kita unduh di Kindle Fire. Konten-konten ini akan terus disimpan di cloud sehingga kalau Kindle kita hilang, kita dapat tinggal membeli yang baru dan dapat kembali mengunduh konten-konten tersebut.

Tampilan e-book Kindle Fire

Membaca buku di Kindle Fire ini menurut saya cukup nyaman. Hanya saja kekurangan di Kindle Fire ini adalah layarnya masih memiliki pantulan cahaya, berbeda dengan di Kindle lain yang dilengkapi teknologi e-Ink sehingga tidak memiliki glare. Awalnya mungkin agak tidak terbiasa, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan nyaman selama kita dapat memilih tempat dengan pencahayaan yang cukup nyaman untuk membaca. Dan enaknya e-book readernya bisa kita konfigurasi untuk meningkatkan kenyamanan dalam membaca, seperti pengaturan ukuran tulisan, spasi antar baris, dan latar belakang. Untuk latar belakang, saya menyarankan memakai latar belakang hitam dengan warna tulisan putih yang menurut saya sangat nyaman untuk dibaca. Selain itu juga ada fitur bookmarking halaman serta notes jika kita ingin menulis catatan atau keterangan tentang bagian tertentu di buku.

Pencarian Kamus

Hal lain yang saya suka dari e-book readernya adalah adanya pencarian kamus yang terintegrasi. Saya suka membaca buku-buku fantasi dalam bahasa Inggris, tetapi karena penguasaan kosa-kata saya sangat buruk, saya seringkali harus bolak-balik antara buku dengan kamus bahasa Inggris yang dua-duanya sangat tebal. Tetapi dengan Kindle Fire ini, saya cukup memencet kata yang tidak saya mengerti, kemudian muncul kotak dialog yang berisi entri kamus dari kata tersebut yang berasal dari New Oxford American Dictionary. Selain lewat fitur tadi, kita juga dapat membuka kamus ini seperti layaknya buku lain.

Dibandingkan dengan tablet-tablet yang lain, Kindle Fire ini memang sangat minim fitur seperti tidak adanya kamera dan tidak bisa tersambung dengan jaringan 3G. Tapi paling tidak ada fitur-fitur WiFi dan headphone jack yang menurut saya sudah cukup. Sejujurnya adanya WiFi pun, menurut saya, agak mengganggu konsentrasi membaca karena setiap kali ada WiFi, saya selalu tergoda untuk membuka Facebook, Twitter, dan Plurk ketimbang membaca. Hehe. Yang jelas Kindle Fire ini buat saya yang senang membaca, benar-benar recommended banget lah karena fiturnya lumayan banyak dan juga harganya sangat terjangkau ketimbang tablet yang lain. 🙂

Cerita dari Supir Taksi

Beberapa jam lalu saya pulang dari mall Cihampelas Walk setelah nonton film dan belanja. Gw berdiri di tepi jalan Cihampelas sambil bawa plastik besar berisi belanjaan. Dan beberapa jam lalu itu hujan cukup deras sementara gw menunggu taksi.

Dari Cihampelas Walk ini ke kosan gw di Cisitu Baru memang bisa ditempuh dengan menggunakan satu jalur angkutan saja. Tapi kemarin dan pagi tadi ada beberapa hal yang membuat badan gw serasa mau rontok. Karenanya gw males jalan agak jauh dan di bawah terpaan hujan untuk menaiki angkutan umum.

Sialnya, malam minggu seperti ini taksi kosong sepertinya jarang sekali lewat jalan Cihampelas ini. Atau kalaupun ada yang kosong, itu pun taksi yang kurang gw sukai. Bukannya gw milih-milih taksi tapi ada beberapa kejadian (ini dan ini) yang membuat gw hanya percaya dua merk taksi di Bandung ini: Blue Bird dan Gemah Ripah. Tapi kali ini gw pun dikecewakan oleh merk taksi yang kedua.

Jadi, setelah menunggu beberapa lama di bawah hujan (yang mana membuat gw makin menyesal kenapa gak jalan dikit aja buat nyari angkot pulant), gw menemukan taksi kosong. Setelah gw samperin, si supir taksi bertanya.

“Mau ke mana, A’?”
“Mau ke Simpang Dago!”
“Ah, gak mau. Macet!”

Supir taksinya langsung pasang muka cemberut buat mengusir gw keluar dari taksinya. Dan ini kejadiannya gw alami satu kali lagi. Gw merasa cukup maklum sih. Malam ini adalah malam minggu. Jalan-jalan di Bandung ini pasti selalu padat dengan mobil di malam minggu, entah itu mobil dari lokal ataupun mobil dari ibukota. Gw benci banget yang namanya nyetir dalam kemacetan. Oleh karena itu, karena gw enggan ngerepotin supir-supir ini makanya gw juga urung naik ke taksinya.

Sampai akhirnya gw menyerah dan bela-belain jalan ke angkot dengan resiko juga terpaksa nunggu angkotnya lewat ataupun angkotnya ngetem. Saat itu secercah harapan muncul dalam rupa lampu biru menyala terang menampakkan lambang burung angsa berwarna biru juga. Tanpa pikir panjang langsung gw panggil itu taksi dan gw naik ke dalam taksi itu.

Karena hari ini gw ngerasa bener-bener capek, gw mengistirahatkan mata sebentar saja. Setelah membuka mata, ternyata taksi yang gw tumpangi ini sudah berada di depan kebun binatang di pertigaan Taman Sari – Ganesha. Gw langsung mencoba membuat percakapan dengan supir taksi. Supir taksi Blue Bird ini memang terkenal sangat ramah dengan penumpang dan enak kalau diajak ngobrol. Gw bertanya

“Ini gak macet-macet banget khan tadi ya?”
“Iya, gak terlalu macet”
“Saya tadi dua kali mau naik taksi tapi ditolak mulu. Mereka gak mau karena macet.”
“Taksi yang mana?”
“Itu yang di depan”

Gw menunjuk taksi di depan taksi gw itu yang kebetulan taksi dari brand Gemah Ripah. Si supir taksi ini langsung mengiyakan.

Dia langsung bercerita alasan kenapa gw sampai ditolak dua kali. Jadi alasan dibaliknya itu adalah karena jarak antara Cihampelas dengan Cisitu itu terlalu dekat. Jadinya argo yang ditagihkan pastilah jumlahnya kecil. Nah, kata supir ini, supir-supir taksi yang lain itu biasanya merasa rugi kalau harus menagih argo yang nilainya kecil. Dan biasanya kalau tau seperti itu, supir-supir taksi tersebut langsung menawarkan “borongan” biar mereka tidak rugi.

Gw sebenernya gak tau juga sih alesannya kenapa mereka harus ngerasa rugi. Apa mungkin sistem mereka ini pakai persentasi dari tagihan argo? Atau malah mereka diwajibkan bayar setoran. Kalau kasusnya dua itu mungkin mereka ngerasa rugi banget kalau harus menagihkan biaya kecil. Supir taksi gw ini berpendapat, katanya kalau rute yang dituju cukup jauh, misalnya dari Cihampelas ke daerah suci, mungkin supir-supir taksi yang lain bersedia buat nganterin.

Setelah si supir menjelaskan hal-hal itu, taksi gw sudah nyampe ke depan kosan. Pengalaman ini membuat gw menambahkan peraturan setelah “Biaya taksi lebih murah daripada ojek untuk jarak dekat-menengah”, yakni, “Untuk jarak dekat pakailah Blue Bird. Sayang sekali armada Blue Bird ini masih belum terlalu banyak di Bandung (Di Jakarta, armada Blue Bird ini banyak sekali lalu-lalang) . Lain kali, harusnya naik angkot saja deh. 🙂

Movie Marathon: Devil, Daybreakers, Drive Angry, Centurion

Udah lama banget kepingin nulis salah satu aktivitas yang sangat gw sukai. Aktivitas ini gw namakan Movie Marathon. Karena gw jarang sekali jalan keluar kosan untuk ke tempat hiburan seperti mall, gw jarang sekali pergi ke bioskop. Makanya sekalinya ada kesempatan pergi ke mall, biasanya gw langsung gunakan untuk nonton beberapa film sekaligus.

Kenapa gak donlot? Menurut gw ada banyak kenikmatan yang gak bisa gw dapatkan dari nonton film donlotan ketimbang nonton di bioskop. Beberapa di antaranya karena gak ada AC, kursi (yang relatif) nyaman, ruang lega, tempat jualan popcorn, dan soundsystem yg enak di kamar kosan. Selain itu juga gw bisa ngeliat keramaian, cuman biar ganti suasana dari keseharian gw yg jarang ketemu orang.

Continue reading Movie Marathon: Devil, Daybreakers, Drive Angry, Centurion

Ada WiFi Ternyata…..

Sebagai orang yang bergelut di dunia Teknologi Informasi *seenggaknya itu mimpinya*, buat gw kebutuhan terhadap koneksi internet sudah berada sejajar dengan sandang, pangan, dan papan. Sebagai contoh gw pernah ngemper di depan kantor orang cuman buat numpang ngenet doang.

Dan karena gw butuh internet hampir di setiap waktu dan tempat, gw butuh tambahan peralatan. Ya, gak mungkin dong gw bawa-bawa itu desktop di kosan gw ke mana-mana. Jadinya gw punya sebuah laptop dan sebuah hape. Dan dua-duanya dilengkapi dengan penerima WiFi.

Tapi masalah yang timbul adalah bukannya gw jadi sering-sering bepergian malah kedua alat itu membuat gw tambah malas. Sebagai ilustrasi bayangkan desktop gw berada 2 meter dari tempat tidur. Kemudian bayangkan gw lagi guling-guling di tempat tidur. Dan terakhir bayangkan di deket kepala gw ada laptop yang nyala dan gw malah lagi ngenet pake hape. Tuh khan keliatan malesnya. 😀

Dan di sini gw menemui 2 masalah baru. Yang pertama adalah kalo pengen ngenet di hape gw mesti ngabis-ngabisin pulsa dan kedua adalah kalo pengen ngenet di laptop gw harus cabut kabel LAN dari desktop. Dan sebaliknya kalo gw lagi pengen ngenet di desktop harus cabut kabel LAN dari laptop. Bener-bener repot. Belum lagi kalo kabelnya kesenggol pas lagi donlot.

Satu-satunya pemecahan masalah tersebut adalah dengan membeli wireless router. Kalo ada itu khan gw bisa ngenet di sudut manapun di dalam kamar gw. Untuk itu gw pernah bolak-balik ke sana kemari buat nyari-nyari harga wireless router yang murah. Dan gw juga lagi berusaha menabung buat ngebelinya. Tapi emang dasar gw orangnya paling gak bisa nabung akhirnya setelah berbulan-bulan itu wireless router gak pernah kebeli.

Dan pagi ini ada hal yang mengejutkan.

Jadi ceritanya ada temen kosan yang termasuk senior juga di kosan gw. Mungkin sama-sama udah lebih dari 4 tahun berada di kosan ini. Kebetulan dia minta gw nunjukin sesuatu. Dan itu ada di laptop gw. Setelah gw tunjukin dia minta gw kirim.

Dan gw bingung mau ngirim pake apa. Di pikiran gw cuman ada 3 pilihan: nyabut kabel LAN, minta dia bawain flashdrive, atau mindahin datanya ke desktop terus ngirim online. Akhirnya gw milih yang pertama.

“Eh gw pindahin dulu kabel LANnya dulu ya. Susah neh. Dari dulu pengen beli wireless router gak jadi-jadi”
“Loh buat apa? Kosan kita khan punya.” kata temen gw dengan tenang….
Whaaaat???? “Sejak kapan gitu??”
“Udah lama banget kok”

Sudah hampir 4 tahun internet masuk kosan ini gw baru tau sekarang ternyata ada wireless router…….

Argh!!!

If You’re Not The One

This song keeps playing in my head for past few weeks……

If You’re Not The One

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?

I never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?

If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?

I don’t know life so far away
But I know that its just a trip
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I’m praying you’re the one I’Ve build my home with
I hope I love you all my life

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?