Dilema Sampah di ITB

Suatu ketika, seperti sering gw suka lakukan, gw makan sambil jalan ke IF. Kebetulan gw makan beberapa butir tahu sumedang dengan lontong yang bisa dibeli di Simpang Dago. Sesuai kebiasaan juga kalau buang sampah gw selalu membuang sampah sesuai dengan penempatan sampah tersebut. Tong sampah putih untuk sampah yang tidak membusuk, tong sampah hitam untuk sampah yang membusuk (CMIIW gw lupa warnanya). Tong sampah tersebut adalah sumbangan dari HMT (Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan). Nah, kebetulan ketika gw membuang sampah, gw memisahkan plastik dengan daun pisang pembungkus lontong. Kemudian gw masukkan ke tempat yang benar. Yah, sebenarnya gak terkejut ketika melihat sampah yang ada di kedua tong sampah tersebut tidak terklasifikasi dengan baik menurut pendapat gw karena memang udah lama seperti itu (well, gelas plastik memang bisa busuk dalam kondisi tertentu, sih).

Dan kebetulan juga gw melihat ada truk sampah datang mendekati. Lalu alih-alih untuk mengikat sepatu, gw memperhatikan kegiatan petugas sampah tersebut. Well, dan tidak anehnya sampah dari kedua tong tersebut dimasukkan ke dalam satu wadah yang terdapat pada si truk sampah. Jelas gw (dan banyak orang) pasti berpikir, “Apa gunanya sih misahin sampah kalau pas diangkut disatuin juga?“.

Makin banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul yang ada dalam imajinasi gw.

  1. Penanggung Jawab Sampah di ITB : Buat apa kita capek-capek misahin sampah kalau di pembuangan akhir juga disatuin?
  2. Petugas Sampah Harian : Buat apa kita capek-capek misahin sampah kalau sampah-sampah di tong sampah pun gak ada yang misahin?
  3. Pembuang Sampah (1) : Buat apa kita capek-capek misahin sampah kalau sampah-sampah dikumpulin terus disatuin di satu truk tanpa pemisah?
  4. Pembuang Sampah (2) : Buat apa kita capek-capek misahin sampah kalau batasan klasifikasi juga gak jelas?
  5. Penyumbang Tong (HMT) : Buat apa kita capek-capek nyumbangin tong sampah kalau gak ada yang sadar buat misahin sampah?
  6. Gw sendiri : Buat apa gw capek-capek mikirin tentang sampah kalau gak ada yang mikirin juga?

Pertanyaan-pertanyaan di atas itu terkesan saling menyalahkan. Tapi gw yakin pertanyaan-pertanyaan itu sering terbesit kalau mikirin masalah sampah di ITB. Dilema emang. Kalau dirunut tidak akan bisa ditemukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang jelas gak ada yang mau disalahin tentang masalah ini. Yah, masalah pemisahan sampah sepele sih emang kalau dipikir-pikir sebenernya. Dan sangat susah untuk mencari solusi tentang perkara kayak gini.

Still, it’s obvious that until now I still don’t have any answer. Do you?

3 thoughts on “Dilema Sampah di ITB”

  1. sebenernya tong sampah yang dibeda2in itu kan maksudnya supaya para pembuang sampah sadar diri bahwa ada sampah yang begini dan begitu. seharusnya kolektor sampahnya juga begitu. tapi kalo nggak begitu, ya mau gimana lag, kita tentunya akan menggunakan jasa pemulung yang nantinya akan memilih sendiri mana sampah yang gakmembusuk. dan darpada dipikirin, mending lu bertindak sesuai kata hati. makin dipikirin, bisa kurus badan lu! hehehe

  2. pengen bikin kampanye “buang sampah pada tempatnya” di ITB nih,,,,

    well, meski biasanya ujung2nya disatuin,,,, paling enggak khan harus dibiasain dari sekarang….

    biar kalo sistemnya udah bagus, kita gak kelabakan…..

Leave a Reply