Ode untuk Ingus

Di hari-hari yang cukup mengesalkan ini, gw ditemani oleh ingus. Pilek. Pusing. Mual. Lemes. Entah sudah berapa liter ingus yang sudah dikeluarkan dari hidung ini.
Untuk itu baiklah gw persembahkan sebuah puisi karya seorang sahabat. Puisi yang selalu gw ingat di kala pilek menyerang. Puisi ini berjudul Ode untuk Ingus. Sebuah puisi yang sangat mendalam artinya untuk sebuah hal yang sepertinya tidak pernah kita perhatikan.

Ode untuk Ingus
karya Indra Situmorang

Ingus
Mengalir tabah
Menanti cahaya dan udara
Yang dihirupnya sedetik saja
Sebelum kembali menempati
Relung gelap yang jadi miliknya
Seperti anak yang tak boleh lahir

Ingus
Secarik nada sumbang musim hujan
Di atas partitur tissue

Ingus terbit terbirit-birit
Menuruni bukit mulut
Beringsut-ingsut bagai kabut
Rasanya seperti laut

Siapa yang beringus adalah manusia
Ingusku ingusmu sama saja
Tak ada ingus biru, tak ada ingus ningrat
Yang ada hanya ingus hidung tersumbat

Ingus juga datang atas nama cinta :
Aku merindukanmu bagai ingus merindukan tissue
Kau adalah rembulanku yang membuat pasang dan surut ingusku
Jangan menangis sayang, jangan jadi lebih manja dari hidung di bulan-bulan hujan
Bayanganmu memudar secepat ingus memanjat

Ingus… ingus…
Tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata
Harus dengan tissue dan air mata

Odeku Untukmu :
SRRRROOOOOOOOOOTTTTTTTTTTTT

6 thoughts on “Ode untuk Ingus”

  1. itu karya seorang rekan yang dipublikasikan pada kuliah sastra
    saya tuh penikmat puisi sebenernya (tapi hampir gak pernah bikin :P)

    kalo melihat puisi di atas, si penulis bener-bener bisa mengeksplorasi kata-kata dan penggambaran yang cukup menggelitik hanya untuk sebuah hal yang jarang kita anggap: ingus….. ini yang menurut saya adalah arti dari sebuah kreativitas. di mana kita bisa memanfaatkan segala hal yang ada di dalam sebuah keterbatasan.

    bener-bener ngerasa bagus pas pertama kali baca itu puisi
    dan gak heran ternyata di akhir kuliah jadi salah satu puisi terbaik 😀

Leave a Reply