Gading-Gading Ganesha: Bahwa Cinta Itu Ada

Melihat bahwa kehidupan mahasiswa kampus gajah 20 tahun lalu tidak jauh berbeda dengan kampus gajah di saat ini. Itulah hal yang menarik dalam buku Gading-Gading Ganesha : Bahwa Cinta Itu Ada dalam sudut pandang saya sebagai seseorang yang status kemahasiswaannya di kampus ini tinggal hitungan hari lagi. Sudah lama saya ingin membaca buku ini, tapi terhambat kesibukan kuliah dan lain-lain jadi baru sekarang bisa membelinya. (Tapi ternyata banyak yang belum baca)

Buku ini menceritakan kisah-kisah 6 orang anak muda yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia: Slamet – Trenggalek, Poltak – Siantar, Ria – Padang, Benny – Jakarta, Gun Gun – Ciamis, dan Fuad – Surabaya. Mereka berkenalan saat pendaftaran mahasiswa baru kemudian menjadi sahabat yang tidak terpisahkan dalam menjalani perjuangan berat di kampus gajah yang tercinta. Perjuangan kuliah, perjuangan organisasi, perjuangan politik, perjuangan cinta, dan perjuangan finansial membuat ikatan batin di antara mereka kian kental.

Meski di awal buku banyak disajikan humor-humor a la mahasiswa, bagian selanjutnya lebih banyak berisi tragedi-tragedi yang terjadi. Di tengah cerita, satu per satu pun lulus dari kampus gajah. Ada yang lulus tepat waktu, ada yang lulus telat, ada yang lulus kepepet, dan ada juga yang drop out karena tidak lulus-lulus. Kemudian semuanya menghadapi banyak sekali tantangan, dilema, kenyataan, dan masalah-masalah yang ada di dalam masyarakat. Pada akhirnya setelah waktu yang sangat lama mereka kembali dipertemukan dan mencetuskan bentuk sumbangsih mereka bagi almamater tercinta.

Membaca buku ini sebagai seorang yang masih menyandang status mahasiswa ITB memberikan banyak hal yang membuat kening berkerut. Ada banyak sekali hal-hal yang berbeda di setting buku.

“Eh, serius pernah ada lapangan bola di tengah kampus?”
“Wah, dulu pendaftaran mahasiswa baru di Taman Sari 64 toh…”
“Emang ada yah penataran P4?”
“Bandung dulu gak seberantakan sekarang, toh”

Tapi memang ternyata banyak hal yang tidak berubah dari 20 tahun yang lalu. Bagian ini membuat saya sering tersenyum membayangkannya. Daerah-daerah pemukiman mahasiswa (kosan) dari Cisitu Lama, Cisitu Baru, Cisitu Indah, Taman Hewan, Plesiran, Dipati Ukur, dan Kebun Bibit yang stereotipenya sama sekali tidak berubah sampai sekarang. Ada Tahap Persiapan Bersama yang membuat momok bagi hampir semua mahasiswa dengan kuliah-kuliah serta praktikumnya yang dianggap tidak penting. Ada dosen yang jarang datang kuliah tiba-tiba nilai kuliahnya bisa keluar secara misteri. Masih ada momen-momen perkelahian antar jurusan-jurusan “keras” yang mewarnai acara-acara olahraga antar jurusan. Masih ada arogansi antar himpunan mahasiswa hingga saling mengejek.

Menurut saya gaya penceritaan buku ini terlalu ringan (ada beberapa rekan yang protes kalau “agak garing”), tapi secara umum bagus. Tidak ada sesuatu hal yang sangat baru yang diceritakan kalau dibaca oleh orang-orang yang pernah hidup di kampus Ganesha karena memang mungkin target utamanya adalah para alumni ITB. Meski demikian saya rasa juga bagus dibaca oleh orang di luar itu karena menambah wawasan tentang kehidupan di ITB.

Setelah membaca buku ini, saya mencoba memproyeksikan potongan hidup saya ini ke dalam cerita. Andai saya adalah salah satu pemain dalam buku ini, saya masih berada di tengahnya. Ketika merenungi bagian awal, saya merasa di akhir-akhir kehidupan sebagai mahasiswa ini, banyak hal yang belum pernah saya perbuat: ikutan demo-demo, dikejar-kejar intel, ngapel ke kosan kecengan, ikutan nyempil di pesta nikahan buat dapat makanan gratis, dan masih banyak hal-hal lagi yang sepertinya menyenangkan. Saya jadi berkata, “Ngapain aja sih 4 tahun ini….”.  Haha.

Tapi lepas dari itu, masih ada setengah bagian terakhir di buku yang menunggu saya. Masih ada halaman-halaman di mana saya harus terjun di masyarakat beserta segala kenyataan dan tantangannya. Dan masih ada bab yang paling akhir yang menanti saya untuk memberikan sumbangsih kepada almamater ini setelah apa yang telah dibekalinya pada saya.

11 thoughts on “Gading-Gading Ganesha: Bahwa Cinta Itu Ada”

  1. Argh, dari sidang sampe sekarang blom sempet bikin postingan blog “Ngapain aja 4 tahun ini”, hihihi. Daftar hal-hal yang pernah dan blom pernah gw lakukan selama jadi mahasiswa. Pokoknya sebelom wisuda gw bikin! Ayo Pet, bikin juga, Pet 😀

Leave a Reply