Hari Ini Gak Ngoding Sama Sekali

Di pagi hari pertama di bulan Ramadhan, di saat orang-orang lain masih banyak yang menggerutu karena malas pergi ke kantor yang agaknya memang selain karena bulan puasa hari ini pun adalah hari Senin, hari yang paling dibenci umat dari kelas pekerja, saya bangun dengan sangat bersemangat karena merasa sudah lama tidak beraktivitas seperti seharusnya. Seminggu berlibur di Pattaya (tulisan tentang liburan ini masih dalam draft) membuat saya, tidak seperti biasanya, ingin mengerjakan pekerjaan yang sudah tertunda-tunda karena liburan tersebut.

Tetapi rupanya semesta berusaha berkonspirasi agar hari ini saya tidak ngoding.

Pagi ini sebelum saya sampai di kampus, saya menghabiskan banyak sekali waktu untuk menuntaskan pekerjaan yang paling penting bagi umat manusia: makan. Beberapa menit berjalan dari kos, saya menginjakkan kaki di pertigaan jalan Dago – gang Cisitu Baru. Bayangan menu-menu makanan yang akan dipilih tiba-tiba digantikan oleh pemandangan kosong. Tidak ada satupun pedagang yang berjualan di jalan Dago. Kemarin saya sadar bahwa hari ini adalah hari pertama puasa, tetapi saya lupa mengantisipasi bahwa saya seharusnya sudah menyiapkan sarapan seperti yang biasa saya lakukan di bulan-bulan puasa lalu.

Akhirnya saya berjalan ke arah Dago atas, sampai menyerah karena tidak menemukan satu pun pedagang makanan. Pilihan yang tersisa adalah McDonalds dan Circle K Dago, yang satupun tidak saya pilih karena pagi ini saya ingin makan nasi dan daging tapi tidak semahal McDonalds. Saya kembali berjalan, kali ini sampai gerbang belakang ITB di jalan Taman Sari. Semua penjaja makanan di sana saya datangi. Saya sibak pintu-pintu kain mereka satu per satu. Ada yang ternyata memang tidak buka, ada juga yang masih baru masak, ada yang sudah masak tetapi saya kurang suka dengan menunya – hey, saya masih punya hak untuk memilih makanan, toh? Sampai di sebuah warung yang menunya sederhana, saya memutuskan untuk menghentikan pencarian. Terlalu membuang-buang waktu.

Sesampai di laboratorium, saya kira saya bisa memulai pekerjaan dengan tenang. Tapi ternyata tidak. Jaringan Labtek V yang tercinta ini ternyata down. Down! Saya tidak bisa mengakses apa-apa. Saya baru teringat kalau tadi malam ada orang di facebook group-nya TOKI yang komplain kalau situs TOKI Learning Center tidak bisa diakses sama sekali. Saya kira ini masalah yang sifatnya lokal, hanya yang bersangkutan yang tidak mengakses situs tersebut.

Beberapa hari yang lalu ketika saya masih berlibur di Pattaya, saya membaca di FB group kalau situs TOKI Learning Center tidak bisa diakses. Tidak kebayang bagaimana paniknya saya dan Karol (pengembang TOKI Learning Center juga) yang merasa tidak bisa apa-apa karena servernya ada di ITB sementara kami ada di Pattaya. Belum lagi ditambah kenyataan bahwa Pak Adi ternyata tahu kalau situsnya tidak bisa diakses. Saya jadi tambah stres. Pasalnya server TOKI itu tempat tiga situs berada: situs resmi ITB Programming Contest, situs resmi TOKI, dan situs TOKI Learning Center.

Oleh karena itu sehari setelah saya tiba di Bandung, saya langsung ke kampus untuk melihat keadaan server. Saat itu saya merasa sebagai orang yang benar-benar berdedikasi demi kemajuan anak-anak bangsa ini. Agar mereka bisa berlatih di situs untuk meningkatkan kemampuan pemrograman mereka, saya rela berjalan kaki di siang yang sangat panas ke kampus yang sepi di hari libur itu sehari setelah saya pulang dari tempat jauh hanya untuk menyalakan server.

Oke, jadi apa yang terjadi dengan server TOKI?

Begini ceritanya. Hari Kamis lalu, menurut penuturan Pak Maman staf TU Program Studi Labtek V yang menjadi saksi utama di hari kejadian sekaligus orang yang menolong saya dengan membukakan ruang server IF, ITB mengalami gangguan listrik. Gangguan ini berlangsung selama 30 menit. Seharusnya pada saat gangguan listrik seperti ini, komputer yang bekerja sebagai server memiliki kemampuan “failsafe” salah satunya adalah secara otomatis menyalakan dirinya sendiri serta menjalankan ulang seluruh fungsinya setelah listrik kembali menyala. Dan saya tahu, sebagai orang yang memiliki kuasa penuh terhadap server TOKI, bahwa server tersebut memiliki kemampuan tersebut. Tapi ternyata server ini kembali mengecewakan saya. Sebenarnya server ini memiliki kemampuan untuk power restarting kalau terjadi mati lampu. Mau tahu apa yang terjadi?

Server ini ternyata berhenti di menu pemilihan sistem operasi di GRUB. Jadi ternyata selama 3 hari tersebut server sebenarnya sudah menyala tapi tidak pernah sampai ke sistem operasi. Yang anehnya, seharusnya menu pemilihan ini memiliki penghitung mundur sehingga kalau tidak ada manusia yang secara manual memilih sistem operasi, server akan secara otomatis memilih sistem operasi yang sudah ditentukan. Saya segera memperbaikinya dan mengujinya. Seharusnya sudah tidak ada masalah lagi.

Tapi malam tadi saya melihat ada laporan bahwa situsnya kembali tidak bisa diakses dan Brian pun langsung menghubungi saya melalui BBM. Saya langsung merasa sebal karena siangnya saya sudah pergi ke kampus untuk troubleshooting. Pagi ini pun tanpa perlu tahu keadaan server, saya langsung tahu alasan kenapa situs tidak bisa diakses. Jaringan labtek V down. Dan saya pun sampai agak siang mati gaya di depan komputer karena tidak bisa melakukan apa-apa.

Setelah sudah agak siang, jaringan labtek V pun sudah berfungsi kembali. Mungkin karena para staf dukungan teknis, pak Sudiarto dkk, sudah berada di tempat, menyadari ada masalah di jaringan, kemudian memperbaiki masalah jaringan tersebut. Situs TOKI Learning Center pun sudah bisa diakses secara normal. Dan saya pun menyingsingkan lengan baju, bersiap untuk menulis berbaris-baris kode hari ini. Tapi ternyata tidak bisa.

Sebagai orang yang menggunakan lebih dari satu komputer dalam menulis kode, saya menggunakan repositori kode secara online untuk menyimpan kode sehingga bisa diambil di komputer manapun selama masih terhubung dengan internet. Kode dari proyek yang ingin saya kerjakan hari ini saya simpan di BitBucket.org, salah satu situs penyimpan kode yang menyediakan fitur repositori privat sehingga kode saya tidak bisa dilihat oleh orang lain. Maklum, proyek ini adalah proyek komersial, sehingga saya tidak bisa membuka kodenya untuk publik.

Anehnya saya tidak bisa mengakses kode yang sudah saya simpan di sana. Setiap kali saya mencoba mengeksekusi perintah “hg clone”, terminal selalu memberikan pesan “407 Error” yang mana pesan tersebut berarti autentikasi proxy-nya gagal dilakukan. Aneh memang. Saya tidak pernah merubah konfigurasi apapun di iMac laboratorium. Saya pun mencoba dua buah komputer lain di laboratorium, ternyata hasilnya sama. Kegagalan autentikasi proxy. Karena saya tidak tahu masalahnya ada di mana, dan kalaupun masalahnya ada di jaringan saya pun tidak tahu bagaimana cara melaporkannya, saya memutuskan untuk menulis pertanyaan di StackOverflow.com. Bagi yang ingin melihat pertanyaannya, bisa melihat di link ini. Mohon kalau ada yang mengerti, silakan menjawab.

Jam makan siang pun tiba. Saya yang siang ini sudah penuh dengan perasaan stres, tidak ingin ambil pusing dengan memilih-milih tempat makan lagi. Saya langsung menuju McDonalds. Tempat makan yang sudah pasti buka di siang hari di bulan puasa. Agak mahal sih memang, tapi daripada tidak makan sama sekali siang ini. Ketika saya tiba di McDonalds, masalah mahal atau tidaknya sudah tidak menjadi masalah lagi karena ada masalah baru: McDonalds Penuh! Setelah pengamatanan selama hampir 7 tahun di Bandung ini, saya yakin di bulan-bulan puasa, pendapatan McDonalds bukannya berkurang malah justru makin memuncak. Dalam radius 1 kilometer, McDonalds mungkin kehilangan lebih dari 9 dari 10 pesaingnya yang memutuskan tidak berjualan di bulan puasa karena ingin menghormati orang yang ibadahnya ingin dimudahkan.

Oh, come on. Saya benar-benar bingung dengan alasan “menghormati orang puasa’ yang digunakan oleh para penjaja makanan yang tidak berjualan di bulan puasa. Alasan “pendapatan berkurang” mungkin saya masih bisa maklumi. Kalau berjualan di bulan puasa, apa akan ada rombongan orang-orang pembela agama yang mendatangi warungnya kemudian melempari dengan batu?

Karena McDonalds penuh dan saya juga sudah terlalu malas untuk mengantri, saya pulang ke kosan. Saya berpikir untuk memulai pekerjaan saya, yang seharusnya sudah berjam-jam saya kerjakan, di kosan. Tapi kembali, melihat kondisi kos saya saat itu, saya tidak yakin saya bisa melakukan pekerjaan saya dengan tenang. Kenapa? Karena ada orang tua dan adik saya di kamar saya.

Seperti kebanyakan programmer lain, dan mungkin kebanyakan profesi pada umumnya, saya hanya bisa berkonsentrasi jika di sekeliling saya sepi, tidak ramai, dan lebih baik lagi kalau tidak ada orang sama sekali. Tetapi ini ada ibu saya yang, sialnya, senang sekali berbicara, dan adik saya yang, sialnya juga, berusaha untuk membujuk saya membantu TAnya. Di tulisan ini saya tidak ingin menulis hal-hal yang terjadi di dalam keluarga saya apalagi itu menyangkut kejelekan anggota keluarga saya. Yang jelas, saya yakin saya tidak akan bisa berkonsentrasi jika saya bekerja di kamar kos.

Dan saya pun kembali ke labtek V dengan perut sangat lapar. Tidak biasanya telat makan sekitar satu jam membuat saya lapar. Ada sesuatu dalam bulan puasa ini yang membuat rasa lapar biasa menjadi sangat lapar. Entah itu karena akumulasi rasa lapar yang dirasakan orang-orang sekeliling. Ataukah karena imajinasi makan besar di malam hari membuat orang semakin lapar dan ingin mempercepat waktu.

Siang ini, Karol dan Lisa mengajak saya makan di Warung Pasta. Saya langsung setuju. Saya ingat bahwa di Warung Pasta ada Wi-fi. Jadi sepertinya saya bisa melanjutkan pekerjaan saya. Saya berencana untuk memanfaatkan Wi-fi di Warung Pasta untuk mengambil kode saya di repositori online ke dalam netbook yang saya pinjam dari Pak Adi. Setelah itu saya akan memindahkan kodenya ke komputer di laboratorium untuk bekerja. Dan saya pun melakukan itu.

Rencana berhasil. Saya sudah memindahkan kode saya ke iMac di laboratorium. Salah satu keuntungan distributed code versioning system seperti Git ataupun Mercurial yang saya gunakan adalah mereka bisa membuat banyak repositori yang tidak terlalu bergantung satu sama lain tetapi isinya bisa dikombinasikan. Dengan demikian kode hasil pekerjaan saya di iMac dapat dengan mudahnya ditambahkan ke kode yang ada di netbook yang nantinya akan ditambahkan kembali ke repositori online.

Di sini lah saya makin yakin bahwa ada konspirasi. Meski saya sudah memegang kodenya, saya tidak bisa langsung dengan mudah melakukan pekerjaan saya. Untuk melakukan pekerjaan, saya tidak hanya membutuhkan kode, tetapi saya juga membutuhkan webserver untuk mencoba kodenya. Sial, di iMac ini entah kenapa saya tidak bisa menjalankan XAMPP yang sudah saya install beberapa minggu lalu. Sebelumnya saya menggunakan XAMPP ini tidak ada masalah. Entah kenapa kali ini iMac ini meminta username/password dari admin iMac.

Saya langsung menanyakan seluruh asisten lab programming yang sedang ada di ruangan ini tentang username/password dari user admin iMac ini. Sebenarnya masih ada komputer lain, tetapi komputer itu lagi dipakai oleh Karol, dan saya juga tidak bisa memrogram menggunakan netbook. Tidak ada satupun dari asisten lab programming yang ada di ruangan mengetahui perihal yang saya tanyakan. Dan saya pun langsung mengSMS Mita, koordinator asisten, menanyakan hal yang sama. Dan balasan dari Mita menyatakan bahwa password iMac diubah agar tidak bisa diakses orang yang bukan asisten lab programming. Saya langsung merasa agak tersindir. Masalahnya adalah, biarpun saya S1 di IF ITB ini, dosen pembimbing saya dulu adalah dosen lab programming, dan saya S2 juga di sini, saya bukanlah asisten lab programming. Selama ini saya berkeliaran di lab programming hanya karena menumpang saja.

Sekarang sudah jam 6, sudah lebih dari sejam saya menulis tulisan ini. Komputer yang tadinya ditempati oleh Karol sudah tidak digunakan oleh siapapun dari sejam yang lalu. Saya sudah tidak ada mood lagi untuk melakukan apapun. Sebenarnya saya ingin segera pulang sejam lalu. Tetapi tempat-tempat makan pun masih belum banyak yang buka, dan kalaupun sudah buka mungkin akan sangat ramai dan membuat saya malas untuk mengantri makanan.

Just hoping tomorrow will be better. 🙂

One thought on “Hari Ini Gak Ngoding Sama Sekali”

  1. duh, kalo kondisi gini paling gak enak gw jadinya ama temen2 yg non muslim.. gak fair sih, masa yg gak puasa sampe jadi susah cari makan segala… 😐

Leave a Reply