Propaganda

Ngeliat dari milis Agenda Ganesha

Assalamualaikum!
Salam Ganesha!

Alhamdulillah, kemarin Sabtu, 16 Februari 2008 satu tim gabungan dari Kabinet KM ITB dan Majalah Ganesha ITB telah melaksanakan kunjungan ke keluarga Pak Slamet, pedagang tahu goreng yang bunuh diri di Kampung Cimendang, Pandeglang. Dari hasil dialog kami dengan keluarganya, ternyata Pak Slamet sudah lama ‘bosan hidup’. Mmh, ya iyalah, gimana ga bosen hidup, sementara harga naik terus, tapi pendapatannya ga nambah.

Setelah sebelumnya kami menggalang dana selama 2 hari (14-15 Februari), kami memberikan sumbangan kepada keluarga tersebut. Yah, memang tidak signifikan, toh anaknya sudah mendapatkan beasiswa dari SD-nya (FYI, Pak Slamet tidak suka anaknya diberi beasiswa). Tapi seenggaknya kami berbuat lebih dari sekedar pemimpin nasional yang pinter buat lagu atau bisnis, atau sibuk menggalang dana buat pemilu dengan modus:
– Korupsi Dana BLBI
– Kenaikan tunjangan DPR
– ah, udahlah, makin sakit hati aja…

Follow up dari gerakan ini adalah menuliskan reportase perjalanan kami ke Media Massa dan Sosialisasi ke massa kampus.

Sed Magis Amica Veritas
Kami Cinta Kebenaran!
Kami Cinta Keadilan!
Kami Cinta Indonesia!

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater!
Wassalamualaikum!


Bisa dicermati tulisan yang dibold. Heran, kok hari gini masih make kata-kata propaganda kek anak kecil gini, sih?

Beliau adalah public figures, wajar dong kalo banyak kesalahan yang keliatan? Manusia gak terlepas dari kesalahan. At least beliau masih mau menyisihkan waktu buat mencipta lagu di sela-sela kerjaannya sebagai pemimpin negara. Dan beliau juga mampu dalam banyak hal sesuai dengan kemampuan yang diberikan.
Hanya saja kalau semua orang harus beliau kunjungi kapan beliau bisa mengerjakan pekerjaannya untuk mencegah jutaan orang lain melakukan hal yang sama?
Kalau memang kita ikhlas mau mengunjungi keluarga yang ditinggalkan oleh Pak Slamet, kenapa sih harus dibandingin sama orang lain? Kenapa sih harus merendahkan orang lain?

Ntahpapa!

Mbok ya kalo mo bikin propaganda yang bagusan dikit toh. Jangan pake bahasa ngambek cengeng a la anak SD.
Semoga pas udah jadi politikus gak kek gini lah. Gak beda ntar sama yang sering dikritik sekarang, mah. Kesian ngeliatnya.

5 thoughts on “Propaganda”

  1. Ketika rakyat bicara banyak maka demokrasi yang sebenarnya sudah tegak. Ketika kritik rakyat semakin pedas berarti rakyat sudah mulai merasakan dirinya memang memiliki negara. Ketika tulisan tentang tindakan kemanusiaan atau sosial maka orang-orang akan mulai tahu bahwa setidaknya ada yang melakukan hal itu di Indonesia walaupun dengan content yang mungkin anda rasakan seperti anak SD.

    Jika ternyata beberapa kalangan melakukan sesuatu berarti ada tujuan dari propaganda tersebut. Rakyat yang dinamis sedang mencari bentuk dari cara mereka berbangsa dan bernegara.

    Kalau memang kita ikhlas mau mengunjungi keluarga yang ditinggalkan oleh Pak Slamet, kenapa sih harus dibandingin sama orang lain? Kenapa sih harus merendahkan orang lain?

    gw mau kasih selintas jawaban yang terpikir oleh gw :
    Supaya ada bagian dari pemerintahan yang memberikan santunan ke Pak Slamet. Kenapa harus dibandingin ? Karena tugas negara adalah melindungi rakyatnya. Kenapa harus merendahkan ? Supaya pemerintah makin peka dengan keadaan rakyatnya

  2. bukan berarti pemerintah harus melakukan segala hal khan?
    untuk itu perlu kepedulian sosial.
    lagipula, enak banget bunuh diri disantunin…..

  3. kalau pemerintah tidak mau melakukan segala hal demi masyarakatnya buat apa pemerintah?
    mending dibubarkan saja.
    kalau anda yang berada disana dan melihat kondisi masyarakat sana, pasti anda akan berpikiran lain.
    saya salah satu orang yang menginisiasi agar mengadakan kunjungan sosial disana.
    Propaganda? iya mungkin benar itu propaganda.

    Coba anda lihat, pemerintah kita sendiri pun melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk membodoh-bodohi rakyat.
    Tapi tujuan propaganda disini agar massa kampus tersadarkan bahwa kondisi diluar sana sangat lah jauh beda dengan kondisi di koran, di televisi atau pun kondisi di kehidupan sehari-hari kita.

    apakah tujuan propaganda seperti ini yang anda bilang seperti anak SD?

    saya kasih tau tentang yang anda bold itu
    1. Mmh, ya iyalah, gimana ga bosen hidup, sementara harga naik terus, tapi pendapatannya ga nambah.

    kemana pemerintah, apakah pemerintah hanya bisa membuat kebijakan tanpa melihat kondisi masyarakatnya secara menyeluruh? dan buat apa ada pemerintah jika tidak bisa memakmurkan dan mensejahterakan seluruh rakyatnya..

    2. Tapi seenggaknya kami berbuat lebih dari sekedar pemimpin nasional yang pinter buat lagu atau bisnis, atau sibuk menggalang dana buat pemilu dengan modus:
    – Korupsi Dana BLBI
    – Kenaikan tunjangan DPR
    – ah, udahlah, makin sakit hati aja…

    apa solusi dari pemerintah? pemerintah kita hanya bisa memberi solusi bagi para pengusaha asing agar tidak cabut dari indonesia.. tau kah anda penyokong perekonomian indonesia pada tahun 98 dulu itu adalah UKM?

Leave a Reply