Kapan Manusia Bahagia?
by Petra on Feb.03, 2009, under Opinions
Pas kuliah Sistem Operasi Lanjut, sang dosen menanyakan “Kapan manusia bisa bahagia?”. Dan gw kena tunjuk.
Gw simply cuman jawab “Manusia bahagia jika manusia tidak butuh apa-apa”
Terlepas dari apa jawaban yang “benar” menurut sang dosen, I always regard the conditional “a man is happy if he needs nothing” sounds.
So far, I only find one way to happiness: to have everything. A man is happy if he has everything. The condition is still sounds as everything is the complement of nothing. A man is happy if he needs nothing which implies he has everything.
But, there are still 3 ways interpreting “to have everything” :
- A man could earn every atomic entity in this universe, which obviously is still impossible in every means possible.
- A man thinks he has everything, which implies a man who thinks he has everything is happy.
- A man has what he thinks is everything, which implies a man who has what he thinks is everything is happy.
The point lies in way 2 and 3 is in the word “think”. A man is just what he thinks he is.
In other words, A man is happy if he thinks he is happy in either way he thinks he has everything or he has what he thinks is everything.
Simply, if you thinks you are happy then you are happy.
(tiba-tiba jadi bahasa inggris, balik ke bahasa Indonesia dulu)
Kebahagiaan hanya dibatasi pemikiran pribadi. Ketika seseorang merasa bahagia, apa pun pendapat orang, dia tetap bahagia.
Seorang tukang becak yang setiap hari harus mengayuh di bawah terik matahari, mungkin dianggap tidak bahagia oleh masyarakat karena kemiskinannya. Tapi ketika dia pikir dia bahagia karena dia pikir dia sudah mempunyai segala yang dia butuhkan , dia bahagia.
Seorang ilmuwan yang meninggal sendirian di labnya dan baru ditemukan 3 hari sesudahnya, mungkin dianggap tidak bahagia oleh masyarakat karena kesendiriannya. Tapi saat dia hidup, ketika dia pikir dia bahagia karena dia sedang melakukan apa yang dia anggap segalanya, dia bahagia.
Seorang kaya yang sukses dalam ukuran masyarakat yang tiap hari hidup di tengah kemewahan, mungkin dianggap bahagia oleh masyarakat karena kesuksesannya. Tapi ketika dia merasa tidak bahagia merasa dia pikir dia tetap kekurangan, dia tidak bahagia.
Seorang pekerja yang setiap hari bekerja keras, mungkin dianggap bahagia oleh masyarakat karena keuletannya. Tapi ketika dia pikir dia tidak bahagia karena dia tidak punya apa yang dia pikir adalah segalanya, still dia tidak bahagia.
Manusia adalah apa yang dia pikirkan. Pemikiran adalah bukti eksistensi manusia. Cogito ergo sum.
And again it’s that simple, if you thinks you are happy then you are happy.
10 Comments for this entry
1 Trackback or Pingback for this entry
-
Petra’s Blog » Blog Archive » Kapan Manusia Bahagia? - p2
February 6th, 2009 on 10:38 am[...] Melanjutkan catatan kecil gw di sini dan sini (yang udah diposting di sini) [...]
February 3rd, 2009 on 11:58 pm
bukannya lo uda bahagia pet? katanya orang gendut dan punya banyak tabungan itu adalah orang yg bahagia
)
February 4th, 2009 on 2:42 pm
hmmm… klo dari sisi lain (selain masalah kebutuhan), gw siy berpendapat bahwa “manusia bisa bahagia kalau ia berhasil menjalankan tugasnya sebagai manusia”
February 4th, 2009 on 6:15 pm
manusia bahagia kalau di dalam hidupnya datang sebuah keberhasilan
February 4th, 2009 on 10:21 pm
kurang 1 huruf kayaknya biar lebih tepat..
February 5th, 2009 on 6:52 am
itu keknya kurang banyak huruf deh
February 5th, 2009 on 2:44 pm
manusia itu bahagia waktu mereka mikir mereka bahagia…
it’s just about how do you feel, see, and think about ur life
February 7th, 2009 on 8:32 pm
Jd, pet… kam bahagia ga? hihi
February 7th, 2009 on 11:28 pm
@desni:
masih banyak hal yang diinginkan ini
February 8th, 2009 on 6:42 pm
and.. it means u’re not happy right now??
February 9th, 2009 on 8:09 am
entah