Menghakimi Niat Orang Menulis di Blog

Sebuah tulisan yang dibagikan di timeline Facebook saya pagi ini membuat saya kembali ingin menulis di blog tercinta ini yang hanya setahun sekali diisi. Agak menohok memang tulisan tersebut yang menyindir pihak-pihak yang sering merasa bisa mengatur bagaimana orang seharusnya mencurahkan pikiran dalam bentuk tulisan di blog. Memang saya tidak termasuk ke dalam golongan tersebut. Tetapi dulu saya sering merasa sebagai orang yang sudah lama memiliki blog (yang bukan berarti sering menulis di blog juga).

Ada satu jenis blogger yang kala itu membuat saya merasa risih: blog seleb yang isinya banyak tulisan titipan berbayar dan banyak pamer goodie bag, hadiah atau foto-foto acara jalan-jalan wisata hura-hura dibiayai oleh sponsor. Sumpeh deh, tu orang enak banget sih dapet barang gratis, jalan-jalan, ini itu dibayarin! Itu penyebab risih yang pertama. Maklum, saat itu keadaan hidup masih kere. Well, relatif lebih kere daripada sekarang. Yang kedua adalah mengklik link ke blog orang itu rasanya seperti ketemu teman yang sudah lama tapi ternyata ybs menawarkan produk MLM.

Untuk rasa risih pertama, yang harus diperiksa adalah rasa ego kita. Kalau kita merasa pekerjaan ngeblog orang tersebut enak, lebih enak dibandingkan kita, mungkin kitanya saja yang sedang berada di pekerjaan yang salah. Well I know, mengganti pekerjaan tidak semudah mengganti baju. Tapi paling tidak kita harus sadari pekerjaan seperti apa yang kita inginkan, mungkin jalan-jalan dibayari sponsor, dan mencoba berjuang untuk meraih karir seperti itu.

Dan mungkin coba cek sebenarnya usaha orang tersebut seperti apa. Sering kali yang terlihat di kita adalah bagian yang menyenangkan saja. Di balik semua itu, usaha yang dikeluarkan sangat banyak. Wah, tapi khan dia gak kerja apa-apa? Ya, mungkin ybs memanfaatkan waktunya seharian untuk memikirkan konten blog selanjutnya sementara kita masih berkutat dengan pekerjaan harian kita. Tapi dia khan cantik, jadi sering dapat undangan? Usaha untuk jadi cantik khan lumayan mahal. Harus ke salon tiap minggu, tidur cepat, pakai make up mahal. Tapi khan tulisan dia emang lucu. Selain bakat, saya yakin ini juga bisa dipelajari dan diusahakan. Pertanyaannya, mau kah kita meluangkan waktu dan tenaga untuk ini?

Bukannya saya membela, sih. Saya sendiri belakangan ini juga sering sekali mendapat undangan untuk menghadiri acara atau jalan-jalan dengan sponsor dengan timbal balik tulisan. Dan juga beberapa kali dikontak oleh agency untuk melakukan paid review. Tapi ternyata membutuhkan usaha lebih untuk memikirkan konten yang pas: enak dibaca orang dan juga memberi manfaat bagi sponsor. Butuh banyak coretan, banyak usaha untuk mengambil foto, terutama waktu untuk melakukan hal itu. Jadi perlu diapresiasi usaha para blogger kondang yang terlihat enak tapi sebenarnya butuh perjuangan.

Intinya sih, kalau kita tidak suka dengan konten blog orang lain, tidak perlu dihakimi. Kecuali orang tersebut melanggar hukum atau mengganggu kedamaian orang lain dalam usaha menyusun konten blognya. Blog itu ranah pribadi orang, tempat orang mencurahkan pikirannya, curhatannya, pekerjaannya, apa pun itu. Ada orang yang isinya hanya curhatan, ada juga yang isinya review makanan, ada yang ingin menyalurkan bakat, ada yang ingin melucu, ada juga yang isinya memang paid review bersponsor. Ya, biarkan saja. Tidak perlu diatur-atur. Rejeki toh ada yang sudah mengatur.

Leave a Reply