Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya

Setelah melalui banyak sekali kontroversi dari sekitar tahun 2002, mulai tahun ajaran ini USM ITB akan ditiadakan. Saya baru mengetahui berita ini sejak ada dengungan di twitter yang merujuk pada situs USM ITB. Di situs yang biasanya menampilkan berita mengenai prosedur pendaftaran USM ITB kini menampilkan pengumuman bahwa ITB hanya akan melaksanakan ujian masuk melalui SNMPTN.

Hal ini dilakukan sesuai dengan petunjuk Mendiknas no 34/2010. Dan kabar yang saya dapat dari Facebooknya Pak Rinaldi Munir menyatakan bahwa status BHP (Badan Hukum Pendidikan) ditiadakan dan ITB kembali menjadi sekadar PTN. Status BHP ini melindungi hak sebuah perguruan tinggi untuk mengadakan seleksi masuk tersendiri di luar ujian masuk terpusat (yang sejarahnya mulai dari SKALU, Sipenmaru, UMPTN, SPMB, dan sekarang menjadi SNMPTN). Sejak awal memang status BHP menuai banyak kritik terutama pada dua hal: sikap pemerintah yang seakan-akan melepas tanggung jawab dari usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan komersialisasi pendidikan yang berujung pada diskriminasi terhadap calon mahasiswa yang berhak untuk mengenyam pendidikan.

Ketakutan terhadap adanya diskriminasi ini memang tidak bisa disalahkan. Pada satu sisi ketakutan ini terlihat tidak logis, karena setelah masuk ITB akan ada segudang peluang untuk mendapatkan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu untuk membiayai kuliahnya. Setahu saya belum ada mahasiswa yang sampai dikeluarkan karena tidak mampu membayar uang kuliah. Akan tetapi di sisi lain, faktanya, akan ada masalah dari segi budaya yang sangat sulit untuk dihindari.

Pada acara TEDxJakarta beberapa minggu lalu, Bu Betty Alisjahbana menjelaskan pada presentasinya mengenai Beasiswa ITB untuk Semua (BIUS), akan ada sebuah jurang bernama “perbedaan sosial”. Hal ini menyebabkan banyak yang merasa minder kemudian enggan untuk meraih peluang beasiswa tersebut dan berimplikasi terhadap lebih tingginya peluang bagi mereka yang mengikuti ujian mandiri dari keluarga yang mampu. Selain itu, kalaupun ada yang berhasil lulus ujian masuk, akan ada masalah “survival“. Mereka akan merasa adanya tekanan atau rasa tidak percaya diri dalam pergaulan. Hal ini berimplikasi pada perbedaan prestasi antara mereka yang berasal dari keluarga mampu dan yang tidak. (Untuk itu, di BIUS akan ada program pembinaan bagi mahasiswa penerima beasiswa ini)

Saya bukan membela USM ITB dan saya juga tidak sepenuhnya suka dengan sistem ujian terpusat sekarang. Ada beberapa hal yang saya rasa perlu dibandingkan antara USM ITB dengan SNMPTN (saya asumsikan tidak banyak berubah dari SPMB ketika saya kelas 3 SMA).

Kualitas Soal

Yang pertama adalah kualitas soal. Menurut saya kualitas soal USM ITB sangat jauh lebih baik daripada SNMPTN. USM ITB tidak hanya mengukur kemampuan calon mahasiswa secara akademik tetapi juga secara psikologis. Calon mahasiswa akan diarahkan kepada program studi yang cocok dengan minat serta potensi yang bersangkutan. Ketika calon mahasiswa tidak lolos bukan berarti yang bersangkutan dianggap tidak mampu, tapi mungkin juga calon mahasiswa salah memilih program studi yang cocok. Oleh karena itu di pengumuman USM ITB, calon yang tidak lulus akan diberi saran program studi yang cocok. Hal di atas jauh berbeda dengan sistem SNMPTN yang jika dilihat dari luar hanya seperti melakukan pemotongan sesuai dengan kuota penerimaan sebuah program studi. Ini yang kemudian menyebabkan istilah “passing grade” sangat kental di semua bimbingan-bimbingan belajar.

Masih mengenai kualitas soal, dari apa yang saya alami ketika saya mengikuti USM ITB, saya melihat bahwa soal-soal USM ITB lebih dari sekadar “hafal rumus”. Satu nomor pada bagian matematika dapat membutuhkan pemahaman mengenai banyak konsep. Soal dititikberatkan pada kemampuan analisis calon mahasiswa untuk memecahkan masalah yang dihadapkan. Sangat berbeda dengan soal tryout SPMB saya yang hanya mengandalkan “hafal rumus” dan berusaha untuk menjebak dengan pilihan-pilihan jawaban yang mirip-mirip seperti 75.01 m/s, 7.501 km/s, 0.7501 km/h, dan seterusnya. Ini menyebabkan banyak sekali bimbingan-bimbingan belajar komersial berusaha menebak-nebak soal SNMPTN. Dari sekian ratus tryout yang diadakan bimbel tersebut pastilah akan banyak soal-soal yang mirip-mirip kemudian keluar di SNMPTN yang sebenarnya. Kemudian bimbel ini akan menjadi terkenal karena “membocorkan soal” sehingga di tahun selanjutnya akan lebih diminati. Dan implikasinya, mereka yang mampu untuk mengikuti banyak bimbel (di jaman saya seorang siswa bisa saja mengikuti 2 atau 3 bimbel sekaligus.)

(Di samping itu saya agak penasaran jika nanti USM ditiadakan, bagaimana nantinya ujian masuk untuk fakultas seni rupa dan desain yang mengikutsertakan materi menggambar. Apakah nanti akan ada jalur lain di luar IPA, IPS, dan IPC?)

Siswa Berprestasi

Hal kedua dan hal yang menjadi perhatian utama saya sejak dulu adalah kesempatan bagi para siswa SMA yang meraih prestasi di luar sekolah terutama mereka yang berprestasi di Olimpiade Sains. Mungkin banyak yang belum tahu mengenai seluk beluk mereka. Singkat cerita, para siswa ini rela berjuang di luar waktu sekolah mereka untuk mempelajari apa yang sebenarnya tidak diajarkan di sekolah mereka. Materi-materi yang dibahas pada Olimpiade Sains ini memiliki tingkat lebih tinggi daripada yang diajarkan di sekolah yakni sama dengan apa yang diajarkan pada tingkat kuliah (bahkan tingkat yang lebih tinggi daripada sarjana).

Meski pada dasarnya, mereka yang berprestasi ini adalah mereka yang memiliki kemampuan di atas rata-rata teman-teman sebayanya, tetap saja tidak sedikit dari mereka yang kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolah akibat beratnya materi yang harus mereka pelajari. Oleh karena itu banyak yang merasa khawatir tidak lulus seleksi masuk PTN dan akhirnya meninggalkan peluang mereka berprestasi di Olimpiade. Untungnya, USM ITB memberikan peluang bagi mereka yang berprestasi ini untuk masuk tanpa biaya bahkan dengan bantuan beasiswa setelah masuk.

(Silakan baca kritik dari seorang rekan beberapa tahun lalu mengenai hal ini: “What Olympian Means to Indonesia”)

Tetapi ini pun sekarang sudah tidak menjadi masalah lagi. Pada Olimpiade Sains Nasional tahun 2008 di Makassar, saya menyaksikan Pak Mendiknas menyatakan sebuah komitmen. Pak Menteri berkomitmen agar para peraih medali Olimpiade Sains diberikan kesempatan khusus untuk dapat memilih perguruan tinggi negeri manapun dan kalaupun ingin melanjutkan ke luar negeri maka pemerintah akan berusaha untuk membantu. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat melanjutkan ke program studi yang sesuai dengan minatnya di Olimpiade tanpa harus khawatir tidak lulus ujian seleksi. Sejak saat itu selain ITB, universitas-universitas negeri seperti UI dan UGM juga berkomitmen hal yang sama. Dan sejauh pengamatan saya, komitmen ini telah dijalankan dengan sangat baik.

(Saya pernah menulis sedikit mengenai hal ini: Jalur Bebas Hambatan Masuk ITB)

Manajemen Beasiswa

Hal terakhir yang menjadi perhatian saya sejak siang tadi mendengar berita ini adalah mengenai manajemen beasiswa terpusat. Sesuai yang ditulis pada situs USM ITB,

“Peminat program Beasiswa (BIUS, BIDIK MISI, Beasiswa Biaya Pendidikan, dll.), dipersilakan untuk melakukan pendaftaran ke panitia pusat SNMPTN melalui SLTA masing-masing. Calon mahasiswa tidak diperkenankan mendaftarkan diri secara langsung ke Perguruan Tinggi tujuan.”

Sampai detik ini saya masih belum tau mekanisme seperti apa yang akan dilakukan oleh panitia pusat SNMPTN untuk mengatur dan menentukan para penerima beasiswa. Di ITB sendiri ada sangat banyak jenis beasiswa mulai dari yang disebutkan di atas hingga beasiswa yang disponsori oleh alumni atau perusahaan. Belum lagi yang ada dari universitas-universitas lain. Jika semau beasiswa tersebut dijumlah maka nilainya secara nominal akan amat sangat besar.

Kalau pengaturan beasiswa diserahkan kepada universitas masing-masing atau panitia pusat dapat melakukannya secara transparan, ini tidak akan menjadi masalah berarti. Yang jelas saya melihat akan ada celah untuk penyelewengan dalam kasus ini. Indonesia selalu diterpa banyak sekali isu penyelewengan hal-hal yang berurusan dengan uang, mulai dari pembagian Bantuan Langsung Tunai, subsidi BBM salah sasaran, pembuatan paspor palsu, penyelenggaraan haji, hingga mafia pajak. Bukan tidak mungkin masalah beasiswa ini akan dimanfaatkan untuk menguntungkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Akhir kata, karena hal utama yang menjadi perhatian saya (mengenai siswa berprestasi) sudah cukup terselesaikan, masalah penghapusan ujian mandiri ini bagi saya tidak terlalu masalah. Tapi saya juga setuju terhadap pendapat banyak orang yakni untuk tidak menjadikan ujian mandiri sebagai sarana pendanaan bagi perguruan tinggi yang bersangkutan. Oleh karena itu ujian mandiri seharusnya dihapuskan saja. Jika dapat dilakukan dengan manajemen yang seksama, adanya peningkatan kualitas soal, serta pengaturan beasiswa yang adil dan transparan, maka ujian seleksi masuk yang terpusat merupakan model yang sangat baik.

**UPDATE**

Situs SNMPTN sendiri sudah berjalan dan di sana dituliskan sebagai berikut

SNMPTN 2011 merupakan satu-satunya pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri dalam satu sistem yang terpadu dan diselenggarakan secara serentak.

Sepertinya pemerintah memang sudah serius untuk meniadakan jalur mandiri pada perguruan tinggi negeri.

Mungkin sedikit tambahan pendapat, dengan adanya peniadaan ini, siswa jadi tidak dipusingkan dengan pendaftaran ujian mandiri di mana-mana. 🙂 Saat saya masih SMA, banyak sekali teman-teman yang merasa bingung atau dipusingkan dengan jadwal-jadwal ujian mandiri di berbagai peguruan tinggi negeri. Dan dengan adanya perbedaan standar ujian, persiapan untuk mengikuti ujian-ujian tersebut jadi sangat membebani.

17 thoughts on “Masuk ITB 100% lewat SNMPTN dan Implikasinya”

  1. Tertarik paragraf terakhir. Ujian mandiri memang dipakai buat sebagai sarana pendanaan perguruan tinggi. Dan menurut saya, keuntungan yang diberikan lebih besar daripada kerugiannya.

    Pemikiran ngaco saya sih: Sekitar 70% (cmiiw) mahasiswa angkatan 2009 masuk lewat USM, dan setiap mahasiswa membayar minimal si 8dijit rupiah itu. Bisa dihitungkan keuntungannya?

    Mengenai peluang orang yang kurang mampu untuk masuk ITB memang menjadi pembahasan yang tidak ada habisnya. Mulai dari pendidikan untuk semua sampai tidak mungkin adanya pendidikan lanjut yang gratis.

    Namun terlepas dari itu, ujian mandiri ini sangat menunjang pemasukan ITB sebagai pt negri dan (kalau saya sih sebagai periset yg butuh duit) sangat sayang kehilangan pendapatan sebesar itu.

    hehe. just my humble opinions.

    1. Intinya sih di “Perguruan Tinggi Negeri”, Negara kita mempunyai kewajiban untuk membuka kesempatan pendidikan yang sebesar-besarnya bagi warga negaranya. Biaya ujian mandiri yang sangat tinggi akan menambah barrier bagi mereka yang ingin mencoba kesempatan tersebut. Meski pada kenyataannya sih kembali ke niat masing-masing yah.

      Yang jelas menurut gw, pemasukan perguruan tinggi itu idealnya harus lebih besar dari hasil riset dan kerjasama dengan industri.

  2. “(Di samping itu saya agak penasaran jika nanti USM ditiadakan, bagaimana nantinya ujian masuk untuk fakultas seni rupa dan desain yang mengikutsertakan materi menggambar. Apakah nanti akan ada jalur lain di luar IPA, IPS, dan IPC?)”

    ini salah mas, di snmptn mulai taun 2010 ada yang namanya ujian keterampilan, jadi jika calon mahasiswa memilih program studi yang membutuhkan ujian tersebut, maka dia akan di tes juga keterampilannya sesuai dengan program studi. dan juga mereka akan melakukan tes TPA dan TBSP seperti peserta lain yang tidak memilih program studi yang butuh ujian keterampilan

    terimakasih

  3. hix ane sedih bgt USM ditiadakan.. pdhl mgkn bisa hajar di TPA ma TBSnya… gpp duit habis toh ilmu yg didapat nanti di ITB nanti sepadan kok sama jumlah yg dikeluarin.. btw ane jd stress mikirin gmn ntar ya.. secara ujian cuma SNMPTN.. masih enak mah jaman anda banyak ujian.. banyak kesempatan.. lah ane skrg maw nyoba PTN cuma sekali ujiannya.. kalo SNMPTN undangan ane ga bisa.. secara nilai rapor ane ga sepadan.. beruntung bgt dong anak2 yg punya duit dan nilai2nya dijaga di sekolah ane.. PMDK aja ane g bsa krn hrus ranking umum (balik lagi ke kalimat sblmny)
    duh maaf ya ane jd curhat.. btw thanks infonya walo sedih berat bacanya :((

  4. hah? di pengumuman usm itb,calon yang tidak lulus akan diberi saran program studi yang cocok?

    waktu jaman saya usm (tahun kemarin) enggak tuh.”Anda tidak lulus usm” rasanya dingin,kasar.

    1. mas eka: ada kok mas, hanya berlaku bagi orang2 yang nilainya tidak cukup tinggi untuk prodi yang diinginkan tapi cukup tinggi untuk prodi tertentu saja. teman2 saya banyak yang mengalami itu.

  5. Terima kasih informasinya sangat penting dipublikasikan untuk memberikan pengetahuan tentang masuk ITB tahun 2011 dst tidak lagi via USM/PMBP ITB tetapi 100% via Snmptn, Trims buat Sdr. Petra dengan Blognya yang sangat edukatif 🙂

  6. .aku pengen banget masuk ITB ..
    .dari SMP aku udah cita” buat masuk ITB ..
    .tapi di SMA, lebih tepatnya aku masuk MA ..
    .dan aku di jurusan Bahasa ..
    .kita” ,, aku bisa masuk ITB nggak ??..

  7. Salah menyangka adek2 bahwa USM lbh baik dari snmptn. SNMPTN lbh baik malah dari USM. Orang Miskin berprestasi bisa jd lebih banyak masuk itb. Soal Mutu soal saya liat snmptn dan usm setara. Soal psikotes terlalu banyak koefisien yg berpengaruh bisa kurang makan sebleum ujian, strss psikis, dan validitas psikotes yg diperdebetkan di dunia psikologi dan kesehatan

Leave a Reply