Opinions

Raja Lombok Mati Tergantung

Dulu ayah saya pernah bercerita mengenai Kisah Raja Lombok Mati Tergantung. Kisah ini sangat menarik bagi saya yang kala itu masih duduk di bangku SD. Sampai sekarang pun kisah ini sering saya renungkan karena dibalik cerita menggelitik itu terdapat makna yang menurut saya dalam.

Suatu saat datanglah karnaval ke sebuah desa. Karnaval ini, seperti seharusnya sebuah karnaval, mendirikan tenda-tenda yang berisi pertunjukan menarik bagi warga desa: mahkluk aneh, sirkus, atraksi menantang maut serta atraksi lainnya. Di sebuah pojokan kompleks karnaval didirikan sebuah tenda yang ramai oleh warga desa. Di depan tenda ini ada papan bertuliskan “Raja Lombok Mati Tergantung. Masuk dan Saksikan!” Memang dengan tulisan tersebut warga tidak ayal mengerubungi tenda tersebut mengantri untuk karcis masuk. Continue reading

Standard
General

Ode untuk Ingus

Di hari-hari yang cukup mengesalkan ini, gw ditemani oleh ingus. Pilek. Pusing. Mual. Lemes. Entah sudah berapa liter ingus yang sudah dikeluarkan dari hidung ini.
Untuk itu baiklah gw persembahkan sebuah puisi karya seorang sahabat. Puisi yang selalu gw ingat di kala pilek menyerang. Puisi ini berjudul Ode untuk Ingus. Sebuah puisi yang sangat mendalam artinya untuk sebuah hal yang sepertinya tidak pernah kita perhatikan.

Ode untuk Ingus
karya Indra Situmorang

Ingus
Mengalir tabah
Menanti cahaya dan udara
Yang dihirupnya sedetik saja
Sebelum kembali menempati
Relung gelap yang jadi miliknya
Seperti anak yang tak boleh lahir

Ingus
Secarik nada sumbang musim hujan
Di atas partitur tissue

Ingus terbit terbirit-birit
Menuruni bukit mulut
Beringsut-ingsut bagai kabut
Rasanya seperti laut

Siapa yang beringus adalah manusia
Ingusku ingusmu sama saja
Tak ada ingus biru, tak ada ingus ningrat
Yang ada hanya ingus hidung tersumbat

Ingus juga datang atas nama cinta :
Aku merindukanmu bagai ingus merindukan tissue
Kau adalah rembulanku yang membuat pasang dan surut ingusku
Jangan menangis sayang, jangan jadi lebih manja dari hidung di bulan-bulan hujan
Bayanganmu memudar secepat ingus memanjat

Ingus… ingus…
Tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata
Harus dengan tissue dan air mata

Odeku Untukmu :
SRRRROOOOOOOOOOTTTTTTTTTTTT

Standard
Books

Gading-Gading Ganesha: Bahwa Cinta Itu Ada

Melihat bahwa kehidupan mahasiswa kampus gajah 20 tahun lalu tidak jauh berbeda dengan kampus gajah di saat ini. Itulah hal yang menarik dalam buku Gading-Gading Ganesha : Bahwa Cinta Itu Ada dalam sudut pandang saya sebagai seseorang yang status kemahasiswaannya di kampus ini tinggal hitungan hari lagi. Sudah lama saya ingin membaca buku ini, tapi terhambat kesibukan kuliah dan lain-lain jadi baru sekarang bisa membelinya. (Tapi ternyata banyak yang belum baca)

Buku ini menceritakan kisah-kisah 6 orang anak muda yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia: Slamet – Trenggalek, Poltak – Siantar, Ria – Padang, Benny – Jakarta, Gun Gun – Ciamis, dan Fuad – Surabaya. Mereka berkenalan saat pendaftaran mahasiswa baru kemudian menjadi sahabat yang tidak terpisahkan dalam menjalani perjuangan berat di kampus gajah yang tercinta. Perjuangan kuliah, perjuangan organisasi, perjuangan politik, perjuangan cinta, dan perjuangan finansial membuat ikatan batin di antara mereka kian kental.

Meski di awal buku banyak disajikan humor-humor a la mahasiswa, bagian selanjutnya lebih banyak berisi tragedi-tragedi yang terjadi. Di tengah cerita, satu per satu pun lulus dari kampus gajah. Ada yang lulus tepat waktu, ada yang lulus telat, ada yang lulus kepepet, dan ada juga yang drop out karena tidak lulus-lulus. Kemudian semuanya menghadapi banyak sekali tantangan, dilema, kenyataan, dan masalah-masalah yang ada di dalam masyarakat. Pada akhirnya setelah waktu yang sangat lama mereka kembali dipertemukan dan mencetuskan bentuk sumbangsih mereka bagi almamater tercinta.

Continue reading

Standard
General

Hari

In Response To This Post.

Saya pernah bermusuhan dengan banyak yang bernama Hari.
Saya pernah dikecewakan dengan salah satu Hari. Sungguh bukan main rasa sakit hati yang ia berikan kepada saya.

Kemudian saat silih berganti temannya tiba…
Ketika mereka datang, saya tidak pernah memberi sambutan.
Ketika mereka hadir, saya tidak pernah mempedulikan.
Ketika mereka pergi, saya tidak menyesal memusuhi.

Namun suatu saat saya sadar tidak boleh bermusuhan dengann mereka. Saat itu adalah saat seorang Hari hadir membawa cambuk kecil, memperingatkan, dan berkata bahwa akan tiba saatnya di mana temannya akan datang membawa hukuman yang sangat berat kalau saya terus seperti itu. Kemudian datanglah satu per satu Hari-Hari lain yang senantiasa mencambuk saya untuk mau berbaikan dengannya.

Akhirnya tiba seorang Hari yang ditunggu-tunggu untuk menentukan nasib saya.Hari yang satu itu benar-benar menakutkan. Tapi setelah lewat saatnya dan setelah indah kenangan yang ditinggalkannya, saya tahu saya akan merindukan mereka.
Susah untuk berhenti berterima kasih kepada Hari-hari yang sudah menemani perjuangan.

Dan besok akan datang Hari yang berbeda.
Yang membawa cambuk lebih besar, beban pikul yang lebih berat, dan duri yang lebih tajam.

Ada saatnya ketika banyak dari mereka membuat kita kecewa. Pasti ada saatnya kita bermusuhan kembali dengan mereka.

Tapi  saya sangat yakin kalau pada akhirnya ketika sudah lewat waktu bersama dengannya,
rasanya memang sangat bahagia karena tau sebenarnya setiap Hari pasti menyayangi kita.

Tetap semangat!

Standard
Diary

Di Persimpangan Jalan

Kata orang, ketika kita sudah menyelesaikan sebuah tahap, tahap baru akan dimulai. Akhir dari sesuatu merupakan awal dari sesuatu yang lain.

Tapi mungkin gak banyak orang yang sepesimis gw: orang yang menyadari bahwa tepat di saat kita menapak di garis akhir sebuah jalan akan banyak sekali percabangan jalan-jalan yang harus dipilih; orang yang selalu berpikir bahwa setiap sebuah masalah selesai tidak akan ada habis-habisnya masalah lain bermunculan; dan orang yang selalu mendapatkan bahwa setiap sebuah pertanyaan terjawab maka jawabannya akan melahirkan banyak pertanyaan baru. Banyak hal-hal yang ingin diraih dan dilakukan tapi terbatas umur yang sangat pendek. Dan gw adalah orang yang selalu berargumen: untuk apa kita lakukan satu pun kalau sampai matipun tidak akan semuanya dapat dikerjakan.

Kemudian di sini lah gw: berpijak di sebuah persimpangan jalan; menatap seluruh arah yang ada tanpa tanda penunjuk; tanpa ingin melanjutkan langkah ke satu arah pun. Tapi, bagaimana pun langkah harus diambil, cepat atau lambat.

Mari nanti lihat apa yang sudah gw capai di akhir jalan yang gw ambil ini.

Standard
Lyric

Takkan Satu

Selintas pandang harap tak terhenti
Seutas rindu yang takkan berakhir
Selaras gejolak hati takkan mereda
Harapan rinduku padamu

Sinar matanya hangatkan cintaku
Berhembus kasih sejukkan hatiku
Seiring nada kasih yang takkan berakhir
Cintaku kasihku padamu

Kuingin bersama denganmu meski itu jauh
Selalu denganmu, selalu
Harapku untukmu bilapun kita takkan satu
Bahagia selalu bersamamu

Standard