Alasan kenapa penggunaan DFD membuat “susah maju”

Berhubngan dengan post tentang “HARI GINI BELAJAR DFD? KAPAN MAJUNYA….

Ternyata pihak STTIS telah mengajukan argumennya. Bunyinya begini.

HARI GINI MASIH BELAJAR DFD??
KAPAN MAJUNYA??

Saat ini lulusan informatika dan komputer dituntut menguasai berbagai framework pengembangan perangkat lunak seperti J2EE, J2ME, PHP, atau framework terkini lainnya, dengan bahasa pemrograman Java, PHP 5.0 sebagai perangkat implementasinya.

Tuntutan kompetensi membuat program dengan kaidah OBJECT-ORIENTED SOFTWARE ENGINEERING menjadi suatu KEHARUSAN bagi para lulusan informatika dan komputer, karena framework dan perangkat implementasi tersebut semuanya bekerja berdasarkan prinsip PEMROGRAMAN BERORIENTASI OBJEK.

Jadi sudah BUKAN JAMANNYA LAGI calon-calon lulusan informatika dan komputer diajarkan FLOWMAP, DFD, atau bahasa pemrograman prosedural yang merupakan perangkat pengembangan di era 1980’an. Ini sama saja seperti mempelajari cara memperbaiki TV yang masih menggunakan transistor di era teknologi microchip.

So, bagi kalian yang ingin menguasai kompetensi OBJECT-ORIENTED WEB SOFTWARE ENGINEERING dengan menggunakan perangkat pengembangan Java, JSP, PHP 5.0, UML, dan perangkat berorientasi objek lainnya, ayo gabung @ STTIS.

Menerima mahasiswa baru dan pindahan/melanjutkan
Semester Genap 2007/2008

S1 Teknik Informatika
D3 Teknik Informatika
D3 Manajemen Informatika

Informasi dan pendaftaran :
Jl. Supratman No. 88, Bandung
Telp. 022 – 7233289

30 thoughts on “Alasan kenapa penggunaan DFD membuat “susah maju””

  1. Wah, promosi yang kayak gini, yang gw tangkep artinya kita cuma belajar OOSE + tools-nya doank donk? Ga ada kesempatan buat belajar yang lain deh… : (

  2. Klo memang untuk modeling dan nantinya hanya akan di bahas di team internal yang mengerti sih, sah2 saja mengunakan berbagai macam metode modeling

    tapi teutepp ketika bertemu client yang ingin menndapat penjelasan tentang proses, jurrus2 lama keluar juga seperti flowmap ato DFD 🙂

    yah intinya sih, jangan sampai terjebak terhadap satu metode yang akhirnya kita terlalu fanatik terhadap metode tersebut
    dan tidak peduli terhadap sekeliling kita 🙂

  3. Tadi siang dalam Seminar TA I seorang mhs bimbingan saya mempresentasikan fungsional perangkat lunaknya dengan DFD. Bagi mhs tsb dan dosen pembimbingnya, tidak ada perasaan ketinggalan zaman atau merasa tidak maju karena menggunakan DFD. Penggunaan kakas pemodelan apapun tidak ada hubungannya dengan kemajuan, yang penting fungsional perangkat lunak dapat dimengerti oleh pengembang dan klien. Bahasa iklan STTIS itu bisa menyesatkan bagi orang awam.

  4. @Pak Rinaldi :
    Pendapat saya begini, Pak. Sebagai perguruan tinggi swasta biasanya orientasi mereka itu pada bursa tenaga kerja. Sekarang yang sedang populer adalah penggunaan kakas pemodelan yang sifatnya Object Oriented jadinya mereka mengejar target lulusan mereka langsung bisa terpakai.
    Permasalahannya pada marketing. Menyesatkan memang, tapi ya itulah marketing.

    @ Ghifar :
    Ho oh, mereka terlalu specialized, soalnya.

    @ Yudha :
    Setuju gw, hehehe…..
    asal klien dan developer seneng, gak masalah 😀

  5. heuheu.. bukan marketing sih.. tapi market demand.. emang banyaknya kerjaan yang minta OO trus ngerti cara pake framework X, Y, Z.

    yang kasian, bisa uml tapi makenya ga jauh beda kyk pake visual programming cuma drag n drop trus giliran dipaksa koding padahal sederhana nggak bisa..

    akh.. masa bodo deh.. dah pernah dibilangin kan?

  6. DFD ato UML itu tujuannya nyeleseiin masalah, bukan untuk menambah masalah… so? teuteup… jangan fanatik sama teknologi, kakas, ato metodologi tertentu… peace ah V ^_^

  7. @pebbie :
    udah tau kok… cuman ngangkat jawaban dari STTIS aja

    @shieny :
    iya… tapi udah jarang kepake emang….

    @diaz :
    setuju, yaz!

    @anggri :
    well, gw juga belom pernah dapet…..

  8. Ternyata STTIS dan SSC satu perusahaan..
    Wah, ga nyangka bisa ketemu Pak Rinaldi Munir di sini. Salam kenal dari master cherundolo Pak. Bukunya keren lo, saya beli yang asli 🙂

  9. Apa sih bedanya DFD dan diagram berbasis Object Oriented (detilnya).
    Mohon maklum coz’ masih orang awam. ^_^
    Tx bfre…

  10. Object oriented menawarkan cara pembuatan program yang berorientasi pada objek. Tentunya dengan beberapa metode seperti RUP dan UP. Java sebagai salah satu bahasa pemrograman yang sejak lahirnya telah mendukung konsep OO.
    Kita tidak bisa menutup mata, 2 persaingan teratas antara java dan keluarga .Net dengan OO. Bahkan PHP 5 pun terus berusaha menyempurnakan konsep OO yang telah ada pada PHP 4.
    Penguasaan Java tanpa bisa menerapkan konsep OO adalah suatu kebohongan.
    Saya rasa tidak ada yang salah jika ada upaya dari beberapa pihak agar kita mempelajari sesuatu hal yang baru. Toh kita di TI,IF atau apapun itu namanya mengalami kemajuan lebih cepat dari jurusan lain, coba aja lihat perkembangan ilmu di TI dibanding jurusan lain sejak tahun 60an.
    Jangan sampai di USA orang belajar tahun 70an , di Indonesia baru kita pelajari.
    Terus pada saat akan melamar kerja di perusahaan papan atas, kita dituntut untuk mempelajari suatu hal yang baru dengan alasan di kampus tidak di pelajari.
    Atau kampus tidak mengajari.
    Gak salah kan kalau ada kampus yang udah lebih dulu mengajarkan pada saat kita jadi mahasiswa dan tinggal mengimplementasikan saat akan bekerja.

  11. @Berusaha_lebih_Baik
    Orientasinya kerja seh ya…. Kalau terlalu fokus pada satu jenis teknologi kita akan lama untuk mengembangkan teknologi lain dengan taraf yang sama….

    Orang banyak menggunakan OO karena paradigma ini sangat mudah untuk dipahami dan juga dapat dengan mudah merepresentasikan model-model permasalahan. Makanya OOP jadi populer.

    That’s all.
    Akan tetapi kita gak boleh menutup mata kita kepada paradigma-paradigma lain. Susah untuk maju kalau cuman berpegang pada satu jenis teknologi.

    Saya tidak mempersalahkan Anda berpegang kepada hanya satu paradigma. Tapi saya cuman mengatakan bahwa untuk hal yang bersifat akademis dan keilmuan sangat tidak pantas untuk menjelek-jelekkan paradigma lain (terutama karena dicampur dengan hal marketing)

  12. Saya tidak menutup mata untuk paradigma lain.
    Dan saya juga setuju bahwa tidaklah bijaksana merendahkan satu paradigma untuk meningkatkan paradigma lain.
    Saya cuma mahasiswa yang tidak terlibat “birokrat kampus”.
    Seperti sudut pandang berorientasi object, yang mengharuskan kita fokus pada apa yang harus ada pada PL yang akan di buat.
    Seperti itu pula pandangan saya, yang lebih berorientasi pada apa yang di butuhkan pada saat Software Development.
    Apakah berorientasi object, atau proses, masing kita punya pilihan sendiri.
    Di sini kita juga belajar DFD pada pembuatan PL berorientasi proses.
    Dan lebih di tekankan belajar model proses RUP/UP dengan tools UML dan cara pandang
    berorientasi Object.
    Jadi bukan suatu ke”fanatikan” tapi lebih di tekan kan pada kebutuhan.
    Salam kenal, mahasiswa STTIS.

  13. Kalau di IF ITB, yang ditekankan cara berpikirnya sih. Bukan teknologinya, sebenarnya.
    Masalah kebutuhan masyarakat bukanlah masalah yang harus dipikirkan oleh perguruan tinggi berorientasi riset. Tidak seharusnya perguruan tinggi dikendalikan oleh kebutuhan masyarakat.

    Itu aja.
    Yang namanya perubahan kurikulum itu harusnya berdasarkan kepada perkembangan ilmu pengetahuan, bukan kebutuhan pasar tenaga kerja.
    Bener-bener aneh kalau kita dididik hanya untuk menggunakan tools.

    Saya sangat appreciate kalau Anda menggunakan nama asli ketimbang diskusi anonim seperti ini.

  14. Saya adalah Berusaha_lebih_Baik, semoga anda cs sukses dengan risetnya . Dan menyenangkan bisa berkomunikasi dengan anda.
    Apakah ada riset anda di blog ini?

  15. 1. jangan aneh mas, kita gak cuma diajarin tools nya doank kok, anda tidak tahu dengan pasti kan proses belajar – mengajar di kampus kami so tidak sepatutnya anda mengira seperti itu (berperasangka buruk tidak baik ah).

    2. dalam UU SISDIKNAS, ada amanat agar perguruan tunggi mempunyai Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) itu salah satu bukti kita itu didik bukan hanya untuk riset tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat, toh perkembangan ilmu pengetahuan berkembang dari kebutuhan masyarakat dan dunia kerja (menurut saya lho.

    3. jangan merendahkan pengetahuan anak sma atau smk, saya aja kalah codingnya dibanding mereka, udah banyak lho jurusan smk informatika di indonesia, mungkin maksud manajemen kami menjaring kalangan tersebut.

    4. dosen atau ketua jurusan kami yang merancang kurikulum itu lulusan dan juga dosen ITB, silah kan tanya langsung deh http://totosuharto.wordpress.com biar anda dapat menumpahkan kekesalan anda juga mendapat penjelasannya.

    itu aja deh comment dari saya

    “We Are Diffrent”

    Salam
    Saeful Rahman
    (hanya mahasiswa yang pengen lulus)

  16. 1.
    iklan sudah menggambarkan hal itu. kalau memang tidak ya gak usah pake iklan itu.
    buat apa pasang iklan yang mendiskreditkan soal DFD kalau memang ternyata di kuliahnya juga diajarkan. hipokrit atau jangan-jangan DFD di sana diajarkan hanya dibilang supaya tidak dipakai.
    lagipula saya rasa di Indonesia iklan yang mendiskreditkan suatu hal itu rasanya gak etis.

    2.
    ya tergantung orientasinya. opini saya, perguruan tinggi itu sebenernya tidak seharusnya mengikuti kebutuhan pasar tenaga kerja. karena saya rasa sayang jika sebuah ilmu didiskreditkan karena permintaan pasar tenaga kerja yang sangat kurang untuk ilmu tersebut.
    well, fakta memang sangat tidak manis.

    3.
    saya gak merendahkan, kok. in fact rekan-rekan saya di TOKI yang masih SMA juga jauh lebih jago daripada saya soal coding. saya kira sebenarnya jangan terlalu disodori hal-hal yang sifatnya terlalu praktis.

    4.
    saya tidak ada masalah dengan kurikulum anda kok. in fact saya juga gak peduli sebenarnya. yang saya peduli itu tentang iklannya aja. karena saya rasa flowchart, dfd, dan bahasa-bahasa prosedural masih cukup jaman dan akan terus jaman.
    agak terlalu menyesatkan sebenarnya.

  17. @Rinaldi Munir
    betul pak segala sesuatu bagi yang awam akan menyesatkan, setuju pisan… nah.. tugas kita yang katanya ber-Knowlage untuk memberikan pemahaman sehingga apa yang dikhawtirkan bapak tidak terjadi.

    permasalahan merasa tertingal atau tidak maju sih personal ya pak, berikut manajemen kita yang merasa seperti itu jadi susah deh kalau personal mah.

    tidak mengurangi rasa hormat saya loh pak banyak kok buku bapak yang menjadi pegangan saya, hanya memanfaatkan kebebasan kita untuk berpendapat. salam

  18. 1. DFD di kita hanya diberitahukan saja tidak dipelajari hanya sebagai pengantar, karena fakta UML lebih banyak dipakai. kembali pada tulisan saya diawal jangan berandai-andai alias suudhan, kita orang exact mas.

    2. kalau kita berorientasi kuliah untuk kerja memang kurang baik hanya akan menjadi beban bagi kita, tapi apa salahnya bila ada lembaga atau orang yang ingin mengakomodir antara kompetensi dan keilmuan, sehingga Penganguran Terdidik bisa diminimalisir (baca : http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/22/00141648/penganggur.terdidik.45.juta). och… 45 juta… bukan nilai yang kecil lho! kita mesti bertanya kenapa dan ada apa? hemat saya sih karena dunia pendidikan kita kurang berimbang antara kompetensi dan keilmuan juga tidak melihatnya kebutuhan pasar tenaga kerja.

    3. syukur dech kalau mas tidak bermaksud seperti itu hanya penasaran tulisan mas : “mangnya anak SMU ngerti gitu?”. apa betul? kita hanya disodori hal-hal yang sifatnya berbau praktis saja, kembali lagi saya tanya mas tahu proses belajar-mengajar dikita?

    4. saya pun kalau mo dibilang peduli atau tidak peduli sih gak peduli mas, apakah mau UML atau DFD, iklan atau apalah, masih banyak masalah pribadi yang mesti saya beresin terutama kuliah saya, akan tetapi ini sudah menjadi permasalahan yang harus ada kejelasan, dan kita tidak bisa melihat dari sebagian saja, atau luar nya saja “don’t judge the book by it’s cover” tapi secara menyeluruh dan toh bila ada pertanyaan bisa di tanyakan langsung pada inisiatornya, begitu maksud saya.

    Salam kenal
    Saeful Rahman

  19. mengenai masalah kuliah untuk kerja, itu opini pribadi saya dan saya pribadi senang kalau anda setuju. tapi saya sudah menegaskan kalau kenyataan memang tidak semanis idealisme.
    saya rasa pernyataan saya sudah cukup retoris.

    kemudian masalah apakah di STTIS cuman diajarkan tools atau tidak, kembali saya bilang, iklan sudah menggambarkan. wong di iklan sudah ada gambar Java dan UML, kok.
    pada intinya teman-teman di informatika ITB begitu melihat iklan tersebut sudah langsung terbentuk mindsetnya kalau di STTIS cuman diajarin tools aja. argumen yang diberikan pada situs STTIS pun juga menegaskan mindset kami kalau pengajaran di STTIS difokuskan kepada tools seperti Java, PHP, dan UML.
    wajar saya rasa kalau banyak dari rekan-rekan di IF ITB beranggapan seperti itu?
    (anda bisa lihat beberapa komentar pertama)

    yang agak mengusik hati saya itu ada kesimpulan “penggunaan kakas-kakas tua (DFD, C, Pascal, dll) akan menyebabkan penggunanya susah maju”.
    oke, beberapa dari kami mungkin agak tersinggung karena dibilang “susah maju”. wajar lah, kita capek-capek setengah semester diajarin DFD sampe dalem banget 😛 diajarin satu semester pake C, diajarin satu semester pake pascal dan LISP, dibilang “susah maju”

    saya sangat yakin kalau banyak dari pihak STTIS akan bilang, “silakan kembalikan kepada individu masing-masing apakah susah maju atau tidak” atau “silakan urusi kepentingan masing-masing” (pasti ujung-ujungnya kesimpulannya ini kok :lol:)

    oke, daripada kita terus berdebat (dan ujung-ujungnya akan berakhir pada kesimpulan di atas), saya ingin mengajak rekan-rekan di STTIS terutama mahasiswa untuk berbagi mengenai kehidupan kampusnya.

    perkenalan antara rekan-rekan di IF ITB dengan rekan-rekan STTIS saya rasa sudah agak jelek karena kata-kata “penggunaan DFD susah maju”, jangan dibikin tambah jelek lagi.
    mungkin rekan-rekan sudah merasa tersinggung dengan beberapa pendapat saya di atas sama halnya dengan rekan-rekan di IF ITB juga merasa tersinggung dengan iklan STTIS 😀 tapi tujuan saya sebenarnya untuk menampung pendapat-pendapat dari rekan-rekan IF ITB dan juga saya ingin menarik opini dari rekan-rekan di STTIS.
    (karena kalaupun saya langsung imel ke inisiator dari STTIS jelas manfaatnya hanya untuk saya :D)

    that’s all.

  20. sip…. deh… mas… kita khususnya saya juga mohon maaf kalau dan mungkin tulisannya agak bersemangat he… he…

    memang betul, pada dasarnya kita semua akhirnya akan berujung pada pemikiran diatas, dan akan susah menemukan jalan keluarnya, akan selalu ada argument karena di dua pihak mempunyai pemikiran dan bukti yang otentik.

    kita tidak harus menjadi jelek, toh beradu argument dalam dunia pendidikan apalagi pendidikan tinggi merupaka hal lumrah dan menurut saya malah wajib untuk berbeda, karena akan lebih mengembangkan wawasan dan cara berpikir kita.

    ok dech saya mengerti tujuan mas, mungkin ini salah satu usaha mas dalam memajukan dunia pendidikan kita, salut deh…

    kapan-kapan saya numpang comment lagi ya… mungkin bisa saling berbagi, maklum masih harus terus belajar….

    salam.

Leave a Reply