Pantun Dibuang Sayang

Belakangan ini saya tiba-tiba kerasukan hobi lama: membuat pantun. Ketimbang pantunnya disimpan di evernote atau tumblr (yang sangat jarang dibaca orang lain) ataupun di Facebook (yang membuat susah dicari) dan blog ini pun jarang di-update, agaknya lebih baik kalau pantunnya disimpan di sini saja.

Dalam satu minggu ini ada dua pantun yang cukup menarik yang hinggap di pikiran. Temanya sama, mengucapkan selamat malam bagi seorang gadis yang sedang ada di hati.

Burung gelatik, indah bulunya. Pekat hitam, sungguh warnanya elok. Nona cantik, manis senyumnya. Selamat malam, sampai jumpa lagi esok.

Merona bulan menanti pagi. Mengusir kelam cahayanya gemerlap. Nona rupawan, wahai pujaan hati. Selamat malam, semoga terlelap.

Sampai sekarang masih merasa pemilihan diksinya dan komposisi suku katanya masih kurang pas. Tapi, ya itu, gunanya ditaruh di blog ya supaya nanti bisa ingat untuk memperbaiki pantunnya. Dan siapa tahu juga materinya bisa di-reuse untuk inspirasi pantun yang lebih baik.

Kenapa pantun? Menurut saya pribadi, mengarang pantun itu tidak lah beda dengan mengisi teka-teki silang. Ada sebuah permainan kreativitas untuk menyambung-nyambungkan kata agar enak didengar sekaligus memiliki makna yang indah untuk dinikmati. Bedanya dengan teka-teki silang (atau dengan teka-teki yang lain) adalah ketika sebuah permainan susun kata ini telah selesai, hasilnya bisa dinikmati berkali-kali. Dan setelah setiap susunan selesai, tingkat kesulitan akan semakin tinggi karena harus mencari variasi diksi baru. Lumayan menantang.

Leave a Reply