Charlie: Si Jenius Dungu

Ketika saya sedang mencari buku HeartBlock (review menyusul), saya tiba-tiba ingin membeli sebuah novel lagi. Perhatian saya tertuju pada sebuah buku berjudul “Charlie: Si Jenius Dungu“. Sebuah judul yang sangat biasa, tapi sedikit yang saya tahu bahwa ternyata novel tersebut merupakan novel klasik yang fenomenal dengan judul Flowers for Algernon.

Charlie adalah seorang dungu dengan IQ rendah yang menjadi bahan eksperimen untuk meningkatkan kecerdasan. Eksperimen ini sebelumnya telah dicoba kepada seekor tikus. Meski tikus tersebut berubah menjadi jenius tapi masih belum dapat ditentukan efek sampingnya terhadap manusia. Dan ternyata eksperimen tersebut berhasil. Charlie berubah menjadi seorang yang jenius. Tapi kejeniusan itu mengubah segalanya di dalam hidup Charlie.

Ia telah memiliki cara pandang yang berbeda dengan saat ia masih seseorang yang polos, jujur, dan ramah. Dengan segala kepintaran yang didapatnya, ia mulai mencoba menggali masa lalunya, mencari arti dari hidup, dan mencari jawaban dari segala pertanyaan yang ia kemukakan sejak eksperimen tersebut. Charlie membuat semua orang yang dulunya selalu memperolok kedunguan menjadi rendah diri terhadap kepintarannya sekarang. Dan kejeniusan Charlie juga telah melampaui para ilmuwan yang melakukan eksperimen terhadap dirinya.

Sesuatu yang dilakukan manusia tidaklah sempurna. Tiba saatnya Charlie menemukan fakta bahwa terdapat degradasi pada Algernon, tikus yang menjadi bahan eksperimen sebelum dirinya. Charlie tahu kalau ia harus berjuang melawan waktu atau kalau tidak pada akhirnya ia akan menjadi seperti tikus tersebut.

Novel ini diulas dengan gaya laporan harian. Bagian-bagian awal novel ini berisi laporan dengan gaya tulis yang acak-acakan, penuh dengan salah ejaan, tanda baca, dan tata bahasa. Kemudian laporan-laporan ini berkembang dengan perbaikan-perbaikan tata bahasa, gaya tulis, dan pola pikir. Perlahan-lahan kita dibawa dari saat cara pikir Charlie yang masih kekanak-kanakan dan menerima segala hal dengan senyum.  Selanjutnya kita melihat pribadi Charlie yang mulai curiga terhadap semua orang dan mempertanyakan segala sesuatu.

Saya sempat mengucurkan air mata beberapa kali membaca buku ini. Banyak sekali peristiwa-peristiwa mengharukan yang dialami oleh Charlie. Menurut saya buku ini benar-benar bagus. Awalnya ketika saya sedang di kasir membayar buku ini, saya sempat berpikir bahwa saya akan menyesal membelinya. Tapi ternyata saya sangat senang bisa kebetulan membelinya. Tidak sabar ingin ke toko buku lagi.

2 thoughts on “Charlie: Si Jenius Dungu”

  1. iya, ga nyesel deh baca..
    novel terjemahan yang masih bisa dibaca & ngerti jalan ceritanya.
    sempet baca novel terjemahan lain agak susah ngerti jalannya cerita ga fokus dengan apa yg diceritakannya saat itu. kaya novel ‘Thank You for Smoking’ baca berkali2 baru ngerti karakter mana sedang bicara dengan siapa dan apa yg sedang ingin dibicarakan dan diceritakan, karena ceritanya ga fokus.
    pengen bikin resensi novel itu jd batal dr pada ga bs bikin ulasannya, berhubung Charlienya udah keburu dipinjem tmn .>_<.

Leave a Reply