Diary

Sesepedaan Jumat di ITB

Pagi ini gw diajak sama istrinya Peb buat sepeda santai di ITB. Setiap Jumat Duwita dan Peb rutin bersepeda di dalam lingkungan kampus. Tapi berhubung Peb lagi pergi dinas, makanya akhirnya gw diajak Duwita buat bersepeda.

Ternyata gak hanya mereka berdua aja yang setiap Jumat bersepeda di ITB, tapi banyak juga karyawan yang ikutan. Tadi pas gw dateng ke tempat ketemuannya, ada banyak karyawan yang make kaos bertuliskan “Bike at Campus”

Bagi yg pengen ikutan nyoba bersepeda di kampus tapi gak punya sepeda gak perlu kuatir. Di tempat kumpulnya yakni di kantor kealumnian, yg sering dikenal sebagai Villa Merah, kita dapat meminjam sepeda. Kalau masih berstatus mahasiswa, seperti gw, peminjamannya cukup dengan menitipkan KTM.

Sepedanya terlihat kecil... :D

Setelah itu gw mencoba mengelilingi ITB dengan sepeda. Rute yg gw ambil adalah jalan lingkar luar ITB. Bener2 capek banget :( Udah lama gak bersepeda ditambah lansekap ITB yg banyak tanjakannya.

Tapi biar capek enak juga seh.. Jadi pengen ikutan lagi minggu depan. Apa beli sepeda aja kali yah…

Standard
Diary, Thoughts

Jangan Takut Daftar ITB!

“ITB mahal!”

“Dulu ITB murah ah!”

“Untung ya, saya masuk ITBnya dulu”

“Kalo gini ntar cuman anak-anak orang kaya aja yang bisa masuk ITB”

Begitu banyak komentar pesimis yang dilontarkan semua orang mulai dari calon mahasiswa, orang tua calon mahasiswa, hingga mahasiswa dan alumni ITB menanggapi kian mahalnya biaya untuk masuk ITB sekarang. Memang tidak terlalu berlebihan melihat, menurut situs USM ITB, biaya muka untuk kuliah di ITB lewat jalur SNMPTN Undangan pun sebesar 55 juta rupiah. Lebih besar dibandingkan USM ITB yang saya ikuti 5 tahun lalu.

Haruskah ITB mahal? Saya rasa harus. Mengutip sebuah komentar (yang juga merupakan kutipan) di profile Facebook saya,

“Pendidikan yg baik itu musti mahal harganya, yang jadi pertanyaan, siapa yg bayar?” Dwiwahju Sasongko, 2005, Dekan FTI.

Mungkin akan ada sangat banyak alasan mengapa biaya pendidikan harus mahal. Di antara semua itu, yang paling penting adalah untuk menjamin kualitas pendidikan mulai dari pembiayaan tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan tersebut. Dan yang selanjutnya adalah untuk memperlihatkan bahwa pendidikan bukanlah sebuah hal yang bisa diremehkan (“taken for granted“).

Akuilah, semakin mahal pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu, semakin kita menghargai hal tersebut dan semakin kita akan memanfaatkan hal tersebut sebaik-baiknya. Begitu pula pendidikan.

Dari apa saya amati, semua ketakutan yang diumbar para calon mahasiswa  tidak lain hanyalah alasan untuk menyembunyikan rasa tidak percaya diri terhadap kompetisi akademik demi meraih kursi ITB. Hanya karena merasa diri tidak mampu lantas semua hal tentang ITB dijelek-jelekkan. Tidak lah perlu dirisaukan masalah 55 juta untuk mendaftar ITB. Di situs USM sendiri disebutkan ada prosedur untuk meminta keringanan biaya untuk mendaftar. Selain itu ada banyak beasiswa yang akan menanti para mahasiswa yang membutuhkan. Yang penting fokus dalam meningkatkan kemampuan akademik untuk mengikuti ujian masuk. ITB selalu menghargai mereka yang berprestasi.

Selain itu melalui tulisan ini, saya mengajak para alumni ITB untuk terus mendorong adik-adik kelasnya agar mendaftar ITB tanpa perlu memusingkan perkara biaya masuk dan biaya kuliah untuk mendaftar ITB. Pendidikan yang telah kita dapatkan selama di ITB jauh lebih mahal. Jangan sampai banyak bibit-bibit unggul jadi enggan masuk ITB hanya karena pesimisme kita.

Untuk detil mengenai beasiswa yang ada di ITB, silakan baca artikel Jangan Takut Masuk ITB.

Standard