Anak Dari Banyak Bapak

Selesai menulis kata pertama “Anak” dari judul tulisan ini di handphone saya, handphone ini berdering. Saya menerima panggilan dan menghabiskan belasan menit setelahnya bercengkerama dengan bapak. Bukan bapak kandung saya yang sudah hampir tiga tahun meninggalkan dunia ini. Bapak Tengah, saya menyebutnya. Bapak ini adalah abang kandung dari bapak saya, dan sudah saya anggap sebagai bapak saya sendiri mengisi kepergian mendiang bapak kandung saya.

“Jangan lupa kirim pulsa buatku, ya!” tutup Bapak Tengah mengakhir pembicaraan. Sebenarnya Bapak Tengah ini adalah orang yang mempunyai harta yang tidak sedikit, tetapi entah kenapa beliau selalu mengatakan ini.

Pekan ini dihebohkan oleh video seorang siswi yang mengancam polisi yang hendak menilang kalau dia adalah anak seorang jenderal. Sonya Depari namanya, mengaku anak sebagai anak dari perwira bernama Arman Depari. Ketika kehebohan berlanjut dengan klarifikasi bahwa sang jenderal hanya mempunyai anak lelaki, saya langsung berpikir, “Oh oke ngaku-ngaku, ternyata.” Tapi saya mempunya tebakan lain pula.

Berita pun berlanjut menyatakan bahwa sang jenderal telah menanyakan keluarga besar perihal ini dan ternyata Sonya adalah anak dari saudaranya. Bapak saya sendiri mempunyai banyak saudara dan saya sendiri pun tidak pernah hafal sepupu-sepupu saya. Setelah mendengar berita tentang klarifikasi jenderal, saya langsung tercerahkan. Tebakan saya terbukti benar.

Tidak ada yang bisa dibenarkan dari seseorang yang berbuat kesalahan dan mengaku sebagai saudara dari seseorang berpangkat tinggi. Tapi bukan hal ini yang ingin saya ceritakan.

Pernah suatu kali beberapa tahun lalu, saya diajak berkenalan oleh seseorang di sebuah acara di Medan. Orang tersebut mengatakan kalau dia pernah bertemu dengan “katanya anak Petra Barus.” Saya langsung kaget. Menikah saja saya belum pernah. Saya lalu mencoba menanyakan ke beberapa anggota keluarga besar atas nama yang diberikan. Usut punya usut, nama tersebut adalah keluarga yang sangat jauh, kalau tidak salah masih satu buyut. Berhubung orang tua dia setingkat dengan saya, maka dia mengaku sebagai anak saya.

Begitulah satu dari beberapa hal dari budaya Karo yang membuat saya sering kali menaikkan alis sebelah mata. Kita mempunyai banyak bapak.

Dua tahun lalu di bulan April, saya menghadiri pernikahan sepupu saya, anak dari dari kakak dari ibu saya di Siantar. Perjalanan ke acara tersebut sangat melelahkan dan juga emosional karena selain berita baik pernikahan sepupu saya ada juga berita sedih yang menyertainya. Dua hari sebelumnya saudara kandung dari mendiang bapak meninggal dunia menyusul bapak yang di November sebelumnya. Ada hal yang membuat saya menangis haru mulai dari perjalanan menuju bandara tentang mendiang paman saya, yang juga saya panggil Bapak, ketika menghadiri pemakaman mendiang bapak saya. Tapi mungkin saya ceritakan di lain kesempatan. Begitu lelahnya fisik dan batin saya, tengah malam hari saat saya tiba di tempat penginapan di samping tempat acara, hal pertama yang saya katakan ketika bertemu ibu saya yang sudah lebih dulu di acara adalah “Bapak di mana? Kok gak ada?”

Saya mengalami kesulitan untuk tidak kembali merasa emosional di hari selanjutnya, hari kedua pesta pernikahan sepupu saya. Sulit untuk pergi dari benak saya, bayangan suatu saat ketika berganti giliran saya yang duduk di pelaminan, ayah saya tidak bisa berdiri layaknya paman saya ini (yang juga saya panggil Bapak) untuk berbahagia dan memberikan restu. Tidak kuat menahan emosi, saya kembali ke kamar saya dan meringkuk di pojok kamar. Ibu saya dan bibi saya rupanya melihat saya dan kemudian mereka berusaha menghibur saya.

Acara pernikahan pun selesai malam itu dan pagi setelahnya saya pamit ke keluarga besar ibu saya dan saya pergi ke tempat keluarga besar bapak saya untuk mengunjungi tempat paman saya dimakamkan. Belum jauh perjalanan saya meninggalkan lokasi acara pernikahan, saya ditelepon oleh sepupu saya, abang dari pengantin pria.

“Petra, kam kok bodoh sekali”, Kam adalah kamu dalam Bahasa Karo

“Kenapa, bang?”, saya kaget dengan kalimat pembuka panggilan telepon.

“Kam, kok bodoh sekali. Kam gak tau ya, masih ada bapakndu di sini? Tau kam?” Rupanya sepupu itu mendengar cerita kalau saya menangis di kamar.

“…”

“Apa Bapak Tua itu bukan bapakmu juga??”. Dia menyebut bapaknya sendiri, ipar dari ibu saya.

“Iya bang..”

“Kam jangan bodoh ya. Masih ada bapakmu di sini. Kalau ada apa-apa, masih banyak bapak kam di sini. Bapak Uda pun masih ada”. Kali ini dia menyebut paman kami, suami dari adik dari ibu kami. “Jangan Abang dengar kam sedih lagi ya”

Sehari kemudian Bapak Tua, ayah dari dari abang ini, menelpon saya karena beliau juga mendengar cerita bahwa saya menangis ketika di acara. Hal yang sama juga diutarakan oleh beliau. Saya dapat menganggap Bapak Tua sebagai pengganti bapak saya sendiri dan beliau akan selalu ada untuk saya.

Berat memang ketika saya kehilangan seorang ayah, saya juga kehilang tempat mengadu dan tempat bertanya. Tetapi para bapak ini, ketika mendiang bapak saya telah dimakamkan, seakan-akan bersama-sama mengemban mantel seorang ayah. Bukan untuk memberi dukungan materi tentunya, karena saya sudah mandiri, tetapi dukungan moral. Mereka yang dulu hampir tidak pernah saya hubungi mulai menelpon saya setiap minggunya, mulai dari hanya menanyakan kabar, tempat bercerita, dan juga menjadi tempat saya untuk mencari jawaban ketika saya kehilangan arah.

Kekeluargaan yang unik dalam masyarakat Karo ini menunjukkan salah satu keindahannya. Panggilan bapak ke saudara dari orang tua kita bukan hanya sebatas panggilan tapi dalam arti sesungguhnya juga. Dan panggilan anak ke keponakan pun harus dianggap sebagai panggilan sesungguhnya. Kita sebagai ponakan harus menghormati mereka layaknya sebagai ayah sendiri. Dan kita di posisi mereka harus menyayangi keponakan kita layaknya anak sendiri.

2 thoughts on “Anak Dari Banyak Bapak”

Leave a Reply