Kapan Manusia Bahagia?

Pas kuliah Sistem Operasi Lanjut, sang dosen menanyakan “Kapan manusia bisa bahagia?”. Dan gw kena tunjuk.

Gw simply cuman jawab “Manusia bahagia jika manusia tidak butuh apa-apa”

Terlepas dari apa jawaban yang “benar” menurut sang dosen, I always regard the conditional “a man is happy if he needs nothing” sounds.

So far, I only find one way to happiness: to have everything. A man is happy if he has everything. The condition is still sounds as everything is the complement of nothing. A man is happy if he needs nothing which implies he has everything.

But, there are still 3 ways interpreting “to have everything” :

  1. A man could earn every atomic entity in this universe, which obviously is still impossible in every means possible.
  2. A man thinks he has everything, which implies a man who thinks he has everything is happy.
  3. A man has what he thinks is everything, which implies a man who has what he thinks is everything is happy.

The point lies in way 2 and 3 is in the word “think”. A man is just what he thinks he is.
In other words, A man is happy if he thinks he is happy in either way he thinks he has everything or he has what he thinks is everything.

Simply, if you thinks you are happy then you are happy.

(tiba-tiba jadi bahasa inggris, balik ke bahasa Indonesia dulu)

Kebahagiaan hanya dibatasi pemikiran pribadi. Ketika seseorang merasa bahagia, apa pun pendapat orang, dia tetap bahagia.

Seorang tukang becak yang setiap hari harus mengayuh di bawah terik matahari, mungkin dianggap tidak bahagia oleh masyarakat karena kemiskinannya. Tapi ketika dia pikir dia bahagia karena dia pikir dia sudah mempunyai segala yang dia butuhkan , dia bahagia.

Seorang ilmuwan yang meninggal sendirian di labnya dan baru ditemukan 3 hari sesudahnya, mungkin dianggap tidak bahagia oleh masyarakat karena kesendiriannya. Tapi saat dia hidup, ketika dia pikir dia bahagia karena dia sedang melakukan apa yang dia anggap segalanya, dia bahagia.

Seorang kaya yang sukses dalam ukuran masyarakat yang tiap hari hidup di tengah kemewahan, mungkin dianggap bahagia oleh masyarakat karena kesuksesannya. Tapi ketika dia merasa tidak bahagia merasa dia pikir dia tetap kekurangan, dia tidak bahagia.

Seorang pekerja yang setiap hari bekerja keras, mungkin dianggap bahagia oleh masyarakat karena keuletannya. Tapi ketika dia pikir dia tidak bahagia karena dia tidak punya apa yang dia pikir adalah segalanya, still dia tidak bahagia.

Manusia adalah apa yang dia pikirkan. Pemikiran adalah bukti eksistensi manusia. Cogito ergo sum.
And again it’s that simple, if you thinks you are happy then you are happy.

11 thoughts on “Kapan Manusia Bahagia?”

  1. hmmm… klo dari sisi lain (selain masalah kebutuhan), gw siy berpendapat bahwa “manusia bisa bahagia kalau ia berhasil menjalankan tugasnya sebagai manusia” 🙂

Leave a Reply