Haruskah perfeksionis?

Perfeksionis atau perfectionism menurut Merriam-Webster Dictionary adalah

1 a: the doctrine that the perfection of moral character constitutes a person’s highest good b: the theological doctrine that a state of freedom from sin is attainable on earth
2: a disposition to regard anything short of perfection as unacceptable

Berikut sebuah artikel keluaran tahun 2005 tentang perfeksionisme. The Pitfalls of Perfectionism

Menurut artikel tersebut ada tiga jenis orang perfeksionis

  1. Orang yang tidak pernah puas akan kemampuan dirinya.
  2. Orang yang selalu ingin terlihat sempurna di depan dunia.
  3. Orang yang memaksakan standar tingginya kepada orang lain


Jujur, saya tidak terlalu suka melihat ketiga jenis orang tersebut. Okay, untuk sebuah hal memang saya termasuk orang yang ketiga, yakni dalam hal koding bareng 😛 Tapi sepertinya ini gak masalah besar, soalnya belum ada yang komplain 😀 Lagipula itu karena saya malas bukan karena saya perfeksionis.

Yang paling saya kesel itu orang yang terlalu berlebihan dalam melakukan dan menilai suatu hal dan orang lain. Kok keknya apa yang udah saya lakukan tuh gak ada bener. Kok sepertinya saya tuh selalu dianggap lebih gak skill daripada dia. Sifat-sifat underestimate seperti itu hampir selalu ada di semua orang perfeksionis yang pernah saya temui. Ketika saya mendapat suatu hal yang lebih jelek daripada dia, dia sepertinya langsung merasa bangga. Ketika saya mendapat suatu hal yang lebih bagus daripada yang dia dapat, kok rasanya ada aura-aura yang kepengen ngebackstab saya sih 😛

Padahal khan saya gak salah apa-apa…. Entah sih ya. Untung saya bukan seorang perfeksionis yang punya sifat underestimate. Secara pribadi saya tuh orangnya malah bisa dibilang apa adanya alias pas-pasan. Dibilang underachiever sih bisa-bisa aja, sebenernya. Malah motto saya itu, “Kalau gak belajar aja bisa dapet A kurus, ngapain belajar berjam-jam buat dapet A sempurna? Sama-sama A toh? :mrgreen: “. Well, bukan males atau sombong, tapi prinsip saya itu berdasarkan pada efisiensi dan efektivitas 😀 Ada hal yang bisa dikerjakan yang ternyata lebih menguntungkan daripada memanjangkan sesuatu kepada kesempurnaan.

Sebagai contoh sebuah cerita dari TI4051 K04 tentang Balada Dadan dan Oon (CMIIW) yang intinya adalah buat apa produk bagus-bagus keren-keren tapi kalo gak ada yang mau :mrgreen: Mendingan produk yang biasa-biasa saja tapi orang yang mau beli tuh banyak. 😛 Buat apa sekolah tinggi-tinggi dan punya harta banyak-banyak kalau bahkan orang yang kita sayangi pun rela mengesampingkan kita dari orang lain. Dan juga di kuliah tersebut ada cerita tentang Pak Haji Soma yang akhirnya mengerti bahwa pabrik tenunnya itu mendapat untung yang optimal dengan 120 buah mesin tenun dan tidak lagi memperbesar pabrik tenunnya malahan membuat usaha-usaha yang lain.

Dah ah, out of topic.

Judul saya sih itu sebenernya intinya adalah buat apa jadi orang yang perfeksionis kalo ujung-ujungnya tuh lebih sering underestimate orang lain atau lama-lama kelewat ambisius overachiever sehingga mengorbankan banyak hal yang lebih penting. Well asal jangan sampai seperti itu ndak masalah lah, sebenarnya. 😛
(honestly ini di luar urusan akademik kuliah)

Yah, buat yang merasa saya sindir (tapi sepertinya gak mungkin baca juga, sih) ada sedikit hasil riset menurut artikel tersebut

Findings from decades of personality research say plenty. Even though perfectionists are often high-achievers, they are also at risk for eating disorders, sexual dysfunction, obsessive-compulsive disorder, depression, divorce, and suicide. They lead a life of continual anxiety and fear of failure. Even when they succeed, like Venus Williams, perfectionists never feel satisfied

:mrgreen:

(intinya sih cuman buat nyindir doang) *kabur*

*balik lagi*
Tambahan :
ternyata senada dengan post ini, toh…. *sigh*
*kabur lagi*

3 thoughts on “Haruskah perfeksionis?”

  1. kalo gua perhatiin, di kampus ini, perfectionist thing yang agak ngeganggu adalah menganggap pendapatnya lah yang paling benar, sehingga jika ada pendapat lain, si orang yg berpendapat pastilah langsung dicap bersifat ini lah anu lah…

    sebenernya gua nyindir seseorang juga sih :p

    *jadi pengen curhat*

    ada suatu forum (cari aja lah di serious discussion) di mana gua dan anak2 lain hanya berdiskusi dalam konteks mikro, sedangkan dia dalam konteks makro (sebut2 nama tuhan). trus gua jadi dianggap “mau mengerdilkan peran fungsi serta amanat kemanusiaan” dll..

    sebenernya gua sebel juga dibilang kek gitu.. cuman gua ga ladenin lah orang cem gitu.. cape sendiri ntar..

    *curhat mode off*

    (wew.. komennya lumayan panjang juga ya :lol:)

Leave a Reply