Komentar Saya tentang OSKM ITB Kemarin [REPOST]

Catatan: Tulisan ini sudah saya publikasikan di blog saya di Blogs.ITB, berhubung jaringan ITB sedang ada gangguan dan banyak yang ingin membaca, akhirnya saya publikasikan kembali di sini. Fasilitas komentarnya saya tutup biar diskusinya tidak terpecah. Yang ingin komentar bisa tunggu jaringan ITB kembali normal lagi besok. Link tulisan asli.

============

Kemarin saya mengunjungi ITB untuk beberapa urusan dengan mahasiswa Himpunan Informatika. Kebetulan kemarin juga ada acara upacara penyambutan mahasiswa baru ITB yang selanjutnya diikuti oleh OSKM. OSKM ini semacam ospek di ITB tapi target pesertanya seluruh mahasiswa ITB.

Meski saya menikmati menonton acara OSKM ini (cuci mata melihat mahasiswi-mahasiswinya :P ) saya pribadi merasa acara ini sudah tidak terlalu (atau mungkin memang tidak pernah) efektif. Beberapa alasan sudah ditulis oleh Pak Budi Rahardjo. Beliau mengomentari orasi yang dilakukan oleh panitia OSKM.

Saya sangat setuju dengan beliau. Dari jaman saya tingkat pertama, cara orasi komandan lapangan yang sudah tradisi turun temurun hingga sekarang itu sangat aneh. Kenapa sih harus kesannya galak dan terputus-putus. “Kalian…. Mahasiswa…. Mahasiswi… ITB….”. Sadar gak, sih kalau orasi seperti itu tuh aneh. Sama sekali tidak menyampaikan makna. Hanya menyebarkan rasa takut dan membuat drama. Terlalu banyak nonton sinetron.

Apa sih yang ingin ditanamkan dengan menyebarkan rasa takut seperti itu? Biar para mahasiswa siap mental dimarah-marahin di dunia kerja? Serius, itu alasan yang paling bodoh yang pernah saya dengar. Kenapa harus dari awal langsung dikondisikan para mahasiswa agar mereka siap untuk dimarah-marahi? Apa karena Indonesia ini sudah terlalu lama dijajah oleh Belanda? Apa karena bangsa kita ini sudah terlalu terbiasa menjadi budak negara-negara lain? Apakah kita sudah terlalu nyaman dengan kepercayaan diri yang rendah ketika ingin berkompetisi dengan orang-orang dari negara lain?

Dunia kerja memang keras, tapi saya merasa dimarah-marahi selama seminggu bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi dan mempersiapkan generasi muda ke masyarakat. Budaya masyarakat Indonesia seperti apa yang ingin kita bentuk dengan metode seperti itu?

Jadi, rakyat dikasih apa harusnya?

Saya melihat wujud mahasiswa ITB yang tidak memiliki integritas, wujud munafik, dan wujud orang-orang yang terlalu omong besar. Tradisi itu tidak pernah berubah. Ketika mahasiswa baru dimobilisasi dari upacara penerimaan di Sabuga ke pembukaan OSKM di Plasa Widya, mereka yang menamakan diri mereka sebagai “massa kampus” membentuk sebuah pagar untuk “menyambut” barisan mahasiswa baru. Mahasiswa baru datang dan lengkingan bertebaran di sana-sini.

Sembari menunggu download di Comlabs, saya menyempatkan diri untuk mengumpulkan teriakan-teriakan yang dilontarkan oleh massa kampus tersebut dan menuliskannya di Twitter.

“Selamat datang calon2 pengangguran ITB!!!”

“Jas almamaternya dipakeee!! Sayang udah dibeli mahal2!!”

“Eh itu jangan pegang2 tangan ya! Jangan curi2 kesempatan!”

“Berasa sudah santai ya masuk ITB??!!”

“Woi, yang cepet! Tapi jangan lari!”

“Ini namanya pemimpin global? Ini sih pemimpin gombal!”

“Bangga kalian sama jas almamater kalian?”

Dan satu adegan yang bikin saya kesal adalah dari barisan mahasiswa-mahasiswa berjaket hijau tapi bukan HMIF yang kebanyakan mahasiswi yang perilaku membuat kesal. Setiap ada yang lewat, mereka selalu berteriak, “Eh, kalian tau masalah bangsa ini gak? Kalian tau solusinya gak?” “Eh kalian khan mahasiswa ITB, harusnya bisa nyelesain masalah bangsa dong!“. Ketika terlihat ada mahasiswa baru yang senyum, ada mahasiswi yang berteriak, “Kalian senyum ketawa tapi rakyat menangis!“. Yang membuat sebal adalah ketika para mahasiswa baru sudah agak sepi, kumpulan mahasiswi ini ketawa-ketawa bercanda sendiri.

Segitu mudahnya mereka membawa-bawa rakyat dan negara ini hanya untuk kepentingan dramatisasi ospek?

Kelompok mahasiswi yang kelakuannya bikin geleng-geleng kepala.

Yang terakhir, saya selalu mempertanyakan kenapa sih para panitia OSKM ini nampaknya selalu mengkondisikan diri sebagai oposisi dari rektorat. Seakan-akan rektorat itu adalah pemerintahan yang opresif yang harus dilawan dengan anarki. Apakah memang mahasiswa harus selalu menjadi pemberontak terhadap aturan-aturan rektorat?

Saya menulis seperti ini bukan karena saya tidak suka acara OSKM. Tujuannya memang bagus untuk mengumpulkan semua mahasiswa ITB dan menjalin kekerabatan antar mereka (biarpun saya sendiri juga akhirnya lupa sama orang-orang yang saya kenal di OSKM, tapi memang sesuatu yang tidak berguna bagi saya bukan berarti tidak berguna bagi orang-orang lain.). Saya melihat acara ini sudah terlalu mentradisi (sangat ironi bagi mahasiswa yang katanya agent of change tapi akhirnya terjebak dalam tradisi yang dibuat oleh pendahulu), sudah terlalu banyak drama, sudah terlalu banyak kemunafikan.

Dan pertanyaan saya, memang perlukah tradisi seperti ini diteruskan?

*NB*:

Mungkin saya perlu menulis juga tentang latar belakang saya ketika menjadi mahasiswa. Saya masuk ITB dari jalur khusus yang bayar 45 juta. Dan saya bukan mahasiswa yang aktif di himpunan ataupun di KM ITB. Saya tidak pernah tertarik ikut jadi panitia ospek himpunan maupun ospek ITB. Saya hanya aktif di sebuah unit tenis meja (bukan tergolong unit-unit keras seperti Menwa dan vokal seperti PSIK). Ketika itu saya mengemban amanah menjadi ketua unit yang hampir dilupakan oleh semua calon presiden KM ITB di tahun tersebut. Saya juga bukan mahasiswa berprestasi, tapi untungnya IPK saya masih di atas rata-rata angkatan. Selain jadi ketua unit saya banyak sibuk di beberapa proyek serta riset dosen. Di samping itu juga saya sering menjadi freelance programmer untuk menambah uang jajan dari orang tua . So, feel free to judge me afterwards.