Kritik lagi buat ITB

Di samping kritik tentang pengamanan ITB selama libur puasa, ternyata ada lagi kritik baru buat sistem penerimaan mahasiswa baru ITB.

Brian wrote

A lot of science medalist facing a complicated and bureaucratic system to enter the national university. As a matter of fact, this mid-year, about 10-15 students from Indonesian Co….

(link)

Isinya mengenai kritik tentang dari penerimaan mahasiswa baru ITB untuk peserta pelatnas 30 Besar Tim Olimpiade Komputer Indonesia 2007 kemarin yang kelas XII. Dari seluruh anak kelas XII yang mendaftar untuk masuk Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, hanya 3 orang yang diterima, kalau tidak salah 1 yang diterima melalui USM ITB dan yang 2 lewat SPMB. Sisanya 1 orang masuk FMIPA ITB, 2 orang masuk Teknik Mesin ITB.

Sementara satu orang yang masuk FMIPA ITB itu, yakni Brian sendiri, adalah pemegang medali Perunggu IOI 2007, Kroasia (yang diselenggarakan setelah SPMB). Untungnya, karena dia sendiri adalah pemegang medali, maka NTU (Nanyang Technological University) berbaik hati untuk menerima dia masuk jurusan Computer Science pada semester II depan.

Satu lagi, disebutkan pula di blognya, tentang salah satu pemegang medali perak IOI 2007 kemarin yang masih duduk di bangku kelas XII, Karol Danutama. Kebetulan dari pembicaraan – pembicaraan saya dan dia, dia mengungkapkan bahwa dia sangat ingin masuk program studi Informatika ITB meski sebenarnya dari mulai awal semester ini dia sudah ada jaminan diterima masuk Computer Science NTU. Karena pertimbangan tertentu dia lebih memilih IF ITB ketimbang CS NTU. Dan sekarang dia itu sedang dilema ingin fokus ke studi untuk USM dan SPMB daripada IOI.

Saya bukan membela satu orang Karol, tapi juga untuk Karol – Karol yang lain.

Kalau NTU bisa memberikan jaminan kepada siswa berprestasi, kenapa ITB enggak?

36 thoughts on “Kritik lagi buat ITB”

  1. ini pernah jadi pembicaraan di milis dosen.

    dolo juga sempet masuk koran. pemenang olimpiade bio ga mampu bayar tetep di tagih. akhirnya klo ga salah satu orang milih di udayana satu lagi masuk bio dengan uang dari alumni yang prihatin atas kejadiian ini.

  2. Thx Pet. Gw sebagai orang luar ITB ga bisa berbuat banyak. Tapi gw udah hampir putus asa ngeliat fakta bahwa Bu Inge pun ga bisa ngapa – ngapain. Apa perlu gw (kita ?) tulis di koran biar semua pada terbuka matanya ? Ga cuma ITB si gw bilang, tapi PT2 laen di negeri ini. Untuk jurusan yang ga related sama bidang kita mungkin masih bisa gw terima, tapi kalo yang related… ya begitulah. Bener apa yang dibilang Brian, ga segampang itu untuk cemerlang secara akademik buat kita – kita manusia olimp ini. Ga pernah kan ngerasain pulang dari pelatnas atau IOI langsung mid semester ato ulangan semester ? Apa perlu gw tunjukin nilai mid semester Biologi Ricky dengan angka 31 ? Gw sih sampe sekarang ga bisa mengharap macem – macem dari Pak Suryana ato Ibu Inge, melihat fakta – fakta yang ada… Mau gimana Pet ? Artinya gw harus konsen USM dan SPMB, dan (mungkin) good bye Egypt…..

  3. @rendy :

    maklum memang….

    @sawung :

    ada arsipnya gak?

    @rime :

    gimana masukinnya?

    @karol :

    yah, gimana ya, rol… gw juga gak ngerti mo ngebantuin gimana…. agak susah memang nasib elo…
    ntar lah biar gw obrolin lagi sama pak Adi, bu Inge, atau pak Sukrisno (kaprodi) kalo bisa…. gimana baiknya…

    @vennie :

    ^_^ jangan patah semangat ya di TOKI

  4. Yah bagus lah kaya gitu. Daripada dimasukin ke STEI tanpa perjuangan tapi nantinya malah milih elektro, mending nerima yang niat masuk lewat SPMB/USM.

    Dan menurut gua pribadi, jauh lebih baik IF ITB seperempatnya (30 dari 120) diisi oleh mereka yang buta komputer daripada kalo seperempatnya diisi oleh mereka yang udah ikutan TOKI. Asal tau aja ya, ada temen gw yang masuk IF dulu bahkan ga tau gimana make yang namanya disket. sekarang, dia udah skill abis koding dan perancangannya. Coba kalo yang gantiin dia masuk IF dulu anak TOKI, mungkin skarang temen gua itu ngga punya skill apa2 di bidang IT, dan Indonesia bakal kekurangan satu lagi tenaga kerja IT-nya. Sedangkan anak TOKI itu jelas bakal tetep punya skill di IT juga kalo emang dia niat.

    Janganlah berpikir dari sudut pandang menara gading, yang memusatkan ilmu pengetahuan secara eksklusif pada kalangan tertentu saja. Yang Indonesia butuhkan adalah pemerataan ilmu, jangan hanya yang itu2 saja yang diberikan kesempatan.

  5. gak setuju gw….
    bukan masalah pemerataan ilmu juga…. masalah keadilan juga sih ini……

    mereka yang udah rela ngorbanin pelajaran SMA untuk mengharumkan nama baik bangsa, kenapa gak dikasi jaminan gitu biar tambah serius….
    bayangin lah…. sementara teman-temannya sebangku SMA sibuk belajar dan ikut bimbingan belajar untuk menghadapi ujian sekolah dan ujian SPMB/USM, mereka berminggu-minggu ikut pelatnas, ikut latihan, dan belajar sendiri untuk menghadapi olimpiade keilmuan tersebut……

    justru orang-orang yang berprestasi dan jelas-jelas berpotensi harusnya dipertahankan khan?
    apa perlu kejadian macam batik dan angklung dipatenkan oleh negara tetangga karena kita mandang sebelah mata?

    kalo ngomong contoh, bukan enggak banyak juga khan rekan-rekan kita di IF yang sampai sekarang masih ngerasa salah jurusan?

    Yah bagus lah kaya gitu. Daripada dimasukin ke STEI tanpa perjuangan tapi nantinya malah milih elektro, mending nerima yang niat masuk lewat SPMB/USM.

    terus berapa banyak dari yang kedua itu yang akhirnya ujung2nya milih prodi sebelah?

    Sedangkan anak TOKI itu jelas bakal tetep punya skill di IT juga kalo emang dia niat.

    well, tetep punya skill? pantes orang Indo gak maju-maju keknya…. *sigh*

  6. @Ibam
    Saya tidak setuju dengan Anda, teman Anda yang Anda ceritakan itu, ada berapa yang se-type dengan dia? Ada berapa orang yang Anda temukan memiliki motivasi sebesar dia?
    Masalah utama dari orang TOKI adalah “KESOMBONGAN”.
    Dan masalah utama dari orang bukan TOKI adalah “PERCAYA DIRI”.
    Untuk orang TOKI, karena dia merasa dia bisa menguasai ini itu dengan mudah, dia mungkin menjadi sombong, malas mencari tahu, karena merasa “Ah, kalo cuman itu mah keciiiilll.” Padahal tanpa kerja keras tidak akan ada hasil yang memuaskan (hanya kasih karunia saja kalo bisa tanpa kerja keras).
    Untuk orang bukan TOKI, mungkin dia merasa kurang percaya diri sehingga menganggap dirinya tidak bisa menguasai ini itu. Jadinya dia tidak ingin berusaha untuk mencari tahu (kalah sebelum berperang namanya). Apalagi melihat ada teman2nya yang udah bisa “Kok aku ga bisa se-level dia ya?” malah tambah down mentalnya. Padahal dia ga tahu bahwa siapa tahu temannya dulu juga ga tahu apa2 seperti dia. Kalau saja dia berusaha, siapa pun pasti bisa.

    Siapa saya? Saya termasuk orang TOKI juga, hanya tidak sehebat teman2 TOKI yang lain. Kenapa saya tahu bahwa orang2 TOKI ada yang sombong? Karena saya salah satunya. Namun setelah mengetahui kebenarannya, saya sadar, saya tidak bisa sombong. Justru dari TOKI saya menangkap 1 pelajaran: “Saya tidak punya hak apa-apa untuk sombong.”
    Jadi, untuk semua orang, TOKI ataupun bukan TOKI, tanpa kerja keras tidak akan ada hasil.

  7. berhubung saya juga salah satu orang yang masuk ke IF ITB via jalur khusus pemegang medali OSN bidang komputer (bukan TOKI loh, perlu diralat :D, karena yang dapet jalur khusus itu pemegang medali OSN, bukan anak yang lolos seleksi TOKI 30 besar :D). Seingat saya para peserta itu harus melalui tes USM dulu. nahh… berarti kalo ga lolos, (asumsi : ga ada kesalahan penilaian dsb) ya berarti nilai USMnya jelek (can’t blame ITB bout this :D).

    Kalo masalah ngebuang pelajaran SMA untuk belajar OSN si ga masala, soalnya seingat saya USM itu menitik beratkan di Tes IQ, Matematik, Bhsa Inggris. yang tes IPA terpadunya ga penting banget en ga gitu susah (itu USM jaman saya loh, ga tau kalo skr XD).

    @oldark :
    pernah kok pulang2 langsung ujian XD (malah pernah pas pelatihan ada ujian, alhasil pulang2 ngebut nyusul 3 hari 8 mata pelajaran, untung masi lulus XD), eh kalo saya bole kasi saran, mending tetep fokus di IOI dulu. GO GET GOLD :D. masalah USM sama SPMB pikirin belakangan :D. Perbandingan nilai dapet emas di IOI sama masuk ITB itu jauh loh kalo menurut saya. semangat ya! (kok ngmngnya lewat sini XD)

  8. @Clawford : Iya kalo gw mo ambil bidang yang related sama IOI. Kalo ngga ? Apa IOI bisa jadi pembantu buat masuk ke jurusan yang saya mau ? Emang gw nanti kuliah harus ambil Computer Science jg ? Ngga jg kan… Ada kok anak TOKI yang ambil kedokteran. Trus, kalo mo masuk FKUI misalnya, bilang “Pak, saya medali emas IOI lho, terima saya yah…”. Aje gile…

  9. Kalo kita mau bicara soal keadilan, pikirkan juga jutaan remaja Indonesia lain yang ngga mendapat keadilan karena kesempatan untuk berkembang ngga pernah dateng ke diri mereka.

    Mereka yang seharusnya bisa punya kreatifitas tinggi, punya kecerdasan yang mendukung, punya keuletan dan tekad tinggi untuk membangun Indonesia, tapi harus melepas semua itu karena tidak memiliki kesempatan lain dalam hidupnya selain menggarap sawah atau mengais2 tempat sampah. Atau kalau dalam bidang IT, mereka kehilangan kesempatan itu karena harga komputer setara dengan penghasilan ayahnya selama setahun.

    Masih mau bicara keadilan? Bagaimana dengan atlet2 Indonesia yang mengorbankan lebih banyak hal dalam hidup mereka untuk mengharumkan nama bangsa? Mereka sudah berjuang mati2an secara fisik dan mental untuk jangka waktu yang ngga bisa hanya tiga bulan tapi butuh bertahun-tahun.

    Well, kalau kita mau bicara murni tentang keadilan, maka seharusnya ITB lebih memprioritaskan orang2 seperti di atas daripada anak TOKI bukan?

    Sekarang, kita bisa bicara soal potensi. Apa sih pengertian potensi itu? Dari The American Heritageร‚ยฎ Dictionary of the English Language, Fourth Edition (2000), potensi atau potential adalah:

    “The inherent ability or capacity for growth, development, or coming into being.”

    Kata kunci dalam definisi itu adalah kapasitas untuk berkembang. Sekarang bandingkan kapasitas berkembangnya skill IT mereka yang benar2 buta akan komputer, dengan anak2 TOKI. Pasti elo juga bakal setuju bukan kalau mereka yang buta akan komputer bisa mengembangkan skill IT mereka dari nol sampai tingkat skill rata2 lulusan IF ITB. Sedangkan anak2 TOKI? Gua berani jamin kalau skill mereka ngga nambah sedrastis mereka yang buta komputer begitu lulus IF ITB. Artinya, dari segi potensi, I stand corrected with my previous statement. (Statement yang bilang kalau jauh lebih baik IF ITB seperempatnya diisi yang buta komputer daripada seperempatnya anak2 TOKI) Dan gua berharap elo bisa ngerti kan pandangan gua bahwa ‘lebih baik ngasih kesempatan pada mereka yang belum dapet kesempatan itu’.

    Tapi gua udah berargumentasi logika, sedangkan gua bisa ngerti kalau kekecewaan yang elo rasakan itu dari segi emosional. Apa yang gua coba tekankan di sini adalah, salah kalo elo beranggapan anak TOKI punya potensi yang lebih tinggi daripada anak2 lain, jadi mereka ‘berhak’ diberikan kemudahan untuk masuk ke IF ITB. Toh kalau skill dan niat mereka udah terjamin sekalipun mereka ngga butuh IF ITB buat jadi sukses dan membangun Indonesia.

    Soal salah jurusan, jangan salah, gua juga salah satu dari mereka. Kalo boleh milih, gua sih mau berkecimpung di bidang Astronomi atau Fisika saja. Tapi apa itu artinya seharusnya gua dulu digantikan sama anak TOKI? Gua bersyukur gua masuk IF ITB, karena potensi gua bener2 digali di sini, dan gua diberikan kesempatan yang besar.

    Dan dari postingan asli elo di atas tentang anak2 TOKI yang diterima di NTU dan sebagainya, banyak juga anak TOKI yang diberikan kesempatan yang ngga kalah besarnya dibandingkan kesempatan gua sekarang. Jadi, kenapa mengeluh kalau begitu? Toh mereka tetap orang Indonesia juga meski kuliah di luar sana. Dan nama yang harum tetap nama Indonesia kalo mereka sukses di masa depan.

  10. Atau kalau dalam bidang IT, mereka kehilangan kesempatan itu karena harga komputer setara dengan penghasilan ayahnya selama setahun.

    bagaimana jika saya kasih contoh yang sukses? pasti Ibam bisa kasih lebih banyak yang gak bisa khan?
    seperti yang saya lakukan sebelumnya? gak akan habis-habisnya kita berbalas, jelas.

    Masih mau bicara keadilan? Bagaimana dengan atlet2 Indonesia yang mengorbankan lebih banyak hal dalam hidup mereka untuk mengharumkan nama bangsa? Mereka sudah berjuang mati2an secara fisik dan mental untuk jangka waktu yang ngga bisa hanya tiga bulan tapi butuh bertahun-tahun.

    kalau ini saya juga pernah ngungkapin dulu,
    di Amerika sana bisa ada yang namanya beasiswa atlit, kok, di ITB enggak. yah cuman ini agak concern di sini aja.
    saya jelas gak bisa menulis tentang semua orang khan?

    untuk masalah yang lain, tidak terlalu nyambung karena ini udah masalah mahasiswa yang sudah diterima. gak ada perkara.

    untuk masalah potensi, jelas semua orang pasti berpotensi? tapi saya juga gak bisa menulis tentang semua orang bukan?

    bagaimana dengan prestasi?
    banyak memang yang gak bisa punya kesempatan untuk berprestasi. tapi ada yang berprestasi dengan effort dan kesempatan yang diraih sendiri. dan harusnya dibantu lah supaya yang berprestasi tersebut bisa lebih fokus untuk meraih prestasi yang lebih tinggi selagi dia bisa.

    saya cuman masalahin, ada yang kepingin masuk sebuah jurusan ITB daripada sebuah jurusan di univ luar yang ternama dan rankingnya jauh di atas ITB. Sementara univ luar tersebut bisa menjamin dia masuk untuk apa pun jurusan pilihannya, kenapa ITB enggak?

  11. @OldDark :
    lohh masih ada kemungkinan ga ambil computer science y? XD
    ic2. kalo gitu si ya ga bisa bergantung sama emas IOI. en emank pasti mo masuk di univ Indo y? ga mau keluar?

    loh kok jadi chatting gini saya XD
    soalnya saya ga pengen berkecimpung di debat di atas ๐Ÿ˜€

    kemarin saya sempat chat bentar en nanya2 apa bedanya USM taon ini sama jaman saya dulu, intinya si buat taon ini, kursi yang disediain buat jalur khusus ini jauh lebih dikit dari jaman saya. jadinya kemungkinan besar yang melalui jalur khusus ini akan bertarung dengan sesamanya XD

  12. btw, dari TOMI2007 : 7-10 org daftar stei, 5 masuk stei, 2 masuk mipa. cmiiw. tp saya setuju dg kak petra.

    semua hal di semesta ini bisa benar tergantung dari sudut mana si pengamat melihat,, dan kita gaktau si ITB ngeliat dari mana. mungkin gini…

    ITB = hey anak olim, gw tau lo pinter, n gw yakin karena lo pinter – lo pasti bisa masuk ke jurusan yang lo pengenin di ujian yang gw gratisin. karna lo ntar mengalami tpb, gw gak bisa nguji kemampuan komputer/bidang olimp lo doang. gw cuma dikasih duit 20% anggaran dari bos, so gw gak bisa ngbayarin kuliah lo… walopun gt gw pengen lo bisa berprestasi lebih banyak lagih. gutlak yah

    NTU = hey anak olim, gw tau lo pinter n gak punya duit n bingung kuliah dimana ya.. haha, sini ke univ gw aja yok, duit gw pinjemin, syaratnya lo musti kerja di negara gw. gw yakin lo pasti betah deh mengabdi di negara gw selamanya! lupain aja negara lo yang miskin ituh – buat makan aja susah apalagi sekolah ya. kekekek

    (oot)amrozi cs = ah gw gak peduli sm olimp, yang gw pikirin gimana caranya gw bisa bikin bom n bunuh kaum kafirun sebanyak2nyah n gw mati sahid secepatnyah so gw yakin gw bisa dapet 70 bidadari cantik di surga.. lo iri semua kan?? hihi

    ~terkutuklah amrozi!

    @KAROL= saran sy serius di IOI. buat USM n SPMB materi bisa dikejar dg cepat berkat kemampuan kamu (sy yakin, percayalah!) asal jangan anggap enteng. nih sy kasih TIPS USM

  13. Ibam said: Yah bagus lah kaya gitu. Daripada dimasukin ke STEI tanpa perjuangan tapi nantinya malah milih elektro, mending nerima yang niat masuk lewat SPMB/USM.

    hi9….

  14. Ini masalah klasik, udah dari jaman dulu. Lebih tepatnya dari generasi sebelum gue juga (thn 90an). Gue juga alumni salah satu event yang diomongin diatas, memang aga prihatin dengan keadaan ini.

    Kalian semua terlalu pesimis melihat keadaan ini, sebenernya situasi ini cukup lumrah di mayoritas negara2 lain. Jepang dan Korea Selatan contoh dimana peserta tim Olimpiade macem2 harus ikut tes perguruan tinggi, asumsinya itu cuma formalitas buat mereka alias ga perlu belajar sama sekali. Ada contoh lain dimana di USA yang memang pendaftaran universitas sangat berbeda dgn sistem Asia yg test-oriented.

    Room for improvement jelas ada, semua ditangan pembuat kebijakan ITB. Tentu semuanya dengan pertimbangan visi dan misi ITB. Saran saya, ga perlu terlalu banyak mengeluh, kalian2 semua is talented enough too go through everything. Optimisme dan Kepercayaan diri akan menolong kalian di masa depan. Soal memilih universitas mana itu semua pilihan pribadi2, semua orang punya visi masa depan beda2, ga bisa dipaksakan.

    Kritik utama buat ITB, sekarang sudah jadi kelompok yang hanya bisa mengeluh. Padahal dari potensinya ITB tidak perlu mengeluh, hanya perlu terjun langsung dan ubahlah hal2 yang tidak disuka. Memang perlu waktu dan usaha, tp at the end of the day, kontribusi kita yg jauh lebih penting.

    Regards,
    Johan Batubara

  15. halah…another Serius Diskosyen….cape de baca komen2nya…. mendingan kita nonton Heroes season2 ep 5 ajah lah ๐Ÿ˜€

    supaya ga dianggap ngejunk ๐Ÿ˜€
    yah….begitulah birokrasi.. -_-
    saya terbeban untuk memajukan bangsa ^___^
    ayo kita pangkas birokrasi yg berbelit2…
    (serasa mo kampanye yah wkwkwkwkwk)

  16. Ikutan ah… Btw, gw setuju sama pandangan ini:

    ITB = hey anak olim, gw tau lo pinter, n gw yakin karena lo pinter – lo pasti bisa masuk ke jurusan yang lo pengenin di ujian yang gw gratisin. karna lo ntar mengalami tpb, gw gak bisa nguji kemampuan komputer/bidang olimp lo doang. gw cuma dikasih duit 20% anggaran dari bos, so gw gak bisa ngbayarin kuliah loรขโ‚ฌยฆ walopun gt gw pengen lo bisa berprestasi lebih banyak lagih. gutlak yah

    NTU = hey anak olim, gw tau lo pinter n gak punya duit n bingung kuliah dimana ya.. haha, sini ke univ gw aja yok, duit gw pinjemin, syaratnya lo musti kerja di negara gw. gw yakin lo pasti betah deh mengabdi di negara gw selamanya! lupain aja negara lo yang miskin ituh – buat makan aja susah apalagi sekolah ya. kekekek

    Meskipun terdengar kasar, tapi ya begitulah adanya. Masalah masuk ITB gmana, menurut gw udah seharusnya ITB ngasih kemudahan masuk kuliah buat temen-temen kita yang udah berjuang membela nama Indonesia di olimpiade internasional (yang internasional, loh). Apalagi kalo sampe dapet medali. Sayang banget kalo ga diterima, padahal Indonesia punya human resources yang sangat potensial, tapi karena kurang dihargai di negerinya sendiri, banyak yang pergi ke negara lain dan malah mengaplikasikan ilmunya di sana, bukan di Indonesia. Wah, kalo dirunut terus, masalahnya bakal panjang nih disini…

    Hal ini juga berlaku untuk atlet (meskipun kemudahan penerimaannya bakal beda dengan peserta olimpiade mata pelajaran), karena ITB terus minta unit-unit olahraga ITB buat berkembang, tapi ga mempermudah atlet yang pintar-pintar tapi harus latihan, buat masuk ITB. Hasilnya, ITB cukup kesulitan dalam berprestasi di bidang olahraga (pengalaman pribadi ngurus bidang olahraga di ITB ^^; )

    Tapi kalo masalah beasiswa, lihat juga lah kemampuan ekonomi anak itu. Kalo memang butuh dibiayain, ya kasih beasiswa. Tapi kalo orangnya mampu juga secara finansial? Mending kasih ke yang lebih membutuhkan, yang udah nunggak banyak semester, ya kan? ๐Ÿ˜‰

  17. saya gak pernah permasalahin beasiswa,

    beberapa rekan yang disebutkan di post saya yang tidak diterima melalui USM sudah punya sumber beasiswa. hanya, untuk apa ada beasiswa kalau mereka tidak sempat belajar untuk mempersiapkan USM/SPMB.

  18. Wah, hangat sekali topikny
    @Petra : emang nggak adil mnurut aq pribadi, c. Aq yakin kok klo anak2 TOKI ndiri yg msk IF tu jg bjuang keras dgn cara mereka. (Sapa tau aj ad yg sengaja iktan TOKI untuk dpt IF ITB)

    @Captain Kuro : aq tahu siapa Anda… Tp klo ud msk k IF, bisa kn ad pnyetaraan (maxud aq lbh berbaurlah n jangan bqn kesan eksklusif..he3x)

  19. He he he saya juga dulu dapet perunggu komputer (nasional doang tapi ๐Ÿ˜€ – peringkat bontot pula)
    buka aja buku OSN kamu yang pas di Riau, Pet. Pasti ada nama yang sama kaya account email saya :D.
    Dulu ikut USM terus malah nyangkut di Matematika ๐Ÿ˜›
    .
    dulu sih masih ngebet pengen masuk IF pas TPB.
    tapi sekarang malah jadi pengen masuk Matematik Keuangan.
    tapi tetep guna kok ilmunya.
    dipake nyari duit buat beli MacBook :P.
    .
    .
    ngomong-ngomong soal USM..
    saya yakin kok kalo nilai saya bagus pas tes USM kemaren.
    tapi inget loh selain diperingkatkan berdasarkan nilai, nilai sumbangan kamu juga berpengaruh.
    saya ngisinya lagi itu 0 rupiah..
    kalah hoki sama si Arif padahal dia ngasihnya 0 rupiah juga

  20. wah udah kayak forum gini.
    btw, gw juga salah satu alumni event kayak gitu walopun ga nyampe tahap internasional. Nah soal univ ni emang bikin gw pusing karna gw udah banyak ninggalin pelajaran sekolah demi ngikutin pelatnas-pelatnas. Sedangkan yang dites waktu USM atopun SPMB nih pelajaran sekolah semua kan macem bio, fis, math, kim, dkk walopun ga semua dari pelajaran-pelajaran itu bakal ditemuin di jurusan yang bakal gw masukin. Gw setuju banget kalo anak-anak olimpiade yang berprestasi harusnya diberi kemudahan buat masuk jurusan yang sesuai sama bidangnya. Buat apa ada olimpiade kalo bukan buat nyari bibit-bibit unggul buat memajukan setiap bidang tersebut? Terus bukannya dipelihara malah dikasih ke negeri orang? Gimana negeri ini mau maju?

    Toh kalau skill dan niat mereka udah terjamin sekalipun mereka ngga butuh IF ITB buat jadi sukses dan membangun Indonesia.

    maksudnya niat udah terjamin apa nih?

    Sekarang sih udah rada enak ada USM. Coba bayangin waktu dulu cuma bisa lewat SPMB tok. Sampai-sampai ada yang lagi kompetisi harus pulang duluan demi ikut SPMB :P.

  21. halo tmen2 smua,
    gw ikutan ngasi pendapat juga ya!

    Ngomong2 gw lulusan salah satu sma di jakarta selatan,angkatan 2006, trus terang prestasi gw ga ada yang bisa dibanggain, apalagi di bidang komputer,gw cuman pernah jadi harapan 3 di lomba desain powerpoint, itu jg waktu smp! gw gak pernah masuk sepuluh besar skalipun waktu SMA! trus yang pasti gw juga bukan seorang dari TOKI, TOFI, ataupun TOMI.

    Sebenernya gw pengen jg si seperti brian dan kawan2, mengharumkan nama bangsa, tapi gimana ya, kayanya gw terlalu bodoh untuk itu, jadi gw milih biasa2 aja, he..! tapi bukan berati gw nyerah gitu aja!

    Ni ya,gw bagi2 pengalaman gw,bwat brian dan tmen2!

    gw itu…
    1.USM 1 ITB 2006 gagal!
    2.SMUP Unpad 2006 gagal!
    3.USM 2 ITB 2006 gagal!
    4.SPMB 2006 gagal!
    5.Tes Masuk Politeknik Manufaktur (POLMAN)2006, bahkan inipun gagal!

    asli, sakit hati banget bos..

    Akhirnya, gw nganggur setahun bwat fokus blajar dan trus terang ini ga gampang (mentally)!
    -jauh dari tmen2 main di komplek rumah gw yang banyak dan seru abis!
    -malu sama ortu!
    -ngiri ngeliat tmen2 SMA yang dah kterima di PTN duluan!
    -ngerasa bukan siapa2 di lingkungan masyarakat alias kaya sampah, karena ya.. kehidupan gw dah kaya si kabayan cmn + belajar!
    -rintangannya banyak, karna hobi gw juga banyak!

    Tapi akhirnya perjuangan gw dibayar dgn dapet STEI ITB walopun gw cmn keterima dari USM 1 2007, bkn dari SPMB!

    Jadi maksud gw, gw yang bodoh ini aja bisa keterima kalo mau blajar bner2! masa brian & tmen2 yang notabene sekelompok pengharum nama bangsa dan dengan otak yang lebih encer dari gw ga bisa menghadapi USM atopun SPMB dengan kondisi waktu yang bareng sama tmen2 SMA se-Indonesia lainnya, pasti bisalah.

    Emang si, gw tau ini berasa ga adil, tapi justru menurut gw disitu letak nilai plusnya bwat brian dan tmen2, pasti nanti kan orang2 mikirnya, wah hebat, dah TOKI, masuk ITB-nya lewat jalur standar pula!

    (Ngomong2 IP gw terancam cm 2,3-an

  22. Sangat Serius dan Sangat Mendesak:

    Dicari 10-15 Programmer Java dengan berbagai Level Keahlian untuk bekerja di PT Imocha (www.imocha.com.my). Suatu perusahaan Teknologi Informasi Malaysia. Kandidat yang diterima akan bekerja di BOGOR, JAWA BARAT (Tepatnya di Jalan Pajajaran Bogor). Perusahaan Imocha Malaysia membuka cabang unit produknya di BOGOR.

    Tanggung Jawab Umum:

    Koding dalam Java menjadi tugas sehari-hari. Area Pengembangan mencakup Teknologi Cutting-Edge seperti: JEE5, GlassFish, Struts2, Teknologi JAX, Apache Service MIx (ESB) dll.
    Berpartisipasi dalam pendesainan kebutuhan fungsi dan kebutuhan teknis.
    Memberikan ide-ide cemerlang pada tim.
    Dapat bekerja dalam deadline yang ketat namun tetap memelihara kualitas software.

    Tanggung Jawab Programmer Senior (Gaji Rp 6jt+Medical+Jamsostek):

    Memimpin satu atau lebih proyek atau produk pengembangan software.
    Bekerja dengan Manajer Produk untuk memastikan semua keperluan dan persyaratan pengembangan terpenuhi.
    Secara terus menerus melakukan penelitian dan evaluasi terhadap teknologi yang akan membawa perubahan di masa depan pada bidang software.
    Membuat keputusan terbaik dengan pendekatan teknik untuk kebutuhan pelanggan/bisnis dengan mempertimbangkan sisi performa, realibilitas dan skalabilitas.

    Tanggung Jawab Programmer Intermediate (Gaji Rp 4,5jt+Jamsostek+Medical):

    Mengembangkan produk perangkat lunak dengan 1 atau lebih programmer di dalam tim.
    Bisa membuat aplikasi dari scratch atau dari aplikasi yang sudah ada.
    Melakukan diagnosa pada koding dan memberikan bantuan teknis dibidang pemrograman pada tim pendukung pada saat aplikasi harus LIVE.

    Tanggung Jawab Programmer FreshGraduate (Gaji Rp 3jt+Jamsostek+Medical):

    Dengan modal penguasaan OOP, dapat belajar secara cepat dan mandiri mengenai teknologi yang dipakai oleh perusahaan.
    Terus menerus melakukan pembelajaran diri.
    Mengembangkan produk perangkat lunak dengan 1 atau lebih programmer di dalam tim.
    Bisa membuat aplikasi dari scratch atau dari aplikasi yang sudah ada.

    Persyaratan(HARUS):
    Berbakat dan Memiliki hasrat pada dunia pengembangan perangkat lunak
    Fast Learner & Self Starter
    Berpengalamn 3-4 tahun dalam pengkodean Java berskala enterprises (posisi senior programmer).
    Memahami framework J2EE (khususnya Struts 2), layar persistence (JPA/Hibernate), teknologi SOAP, webservice, GlassFish dan MAVEN.
    Bisa berbahasa Inggris minimal pasif.

    Nilai Tambah:

    Memahami teknologi cutting-edge seperti : JEE5, EJB3, Apache CXF, Service Mix dan Spring.
    Paham Oracle.

    Peserta yang berminat harap mengirimkan CV via email ke: andriyana.the.mefax@gmail.com sebelum tanggal 13 Maret. Peserta bersedia bekerja di Bogor!!!! atau kontak ANDRIYANA: 0859 2052 1972

  23. klo menurut saya, sebaiknya mereka ntu punya sikap..tegas dalam menentukan langkah jangan mo disetir..mo diterima bagus..g juga cari yg laen..toh dari sisi otak kan sudah terbukti lebih unggul…dan balik lagi smuanya tergantung takdir..beda lho ama nasib..klo nasib masih bisa dirubah..klo takdir dah keputusan…

    @Faddin>km daftar Polman (PMS-ITB)??taun 2006 ya? kebetulan saya alumni polman…yg taun 2006 tesnya modelnya apa aja??masih ada tes kemampuan jg g??

Leave a Reply