Tadi Malam Tiga Tahun Lalu

Malam tadi tiga tahun lalu, saya bersama beberapa rekan berkumpul minum-minum di salah satu lounge di Simpang Dago. Mungkin saat itu saya terlalu banyak minum atau saya terlalu larut dalam pembicaraan, saya tidak merasakan ponsel terus bergetar dari adik saya yang ingin mengabarkan bahwa Bapak malam itu masuk ICU. Saya menyadari runtunan panggilan tak terjawab di layar ponsel paginya. Dan itu pun sudah terlambat. Saya tidak sempat mendampingi Bapak menjelang saat akhirnya.

Saya hanya sempat mengucapkan “Aku sayang Bapak” berulang-ulang kali lewat telepon ke Bapak yang sudah tidak sadarkan diri. Saat itu saya masih di dalam bus travel yang terjebak macet di tol, hanya berjarak satu jam dari rumah sakit. Tiga puluh menit kemudian Bapak menghembuskan nafas terakhir. Tidak terkejar untuk melihat wajah Bapak yang masih hidup terakhir kali.

Ironinya, dalam pembicaraan di sela-sela alkohol malam itu, saya mengungkapkan ke teman-teman bahwa meskipun saat itu saya masih sendiri, saya ingin sekali cepat menikah karena Bapak saat itu sakit-sakitan. Saya ingin agar Bapak bisa sempat menyaksikan anaknya bahagia di pelaminan. Sehari setelah kepergian Bapak, salah seorang teman yang ikut dalam pembicaraan tersebut mengucapkan belasungkawa sekaligus mengingatkan tentang pembicaraan itu. Tidak ada terbersit pikiran atau firasat saya malam itu kalau Bapak akan pergi esoknya.

Mungkin memang sudah jalannya.

Leave a Reply