Kapan Manusia Bahagia? – p2

Melanjutkan catatan kecil gw di sini dan sini (yang udah diposting di sini)

Menurut sang dosen Sistem Operasi Lanjut, Pak Awang, ketika kita merasakan hidup makin menderita, maka kita makin mendekat pada penderitaan abadi. Sebaliknya, ketika kita merasakan hidup makin bahagia, maka kita makin mendekat pada kebahagiaan abadi.

Ibarat, ketika kita naik gunung, makin dekat ke puncak maka yang akan kita rasakan adalah dingin. Ketika kita mendekat kepada nyala api maka kita akan merasakan panas sebelum akhirnya terbakar saat sampai pada nyala api tersebut.

Di dalam kehidupan ini, menurut beliau, ada dua hal yang penting : 1) the purpose of life, 2) the necessity of life. “The necessity of life” adalah hal-hal penopang kehidupan sedangkan “the purpose of life” adalah tujuan akhir dari kehidupan kita. Kebahagiaan yang abadi akan dicapai ketika kita mengejar “the purpose of life“. Sebaliknya, ketika manusia memiliki “the necessity of life“, manusia hanya akan memiliki kebahagiaan semu dan sementara.

Banyak manusia tidak dapat membedakan antara “the purpose of life” dengan “the necessity of life“. Manusia memiliki kecenderungan untuk mengejar-ngejar dan menimbun “the necessity of life” sementara membiarkan “the purpose of life” terbengkalai. Menurut beliau, seharusnya “the necessity of life” lah yang dikorbankan untuk mencapai “the purpose of life”.

Semakin manusia mengorbankan “the purpose of life” maka manusia tidak akan pernah merasakan yang namanya kebahagiaan. Jika kita berada di jalan yang benar menuju “the purpose of life” maka kita akan semakin merasakan kebahagiaan dengan apa pun “the necessity of life” yang kita korbankan.

Gambaran yang sangat baik dari pak Awang, menurut gw, untuk menggambarkan apa itu kebahagiaan. Meski demikian, “the road to the purpose of life” dan “the purpose of life” itu sendiri rasanya masih terlalu abstrak untuk digambarkan dalam dimensi yang dapat diproyeksikan oleh otak manusia.

One thought on “Kapan Manusia Bahagia? – p2”

Leave a Reply