#JuliNgeblog Day 3: Back To Jakarta & Love-Hate Cititrans

Dua jam menjelang tengah malam. Hampir kelupaan kalau hari ini harus ngeblog dalam rangka #JuliNgeblog. Sebenarnya udah ada satu draft lagi untuk hari ketiga. Tapi karena kayaknya panjang banget makanya ini tulisan kilat saja.

Saat menulis ini gw udah balik di Jakarta. Perjalanan Jakarta Bandung ini gw lalui dengan menggunakan jasa travel favorit Cititrans.

Kalau membahas soal Cititrans, gw selalu punya perasaan love and hate dengan travel Jakarta-Bandung ini. Dan ini pernah gw tuangkan di tulisan “Dilema Di Atas Laju Cititrans” yang gw tulis lebih dari TUJUH tahun lalu. (Ternyata gw pelanggan setia Cititrans selama tujuh tahun. Gak terasa)

Perbedaan antara Cititrans tujuh tahun lalu dan yang sekarang gak terlalu banyak. Pertama, mobilnya jauh lebih bagus dan lebih nyaman. Meski gw merasa ada masalah dengan suspensinya, entah kenapa goyangannya terasa lebih keras dari mobil yang dulu digunakan. Kedua, poolnya jadi jauh lebih banyak dan menjangkau tempat-tempat populer yang sering gw datangi. Ada pool bandara juga! Ketiga, sudah ada mesin kopi/susu gratis di pool Dipati Ukur (tambahin yang di Kelapa Gading dong!) Keempat, sekarang udah gak ada poin yang akumulasinya bisa ditukar dengan tiket gratis (BOOOOO!!!!)

Satu hal yang masih sama adalah kecepatannya. Hari ini gw berangkat dari pool Dipati Ukur pukul 17.45, keluar di tol Pasteur kira-kira 20 menit selanjutnya karena harus ke checkpoint pool Pasteur. Dan sampai di Jakarta kira-kira pukul 20 kurang.

Tapi hari ini perjalanannya cukup memacu adrenalin sebelum akhirnya tertidur di KM80an. Bayangin aja hujan deras di mana-mana, supirnya ngebut sampe 105kmph, GPSnya gak diaktifin, mobilnya goyang-goyang (beneran loh, ini perlu dicek mobilnya kenapa guncangannya gak enak banget), hujan deras di mana-mana, mobil di sekeliling pake hazard lamp gak jelas mau belok kiri atau kanan, banyak yang salip sini dan sana, dan hujan deras di mana-mana.

Awalnya niat begitu naik mobil langsung tidur, malah adrenalinnya terpacu jadi susah tidur. Emang kalau udah di atas mobil Cititrans, kita lebih baik pasrah aja menyerahkan hidup kita di tangan pak supir. Upahnya Pak Supir besar di surga. Untunglah gw bisa nyampe di Kelapa Gading dengan selamat sentosa tidak kurang suatu apa pun.

Apakah gw masih ingin terus menggunakan Cititrans? Sure! Enggak kapok? Nope! Unless kereta cepat Jakarta-Bandung 30 menit sudah rampung dibuat, kayaknya gw bakal setia menggunakan Cititrans. I mean, mana lagi coba travel yang punya mobil senyaman itu dan supir mantan pembalap semua 🙂

2 thoughts on “#JuliNgeblog Day 3: Back To Jakarta & Love-Hate Cititrans”

Leave a Reply