Anak SMP merokok

Dalam perjalanan saya tadi pagi ke kampus, saya berjalan di belakang tiga orang anak SMP. Satu siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Tidak ada satu pun hal yang saya permasalahkan dari mereka kecuali sebatang rokok menyala yang terjepit di tangan si siswa laki-laki.

Saya sama sekali tidak ada masalah pribadi dengan perokok. Pada kenyataannya, meski saya pribadi tidak merokok, saya punya banyak teman perokok. Tapi ada dua jenis perokok yang sangat saya benci: perokok di ruang tertutup dan perokok di bawah umur. Meski masalah utama saya dengan perokok jenis pertama adalah karena saya tidak tahan dengan asap rokok, perhatian saya terhadap para perokok di bawah umur adalah masalah pendidikan.

Pertanyaan pertama yang sering saya tanyakan kepada diri saya ketika melihat perokok di bawah umur adalah, “Dari mana sih itu anak dapet duit buat beli rokok?

Sumber utama uang seorang siswa SMP sudah pastilah dari orang tua dalam bentuk jajan. (Atau mungkin dari hasil pemerasan uang jajan terhadap teman-teman sekolahnya *mantan korban :P* atau dari hal lain) Saya yakin sebagian besar orang tua, sama seperti orang tua saya dulu, memberikan uang jajan kepada anaknya dengan harapan uang itu dijajankan dengan hal yang berguna atau ditabung. Umumnya karena orang tuanya tidak sempat membuatkan bekal makan siang untuk sang anak di sekolah, mereka memberikan uang jajan.

Kenapa masalah pendidikan? Menurut saya, uang jajan adalah salah satu bentuk pendidikan mengenai kepercayaan dan tanggung jawab yang telah diberikan oleh orang tua sejak dini. Orang tua tidak akan selalu bisa berada di dekat anaknya untuk mengawasi apa yang akan dibeli oleh anaknya dengan uang tersebut. Oleh karena itu, seorang anak harus mulai diberi pendidikan mengenai kedua hal tersebut dan hal yang paling sederhana adalah berupa uang jajan.

Kira-kira apa yang ada di pikiran orang tua kalau tahu uang yang diberikan tersebut dijajankan untuk membeli rokok? Kalau itu orang tua saya, jangankan untuk rokok, saya habiskan untuk pergi ke game center pun pasti pulangnya saya kena marah (meski hingga sekarang saya tidak pernah menyesal main game di masa kecil). Setiap kali saya melihat seorang anak di bawah umur merokok, saya selalu membayangkan betapa kerasnya orang tua saya bekerja tetapi uangnya kemudian saya habiskan untuk hal yang belum berguna seperti rokok.

Kalau dari SMP sudah tidak menghargai kepercayaan dari orang lain dan tanggung jawab sendiri, sudah besarnya mau jadi apa, dek?

One thought on “Anak SMP merokok”

Leave a Reply