Intermezzo, Karo

Budaya Karo – Sejarah Marga-Marga (1)

DISCLAIMER:

Daftar sejarah Karo yang saya tulis di bawah ini lima tahun lalu, semuanya saya copy paste dari situs resmi Organisasi Pemuda (yang sering dikenal dengan nama Permata) Gereja Batak Karo Protestan. Kritik dan Saran untuk memperbaiki tulisan ini sangat saya harapkan. Jangan lupa menjabarkan sejarah yang menurut Anda benar.
Terima Kasih

Mejuah-juah kita kerina!

Sebenarnya rada males nulis, sih, tentang budaya Karo soalnya gw secara pribadi juga gak terlalu ngerti banyak (meski kepengen belajar juga). Tapi iseng-iseng aja ikutan si Igor yang sering nulis soal Budaya Batak, makanya gw ikut-ikutan aja nulis tentang Budaya Karo :P .
Batak sama Karo beda ya? Sebenarnya kurang tau juga beda atau enggak, tapi kalau liat konteks, biasanya yang dipanggil dengan Batak itu biasanya orang Batak Toba. Karo sendiri sebenarnya sering disebut dengan Batak Karo. Yah, tapi gak apa-apa lah, sebut Karo aja :P (keukeuh)

Ue lah, ini sedikit sejarah dan legenda tentang marga/beru yang ada dan terus melekat pada orang-orang Karo yang diteruskan turun-temurun dan disadur oleh banyak orang menjadi beberapa sumber yang mana akhirnya gw copy paste ke blog ini dan disajikan untuk anda baca sebagai iseng-iseng atau sekalian menambah wawasan tentang Budaya Karo. Sekalian sama-sama belajar, soalnya gw juga gak berapa ngerti :mrgreen:
Semuanya disadur dari sini

Selamat membaca

Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi, pemakaian merga didasarkan pada Merga Silima, yaitu ;

  1. Ginting
  2. Karo-Karo
  3. Peranginangin
  4. Sembiring
  5. Tarigan

Sementara Sub Merga, dipakai di belakang Merga, sehingga tidak terjadi kerancuan mengenai pemakaian Merga dan Sub Merga tersebut.

Adapun Merga dan Sub Merga serta sejarah, legenda, dan ceritanya adalah sebagai berikut

  1. Merga GintingMerga Ginting terdiri atas beberapa Sub Merga seperti :
    • Ginting PaseGinting Pase menurut legenda sama dengan Ginting Munthe. Merga Pase juga ada di Pak-Pak, Toba dan Simalungun. Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Cerita Lisan Karo mengatakan bahwa anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat di telaah cerita tentang Beru Ginting Pase. (Petra : Bisa dibaca di sini)
    • Ginting MuntheMenurut cerita lisan Karo, Merga Ginting Munthe berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Nuemann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune.
    • Ginting ManikGinting Manik menurut cerita masih saudara dengan Ginting Munthe. Merga ini berasal dari Tongging terus ke Aji Nembah, ke Munthe dan Kuta Bangun. Merga Manik juga terdapat di Pak-pak dan Toba.
    • Ginting Sinusinga
    • Ginting SeragihMenurut J.H. Neumann (Nuemann 1972 : 10), Ginting Seragih termasuk salah satu merga Ginting yang tua dan menyebar ke Simalungun menjadi Saragih, di Toba menjadi Seragi.
    • Ginting Sini SukaMenurut cerita lisan Karo berasal dari Kalasan (Pak-Pak), kemudian berpindah ke Samosir, terus ke Tinjo dan kemudian ke Guru Benua, disana dikisahkan lahir Siwah Sada Ginting (Petra : bacanya Sembilan Satu Ginting), yakni :
      • Ginting Babo
      • Ginting Sugihen
      • Ginting Guru Patih
      • Ginting Suka (ini juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Beras
      • Ginting Bukit (juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Garamat (di Toba menjadi Simarmata)
      • Ginting Ajar Tambun
      • Ginting Jadi Bata

      Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama Bembem br Ginting, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, kecamatan Munte.

    • Ginting JawakMenurut cerita Ginting Jawak berasal dari Simalungun. Merga ini hanya sedikit saja di daerah Karo.
    • Ginting TumanggerMarga ini juga ada di Pak Pak, yakni Tumanggor.
    • Ginting CapahCapah berarti tempat makan besar terbuat dari kayu, atau piring tradisional Karo. (Petra : Which is saya juga belum tahu yang mana, atau tahu tapi gak tau sebutannya :P)
  2. Merga Karo-KaroMerga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :
    • Karo-Karo PurbaMerga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular.
      Dari isteri umang lahirlah merga-merga :

      • PurbaMerga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.
      • KetarenDahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).
      • SinukabanMerga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban..

      Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :

      • Karo-Karo SekaliKaro-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.
      • Sinuraya/SinuhajiMerga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.
      • Jong/KemitMerga ini mendirikan kampung Mulawari.
      • Samura
      • Karo-Karo Bukit

      Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.

    • Karo-Karo SinulinggaMerga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
      Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :

      • KabanMerga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,
      • KacaribuMerga ini medirikan kampung Kacaribu.
      • SurbaktiMerga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.

      Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak.

    • Karo-Karo KabanMerga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.
    • Karo-Karo SitepuMerga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.
    • Karo-Karo BarusMerga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.

      (Petra : Wuih, sejarah nenek moyang gw jelek juga, ya….)

    • Karo-Karo ManikDi Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.
  3. Merga PeranginanginMerga Peranginangin terbagi atas beberapa sub merga, yakni :
    • Peranginangin SukatendelMenurut cerita lisan, merga ini tadinya telah menguasai daerah Binje dan Pematang Siantar. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel. Di daerah Kuta Buloh, merga ini terbagi menjadi :
      • Peranginangin Kuta BulohMendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.
      • Peranginangin Jombor BeringenMerga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, Belingking,. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.
      • Peranginangin JenabunMerga ini juga mendirikan kampong Jenabun,. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa Karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat pertama nahkoda tersebut tinggal.
    • Peranginangin KacinambunMenurut cerita, Peranginangin Kacinambun datang dari Sikodon-kodon ke Kacinambun.
    • Peranginangin BangunAlkisah Peranginangin Bangun berasal dari Pematang Siantar, datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen. Di mana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gempa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga Menjerang dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang.
      Merga ini juga pecah menjadi :

      • KeliatMenurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.
      • BeliterDi dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter.
    • Peranginangin ManoPeranginangin Mano tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung, anak laki-laki mereka dipanggil Ngundong.
    • Peranginangin PinemNenek moyang Peranginangin Pinem bernama Enggang yang bersaudara dengan Lambing, nenek moyang merga Sebayang dan Utihnenek moyang merga Selian di Pakpak.
    • SebayangNenek Moyang merga ini bernama Lambing, yang datang dari Tuha di Pak-pak, ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain. Merga Sembayang (Sebayang) juga terdapat di Gayo/Alas.
    • Peranginangin LaksaMenurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar.
    • Peranginangin PenggarunPenggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku Karo.
    • Peranginangin Uwir
    • Peranginangin SinuratMenurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan Karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buloh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda.
    • Peranginangin PincawanNama Pincawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawanan-penawanan dan akhirnya disebut Pincawan.
    • Peranginangin SingarimbunPeranginangin Singarimbun menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, berasal dari Simaribun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di Tanjung Rimbun (Tanjong Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket.
    • Peranginangin LimbengPeranginangin Limbeng ditemukan di sekitar Pancur Batu. Merga ini pertama kali masuk literatur dalam buku Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH berjudul Sejarah dan Kebudayaan Karo.
    • Peranginangin PrasiMerga ini ditemukan oleh Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH di desa Selawang-Sibolangit. Menurut budayawan Karo Paulus Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibiru-biru.

(Masih ada lanjutannya)

Standard

161 thoughts on “Budaya Karo – Sejarah Marga-Marga (1)

  1. raite.mibu says:

    mau tanya, apa bisa marga ginting menikah dengan marga sitanggang???
    apa dasarnya, dimana saya bisa dapat jawabannya..terima kasih..

    mejuah-juah..

    • mikha milala says:

      Sinaga itu sama pinem sama2 perangin angin tp d satu artikel pernah aku baca d adat karo hanya 2 marga yg bisa nikah semarga yaitu sembiring dan perangin angin tp d merga perangin angin sangat jarang

  2. roy says:

    saya mau tau donk daftar marga apa saja yg diperbolehkan menikah dengan marga Ginting ,,??
    tolong infonya yah .
    untuk pengetahuan di hari kemudian ..
    hhehehh :D

  3. mw nanyak ne
    tentang marga sitepu
    bagaimana kog bza sitepu itu dari sihotang
    sementara karo-karo itu sejak dlu itu sudah ada
    tlong ceritakan silsilahna
    hrap di blz ea. . .
    ^_^

  4. Pingback: Pembagian Marga-Marga Suku Karo (Lengkap) « gunsbrotherhood

  5. raja barus masih ada says:

    mejuah juah..salam kenal smua..knapa jadi kayak biro jodoh..hahahahahaha..tp penting juga sih..btw, setau aku,sinaga itu sama dengan pinem atau perangin angin..jadi la banci alias gak bisa kalo menurut adat karo..mending sama aku aja,karna aku bere2 pinem..wkwkwkwkwkwkwk..makasih ya senina,buat sejarahnya..MANTABZ!!!!

  6. Andreas Sinuraya says:

    Hebat!
    Tau dari mana semua cerita silsilah ini bro?
    Apakah ini penggabungan dari beberap versi sejarah?

  7. jerry m barus says:

    njuah-juah kita krina,, kl bs terus ada yg konsen dg silsilah marga & budaya kita ini,, good job senina,,, yg pasti org karo ga mau di panggil org batak,,, hehehe,, bujur…

  8. patris ginting says:

    shering informasi atau nungkun ateku sitik, soal Ginting sini suka yang merupakan induk dari Siwah sada ginting.

    Aku pernah dengar cerita orang orang tua kalau siwah sada ginting itu hanya ada di desa suka si ngedang. ginting suka lah yang membuat siwah sada ginting adalah merupakan pembagian wilayah atau kesain di desa suka yang terdiri dari siwah kesain, emaka i gelari siwah sada ginting ertina kesain si siwah atau terpuk si siwah, e merupakan satu kesatuan yaitu ginting suka, soal asal muasal ginting suka cerita yang saya dengar sama memang berasal dari pap pak ke samosir e maka ku suka.

    Ginting sini suka merupakan bagian dari ginting suka, eme ginting si nai tading i suka dari segi bahasa pe sini ertina si tading atau singiani. jadi sini suka, si tading i suka atau singiani kuta suka.
    bujur mjj

  9. Pingback: Anak Melumang | nicampereniqué.me

  10. Pingback: Ginting Pase | nicampereniqué.me

  11. Agusto says:

    Selamat pagi, saya ingin menanyakan apakah cowok sihombinbg boleh menikah atau berpacaran dengan cewek boru barus?
    tolong jelasin dan kasih jawaban ya bang.

  12. amel_cute says:

    Adi beru bangun ras merga samosir, banci kin menikah tur? Rondongku merga samosir. Aku beru bangun. La ku teh kai kin ersamaan samosir di karo. Bujur tur. :)

  13. Yosafat Haloho says:

    Setahukuh Karo memiliki budaya yg masih muda dibanding Batak,dilihat dari posisi daerah dan Peninggalan sejarah

    dan menurut ortuku,Banyak orang batak yg merantau ke Karo dan melahirkan budaya baru,itulah mengapa Arsitek Rumah karo dgn batak,serta Animismenya sangat Persis

  14. Yudi Sitepu says:

    Dari penuturan yang saya dengar, Peranginangin Bangun berasal dari merga Sinaga Simalungun, datang ke Bangun Mulia. Khusus untuk Bangun Batu Karang, sesampainya di Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, sesampainya disana ternyata sudah ada merga Bangun, tapi tidak jelas dari klan mana. Sehingga merga Bangun dari Bangun Mulia ini disebut sebagai Bangun Jambur Tanduk, tidak dijelaskan kenapa. Sekarang antar keturunannya menyebut diri sebagai Bangun Jabu Sintua, Jabu Sintengah dan Jabu Singuda. Saya sendiri adalah bebere Bangun Jambur Tanduk Jabu Sintengah. Mejuah juah!

  15. hervin says:

    mas,,,saya merga sitepu dari sukanalu simbelang…sitepu adalah sitepu…sihotang ya sihotang..kita punya histori sendiri

  16. Manta says:

    update terus donkk yaa admin nya bang petra……..
    aklao bisa buatin Grup Fesbuk nya bangg.. baia citra KARO takk tertinggal…

    Bujurr bang… ;)

  17. Suci Perangin angin says:

    Mejuah juah …
    Saya mau tanya atas dasar ap marga Situmorang dan Perangin angin di anggap sama ?
    Apakah ada sejarah tertulis terdahulu yg mengatakan itu sama dan melarang untuk menikah ?
    Bujur ya

  18. charles sitepu says:

    Mau tanya brarti karo karo itu bukan orang ya,karna yg saya dengar sitepu itu ank dari si karo karo,trus tadi sitepu berasal dari sihotang,(toba)ada artikel katanya karo bukan batak,trus yg bener yg mana??sitepu itu karo tulen ,sihotang itu toba tulen,ini harus di jawab ini bagi orang yg mencari jati diri

  19. HMU Silaban says:

    1. Kenapa ya ada Gereja Batak Karo Protestan yang pusatnya di Kabanjahe?
    2, Kenapa ya budaya Karo dengan Batak Toba, Simalungun, Dairi dan Mandailing banyak sekali persamaannya termasuk tulisan dan tatabahasanya kalau bukian berasal dari suatu rumpun bangsa yang sama, yang dengan sendirinya masing-masing dipengaruhi oleh “tetangga” terdekatnya seperti Karo bersingungan dengan Melayu dst. Ada baiknya membaca buku2 Prof. Uli Kozok (orang eropa, sekarang tinggal di New Zealand) yang banyak menulis tentang Batak.
    3. Pernah di suatu kantor seorang, Ibu br. Kaban bergelar S.H. kepada seorang bapa di dikantor itu mengutarakan bahwa dia juga br Silaban karena kakek moyang adalah Dt. Mangambe Silaban(NB. keturunannya sekarang sudah ada yang ke-17). Siapakah dari merga Kaban yang mengetahui hubungan Kaban dengan Silaban ini? Terimaksih, Horas, Mejua-jua!

  20. Pingback: Budaya Karo – Sejarah Marga-Marga | teddyginting

  21. Onelingga says:

    Secara spekulatif bahwa marga/ Merga Silima sama sekali tidak ada kaitannya dengan suku Toba, Simalungun, pak-pak dan suku lainnya. Merga Silima sudah ada sejak kerajaan Haru di Teluk Aru, Langkat (tahun 870 SM). Bahkan Kerajaan terbesar pertama di Asia adalah Kerajaan HAru. Sayangnya, pada waktu itu belum ada notulen… Kesimpulannya: Suku Karo berjumlah lebih kurang 3juta jiwa sedunia, 80% menetap di Kabupaten Langkat, Harus diakui bahwa Kabupaten Karo ini merupakan daerah jajahan Suku Karo dari Langkat… Wajar saja beradaptasi alias dimirip-miripkan.

Leave a Reply