ITB Programming Contest dan Arkavidia

Sabtu dan Minggu kemarin Program Studi Teknik Informatika (IF) ITB telah sukses mengadakan sebuah ajang lomba pemrograman yakni ITB Programming Contest (ITBPC). ITBPC 2010 ditujukan baik bagi mahasiswa perguruan tinggi dan juga siswa sekolah menengah atas yang dipertandingkan dalam dua kategori yang berbeda. Kategori pertama untuk mahasiswa dilaksanakan dengan format ACMICPC-like sementara kategori untuk siswa dilaksanakan dengan format IOI-like.

Ketika untuk pertama kalinya acara ini diinisiasi secara resmi sekitar empat bulan lalu, acara ini mengundang banyak pertanyaan dari mahasiswa prodi IF sendiri. Hal ini tidak lain karena himpunan mahasiswanya sendiri, HMIF, telah mengadakan dan sedang mencanangkan sebuah acara yakni Arkavidia yang salah satunya dari rangkaian acaranya adalah lomba pemrograman.

Tampaknya banyak sekali orang yang merasa janggal dengan sebuah redundansi. Meski demikian di dunia Informatika sendiri, redundansi itu bukan lah sesuatu yang buruk, bahkan ada beberapa persoalan yang menggunakan redundansi dalam pemecahannya. Sebenarnya dari ide awal, ITBPC dan Arkavidia bukanlah sebuah redundansi.

Pada awalnya ITBPC ditujukan hanya untuk mewadahi siswa SMA/sederajat. Tujuan ini dilatarbelakangi oleh keinginan para mahasiswa, yang pernah mengikuti ajang lomba pemrograman saat mereka masih siswa SMA, untuk membantu mewadahi minat siswa-siswa SMA dalam bidang pemrograman. Para mahasiswa ini, sebutlah sebagai alumni olimpiade, yang selama ini telah menimba pengalaman dalam pengadaan pelatihan-pelatihan olimpiade komputer merasa tertantang dengan adanya kontes-kontes pemrograman untuk siswa SMA yang telah diadakan dari lama oleh beberapa perguruan tinggi lain: Bina Nusantara dengan BNPCHSnya, Universitas Indonesia dengan Competition Week-nya, dan juga UNPAR dengan KP UNPAR.

Tujuan lain yang tidak kalah pentingnya dari ITBPC adalah membantu guru-guru mata pelajaran TIK SMA di Indonesia untuk meningkatkan mutu serta mewadahi minat siswa-siswa mereka di sekolah masing-masing. Oleh karenanya pada rencana besarnya, ITBPC juga menyelenggarakan seminar bagi para guru TIK. Dalam rencana (dan terbukti dalam penyelenggaraannya kemarin) di seminar ini diharapkan para guru dapat memperluas jaringan, berbagi pengalaman, serta berdiskusi tentang langkah-langkah untuk meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar TIK di sekolah masing-masing.

Arkavidia di lain pihak memiliki target utama mahasiswa perguruan tinggi. Hal ini dicerminkan dari rangkaian acara yang diadakan tahun lalu mulai kontes pemrograman, pameran hasil karya, serta lomba desain perangkat lunak. Kebetulan gw juga ikut membantu dalam penyelenggaraan kontes pemrograman tahun lalu.

Meski demikian karena satu dan lain hal, ITBPC harus mengadakan kontes pemrograman yang ditujukan untuk mahasiswa. Hal ini jelas akan memberatkan panitia yang jumlahnya masih dapat dihitung dengan jari tangan, mulai dari dana, konsep acara, peminjaman tempat, terutama masalah manpower. Tetapi untungnya dengan sumber daya yang sangat terbatas acara dapat dilaksanakan dengan sukses.

Sekarang tinggal status kompetisi pemrograman yang ada di rangkaian Arkavidia. Beberapa bulan lalu gw sempat mendengar bahwa karena ITBPC juga mengadakan kompetisi untuk mahasiswa maka Arkavidia enggan untuk mengadakannya juga. Untunglah tadi gw dengar Arkavidia tetap berniat mengadakannya.

Sejujurnya gw sangat tidak setuju kalau Arkavidia tidak mengadakan kontes pemrograman. Kontes pemrograman adalah sebuah acara yang harus ada dalam sebuah rangkaian acara kompetisi bertajuk informatika yang ditujukan untuk mahasiswa. Dan faktanya, sejak pengadaan pertama Arkavidia, kontes pemrograman di ITB sudah menjadi identitas Arkavidia. Meski mungkin nama “Arkavidia” memang sulit diingat dan diucapkan, tetapi sebelum ITBPC para mahasiswa yang biasa ikut lomba-lomba pemrograman sudah mengasosiasikan keduanya. Saat pertama kali dipublikasikan banyak rekan-rekan di perguruan tinggi lain bertanya, “Loh, bukannya Arkavidia yah?”

Untuk ke depannya gw lebih mendukung kalau kompetisi pemrograman untuk mahasiswa dipusatkan ke Arkavidia. Gw merasa ITBPC adalah salah satu wadah yang baik bagi prodi IF untuk melakukan promosi, sosialisasi keilmuan informatika, dan membangun jaringan pada komunitas pendidikan TIK SMA/sederajat dari mulai yang paling utama adalah siswa dan guru kemudian nantinya pihak pemerintahan seperti direktorat pendidikan dan berlanjut pada pihak profesional/industri yang menaruh minat pada pendidikan TIK SMA. Akan sangat baik jika di masa yang akan datang dalam ITBPC bisa ditambahkan acara-acara yang sinergis dengan tujuan itu.

Di sisi lain Arkavidia juga adalah salah satu wadah yang sangat baik bagi mahasiswa IF ITB untuk saling mengenal dan mengakrabkan diri dengan mahasiswa-mahasiswa teknik informatika/ilmu komputer perguruan-perguruan tinggi yang lain, hal yang selama ini gw lihat sangat kurang di kalangan mahasiswa IF ITB.

Tetapi jika tetap tidak dipisah ada baiknya jika kontes pemrograman Arkavidia dapat bereksperimen menggunakan model kontes di luar ACM ICPC atau IOI, seperti IPSC, Google Code Jam, Top Coder, dll. Hal ini dimaksudkan untuk melengkapi ragam sekaligus meramaikan kontes-kontes pemrograman di Indonesia. Tapi kalaupun tidak sempat bereksperimen, ya gak apa-apa. Redundansi itu bukan hal yang sangat buruk. Lagipula berapa banyak universitas di Indonesia yang bisa mengadakan kontes pemrograman dua kali setahun? 😛

Akhir kata, gw mengucapkan selamat berjuang dan semoga sukses bagi seluruh panitia Arkavidia!

5 thoughts on “ITB Programming Contest dan Arkavidia”

Leave a Reply