Diary

Email alumni.itb.ac.id dan Blog blogs.itb.ac.id

ITB telah mengeluarkan dua buah layanan bagi alumni yakni email forwarding dengan account alumni.itb.ac.id. Layanan ini, karena namanya email forwarding, tidak menyediakan fasilitas penyimpanan dan pengiriman email hanya sebuah alamat email yang nantinya akan meneruskan semua email yang masuk ke email yang sebenarnya. Bagi beberapa orang email dengan domain alumni.itb.ac.id mungkin dianggap cukup prestigious. Saya juga kurang tahu kenapa. Menurut saya, email dengan domain sendiri, seperti me[at]petrabarus[dot]net terlihat lebih bagus dan orang pun dengan melihat CV saya di, misalkan, LinkedIn saya juga akan tahu kalau saya alumni ITB.

Cara mendaftarnya mudah, jika masih ingat NIMnya. Karena layanan ini autentikasinya baru terdaftar untuk angkatan 2003 s.d. 2011, alumni yang tidak bisa mendaftar dapat mengirimkan scan ijazah. Nanti akan diverifikasi oleh penyedia layanan dan alumni bisa mengambil alamat email yang diinginkan.

Continue reading

Standard
Diary

Digital Personality from Digital Footprints

The human brain contains roughly 300 megabytes of information. Not much, when you get right down to it. The question isn’t how to store it. It’s how to access it.

You can’t download a personality. There’s no way to translate the data. But the information being held in our heads is available in other databases.

People leave more than footprints as they travel through life.

Medical scans, DNA profiles, psych evaluations, school records, e-mails, recording video audio, cat scans, genetic typing, synaptic records, security cameras, test results, shopping records, talent shows, ball games, traffic tickets, restaurant bills, phone records, music lists, movie tickets, tv shows. Even prescriptions for birth control.

Above is a quote from Caprica (http://www.imdb.com/title/tt0799862). Although I don’t like much about this film, but the idea to make a digital personality from humans digital footprints is so ingenious.

Kinda wondering, when exactly this would happen in our reality.

Standard
Diary

Kakiku Sakit

Sudah dari hari Jumat kemarin kaki gw sakit. Dan ini sakitnya gak terlalu berbeda dengan yang terjadi di Singapura tahun lalu. Alhasil dari hari Jumat kemarin gw cuman keluar rumah 2 kali, untuk ke ibadah Jumat Agung dan ibadah Minggu Paskah.

Sampai sekarang masih misteri sakitnya apa. Setelah pulang dari Singapura tahun lalu itu, gw pergi ke dokter. Dan dokternya pun cuman ngasih semacam obat penghilang rasa sakit dan menyarankan gw nyari tukang pijat *serius*. Sungguh perjalanan mengarungi alam menaiki gunung menuruni lembah mendatangi RS Borromeus terasa percuma.

Tapi meski demikian, gw tetap percaya kok sama dokter. Cuman yang gw gak terlalu percaya itu adalah tukang pijat. Seumur-umur gw gak pernah melakukan yang namanya memanggil tukang pijat ke kamar kosan. Gw merasa gak terlalu nyaman jika ada orang yang belum gw kenal dan mungkin gak akan gw kenal untuk waktu yang lama masuk ke dalam kamar gw.

Dan lebih sialnya ternyata si tukang pijat yang gw panggil ini ujung-ujungnya minta pinjem duit buat bayar listrik. Di sesi-sesi pertama, dia ngajak ngobrol-ngobrol sederhana mulai dari sekolah gw, rumah gw, keluarga gw, dll. Karena dia masih agak asing bagi gw, gw jawab sekenanya aja tanpa ngasih detil. Kemudian lama-lama gw cukup simpati gara-gara habis selesai sesinya dia, kaki gw jadi agak lebih baikan. Dan di sesi terakhir, tiba-tiba dia dengan basa-basi minta pinjam uang buat bayar listrik rumahnya. Dan gw secara halus menolak dengan alasan waktu itu sudah akhir bulan. (untungnya saat itu kaki gw udah lumayan baikan jadinya gw gak merasa perlu buat manggil si tukang pijat)

Anyway, balik ke masalah kaki. Jadi bagian kaki gw yang sakit diperlihatkan oleh gambar di bawah. Berhubung gw bukan podiatrist (mahasiswa kedokteran pun gw bukan :P ) jadi gw coba lokalisasi tempat rasa sakitnya muncul.

Ada yang tau kenapa?

Kalau menurut gw sih mungkin gara-gara sepatu kayaknya yah. Pas di Singapura tahun lalu itu, sebulan sebelum pergi gw beli sepatu baru. Dan setelah jalan-jalan keliling Penang kemudian Singapura baru kaki terasa sakit banget. Kemudian di Bandung, gw minta orang tua buat beliin sepatu baru karena gw emang udah curiga gara-gara sepatu. Orang tua gw juga akhirnya ngebeliin sepatu baru.

Ketika gw buka bungkus sepatu baru itu, ternyata sepatu yang dibeli oleh orang tua gw hanya berbeda warna saja. Merk, model, dan ukurannya sama…..

Argh…..

Minta beliin sepatu lagi gak yah….

Standard