Raja Lombok Mati Tergantung

Dulu ayah saya pernah bercerita mengenai Kisah Raja Lombok Mati Tergantung. Kisah ini sangat menarik bagi saya yang kala itu masih duduk di bangku SD. Sampai sekarang pun kisah ini sering saya renungkan karena dibalik cerita menggelitik itu terdapat makna yang menurut saya dalam.

Suatu saat datanglah karnaval ke sebuah desa. Karnaval ini, seperti seharusnya sebuah karnaval, mendirikan tenda-tenda yang berisi pertunjukan menarik bagi warga desa: mahkluk aneh, sirkus, atraksi menantang maut serta atraksi lainnya. Di sebuah pojokan kompleks karnaval didirikan sebuah tenda yang ramai oleh warga desa. Di depan tenda ini ada papan bertuliskan “Raja Lombok Mati Tergantung. Masuk dan Saksikan!” Memang dengan tulisan tersebut warga tidak ayal mengerubungi tenda tersebut mengantri untuk karcis masuk.

Tetapi apa yang warga lihat? Sebuah cabai seukuran tangan manusia yang tergantung di tengah-tengah tenda.

Untuk warga desa yang sebagian besar petani mungkin atraksi itu seharusnya cukup menarik mengingat sepertinya sulit untuk menanam dan memelihara lombok menjadi sebesar itu. Tetapi saya yakin yang ada di dalam pikiran mereka saat mengantri karcis bukanlah hal itu yang ingin dilihat. Keinginan warga sangatlah kuat untuk melihat seorang yang memiliki status tertinggi di sebuah pulau besar di Indonesia meninggal dalam keadaan mengenaskan di sebuah tenda kotor yang didirikan di desa mereka. Apa daya, meski warga cukup terkagum, ada banyak kekecewaan. Dan celakanya pengelola karnaval pun tidak bisa dituntut karena apa yang dipertunjukkan tidak menyimpang. Warga pun terpaksa pulang sambil menggerutu.

*saya yakin pembaca tulisan ini banyak yang tidak jauh berbeda dengan warga desa :P*

Saya sering merenungi kisah ini ketika saya membaca sebuah situs berita elektronik di Indonesia yang paling aktual tapi tidak berisi dan acara-acara seputar artis yang selalu ditayangkan di televisi secara redundan pada jam yang sama.

Saya bukan jurnalis dan saya tidak tahu seperti apa seharusnya menulis berita. Saya juga jarang membaca berita-berita di koran Indonesia. Tapi kadang-kadang saya sering melihat banyak berita yang sepertinya menggiring penerima berita kepada sebuah opini layaknya warga desa yang ingin melihat Raja Lombok Mati Tergantung. Dan sialnya opini tersebut seringkali berlebihan, terlalu sensasional, dan cenderung kontroversial. Yang seperti ini memang sering terlihat di berita-berita seputar artis dan di media-media berita formal dan besar. Yang cukup sering saya renungkan adalah reaksi masyarakat yang seolah-olah menelan opini tersebut bulat-bulat dan memberikan reaksi yang juga berlebihan.

Di satu pihak, bagi media hal itu penting karena di situlah sumber pendapatan mereka. Kalau masyarakat adem ayem maka barang dagangan mereka tidak laku. Dan di lain pihak, masyarakat juga tertarik dengan opini yang dibentuk oleh media. Yah, saya juga tidak bisa memberikan semacam solusi atau nasihat. Buat saya pribadi juga tidak terlalu penting karena saya jarang menonton berita-berita di televisi Indonesia. Hanya saja setiap kali saya melihat berita-berita seperti itu, saya cuma bisa tersenyum. Miris.

One thought on “Raja Lombok Mati Tergantung”

  1. Wah, kalau begitu benar bahwa jejak Raja Lombok juga pernah ditemukan di Mesir, India dan Saudi Arabia 🙂

    I have one short story too….
    Di Rumah Sakit Haji di Makassar, setiap pagi ada seorang penjual nasi bungkus yang menjajakan sarapan, dari kamar ke kamar, ruangan ke ruangan. Dia menawarkan ke penjaga pasien, “Nasi kuning, telur setengah matang”. Kata-kata itu diulangnya terus menerus.

    Bagi penjaga pasien baru, mungkin akan merasa tertipu setelah membeli nasi bungkus yang murah itu. Telurnya telur setengah matang itu adalah telur rebus bulat yang sudah matang lalu dibagi 2, dan 1 bungkus nasi hanya berisi setengah telur.

    “Nasi kuning, telur setengah matang…..”

Leave a Reply