Petra’s Blog

Budaya Karo – Sejarah Marga-Marga (1)

by Petra on Jul.06, 2007, under Intermezzo, Karo

Mejuah-juah kita kerina!

Sebenarnya rada males nulis, sih, tentang budaya Karo soalnya gw secara pribadi juga gak terlalu ngerti banyak (meski kepengen belajar juga). Tapi iseng-iseng aja ikutan si Igor yang sering nulis soal Budaya Batak, makanya gw ikut-ikutan aja nulis tentang Budaya Karo :P .
Batak sama Karo beda ya? Sebenarnya kurang tau juga beda atau enggak, tapi kalau liat konteks, biasanya yang dipanggil dengan Batak itu biasanya orang Batak Toba. Karo sendiri sebenarnya sering disebut dengan Batak Karo. Yah, tapi gak apa-apa lah, sebut Karo aja :P (keukeuh)

Ue lah, ini sedikit sejarah dan legenda tentang marga/beru yang ada dan terus melekat pada orang-orang Karo yang diteruskan turun-temurun dan disadur oleh banyak orang menjadi beberapa sumber yang mana akhirnya gw copy paste ke blog ini dan disajikan untuk anda baca sebagai iseng-iseng atau sekalian menambah wawasan tentang Budaya Karo. Sekalian sama-sama belajar, soalnya gw juga gak berapa ngerti :mrgreen:
Semuanya disadur dari sini

Selamat membaca

Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi, pemakaian merga didasarkan pada Merga Silima, yaitu ;

  1. Ginting
  2. Karo-Karo
  3. Peranginangin
  4. Sembiring
  5. Tarigan

Sementara Sub Merga, dipakai di belakang Merga, sehingga tidak terjadi kerancuan mengenai pemakaian Merga dan Sub Merga tersebut.

Adapun Merga dan Sub Merga serta sejarah, legenda, dan ceritanya adalah sebagai berikut

  1. Merga Ginting

    Merga Ginting terdiri atas beberapa Sub Merga seperti :

    • Ginting Pase

      Ginting Pase menurut legenda sama dengan Ginting Munthe. Merga Pase juga ada di Pak-Pak, Toba dan Simalungun. Ginting Pase dulunya mempunyai kerajaan di Pase dekat Sari Nembah sekarang. Cerita Lisan Karo mengatakan bahwa anak perempuan (puteri) Raja Pase dijual oleh bengkila (pamannya) ke Aceh dan itulah cerita cikal bakal kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Untuk lebih jelasnya dapat di telaah cerita tentang Beru Ginting Pase. (Petra : Bisa dibaca di sini)

    • Ginting Munthe

      Menurut cerita lisan Karo, Merga Ginting Munthe berasal dari Tongging, kemudian ke Becih dan Kuta Sanggar serta kemudian ke Aji Nembah dan terakhir ke Munthe. Sebagian dari merga Ginting Munthe telah pergi ke Toba (Nuemann 1972 : 10), kemudian sebagian dari merga Munthe dari Toba ini kembali lagi ke Karo. Ginting Muthe di Kuala pecah menjadi Ginting Tampune.

    • Ginting Manik

      Ginting Manik menurut cerita masih saudara dengan Ginting Munthe. Merga ini berasal dari Tongging terus ke Aji Nembah, ke Munthe dan Kuta Bangun. Merga Manik juga terdapat di Pak-pak dan Toba.

    • Ginting Sinusinga
    • Ginting Seragih

      Menurut J.H. Neumann (Nuemann 1972 : 10), Ginting Seragih termasuk salah satu merga Ginting yang tua dan menyebar ke Simalungun menjadi Saragih, di Toba menjadi Seragi.

    • Ginting Sini Suka

      Menurut cerita lisan Karo berasal dari Kalasan (Pak-Pak), kemudian berpindah ke Samosir, terus ke Tinjo dan kemudian ke Guru Benua, disana dikisahkan lahir Siwah Sada Ginting (Petra : bacanya Sembilan Satu Ginting), yakni :

      • Ginting Babo
      • Ginting Sugihen
      • Ginting Guru Patih
      • Ginting Suka (ini juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Beras
      • Ginting Bukit (juga ada di Gayo/Alas)
      • Ginting Garamat (di Toba menjadi Simarmata)
      • Ginting Ajar Tambun
      • Ginting Jadi Bata

      Kesembilan orang merga Ginting ini mempunyai seorang saudara perempuan bernama Bembem br Ginting, yang menurut legenda tenggelam ke dalam tanah ketika sedang menari di Tiga Bembem atau sekarang Tiga Sukarame, kecamatan Munte.

    • Ginting Jawak

      Menurut cerita Ginting Jawak berasal dari Simalungun. Merga ini hanya sedikit saja di daerah Karo.

    • Ginting Tumangger

      Marga ini juga ada di Pak Pak, yakni Tumanggor.

    • Ginting Capah

      Capah berarti tempat makan besar terbuat dari kayu, atau piring tradisional Karo. (Petra : Which is saya juga belum tahu yang mana, atau tahu tapi gak tau sebutannya :P )

  2. Merga Karo-Karo

    Merga Karo-Karo terbagi atas beberapa Sub Merga, yaitu :

    • Karo-Karo Purba

      Merga Karo-Karo Purba menurut cerita berasal dari Simalungun. Dia disebutkan beristri dua orang, seorang puteri umang dan seorang ular.
      Dari isteri umang lahirlah merga-merga :

      • Purba

        Merga ini mendiami kampung Kabanjahe, Berastagi dan Kandibata.

      • Ketaren

        Dahulu merga Karo-Karo Purba memakai nama merga Karo-Karo Ketaren. Ini terbukti karena Penghulu rumah Galoh di Kabanjahe, dahulu juga memakai merga Ketaren. Menurut budayawan Karo, M.Purba, dahulu yang memakai merga Purba adalah Pa Mbelgah. Nenek moyang merga Ketaren bernama Togan Raya dan Batu Maler (referensi K.E. Ketaren).

      • Sinukaban

        Merga Sinukaban ini sekarang mendiami kampung Kaban..

      Sementara dari isteri ular lahirlah anak-anak yakni merga-merga :

      • Karo-Karo Sekali

        Karo-Karo sekali mendirikan kampung Seberaya dan Lau Gendek, serta Taneh Jawa.

      • Sinuraya/Sinuhaji

        Merga ini mendirikan kampung Seberaya dan Aji Siempat, yakni Aji Jahe, Aji Mbelang dan Ujung Aji.

      • Jong/Kemit

        Merga ini mendirikan kampung Mulawari.

      • Samura
      • Karo-Karo Bukit

      Kelima Sub Merga ini menurut cerita tidak boleh membunuh ular. Ular dimaksud dalam legenda Karo tersebut, mungkin sekali menggambarkan keadaan lumpuh dari seseorang sehingga tidak bisa berdiri normal.

    • Karo-Karo Sinulingga

      Merga ini berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak, disana mereka telah menemui Merga Ginting Munthe. Sebagian dari Merga Karo-Karo Lingga telah berpindah ke Kabupaten Karo sekarang dan mendirikan kampung Lingga.
      Merga ini kemudian pecah menjadi sub-sub merga, seperti :

      • Kaban

        Merga ini mendirikan kampung Pernantin dan Bintang Meriah,

      • Kacaribu

        Merga ini medirikan kampung Kacaribu.

      • Surbakti

        Merga Surbakti membagi diri menjadi Surbakti dan Gajah. Merga ini juga kemudian sebagian menjadi Merga Torong.

      Menilik asal katanya kemungkinan Merga Karo-karo Sinulingga berasal dari kerajaan Kalingga di India. Di Kuta Buloh, sebagian dari merga Sinulingga ini disebut sebagai Karo-Karo Ulun Jandi. Merga Lingga juga terdapat di Gayo/Alas dan Pak Pak.

    • Karo-Karo Kaban

      Merga ini menurut cerita, bersaudara dengan merga Sinulingga, berasal dari Lingga Raja di Pak-Pak dan menetap di Bintang Meriah dan Pernantin.

    • Karo-Karo Sitepu

      Merga ini menurut legenda berasal dari Sihotang (Toba) kemudian berpindah ke si Ogung-Ogung, terus ke Beras Tepu, Naman, Beganding, dan Sukanalu. Merga Sitepu di Naman sebagian disebut juga dengan nama Sitepu Pande Besi, sedangkan Sitepu dari Toraja (Ndeskati) disebut Sitepu Badiken. Sitepu dari Suka Nalu menyebar ke Nambiki dan sekitar Sei Bingai. Demikian juga Sitepu Badiken menyebar ke daerah Langkat, seperti Kuta Tepu.

    • Karo-Karo Barus

      Merga Karo-Karo barus menurut cerita berasal dari Baros (Tapanuli Tengah). Nenek moyangnya Sibelang Pinggel (atau Simbelang Cuping) atau si telinga lebar. Nenek moyang merga Karo-Karo Barus mengungsi ke Karo karena diusir kawan sekampung akibat kawin sumbang (incest). Di Karo ia tinggal di Aji Nembah dan diangkat saudara oleh merga Purba karena mengawini impal merga Purba yang disebut Piring-piringen Kalak Purba. Itulah sebabnya mereka sering pula disebut Suka Piring.

      (Petra : Wuih, sejarah nenek moyang gw jelek juga, ya….)

    • Karo-Karo Manik

      Di Buluh Duri Dairi (Karo Baluren), terdapat Karo Manik.

  3. Merga Peranginangin

    Merga Peranginangin terbagi atas beberapa sub merga, yakni :

    • Peranginangin Sukatendel

      Menurut cerita lisan, merga ini tadinya telah menguasai daerah Binje dan Pematang Siantar. Kemudian bergerak ke arah pegunungan dan sampai di Sukatendel. Di daerah Kuta Buloh, merga ini terbagi menjadi :

      • Peranginangin Kuta Buloh

        Mendiami kampung Kuta Buloh, Buah Raja, Kuta Talah (sudah mati), dan Kuta Buloh Gugong serta sebagian ke Tanjung Pura (Langkat) dan menjadi Melayu.

      • Peranginangin Jombor Beringen

        Merga ini mendirikan, kampung-kampung, Lau Buloh, Mburidi, Belingking,. Sebagian menyebar ke Langkat mendirikan kampung Kaperas, Bahorok, dan lain-lain.

      • Peranginangin Jenabun

        Merga ini juga mendirikan kampong Jenabun,. Ada cerita yang mengatakan mereka berasal dari keturunan nahkoda (pelaut) yang dalam bahasa Karo disebut Anak Koda Pelayar. Di kampung ini sampai sekarang masih ada hutan (kerangen) bernama Koda Pelayar, tempat pertama nahkoda tersebut tinggal.

    • Peranginangin Kacinambun

      Menurut cerita, Peranginangin Kacinambun datang dari Sikodon-kodon ke Kacinambun.

    • Peranginangin Bangun

      Alkisah Peranginangin Bangun berasal dari Pematang Siantar, datang ke Bangun Mulia. Disana mereka telah menemui Peranginangin Mano. Di Bangun Mulia terjadi suatu peristiwa yang dihubungkan dengan Guru Pak-pak Pertandang Pitu Sedalanen. Di mana dikatakan Guru Pak-pak menyihir (sakat) kampung Bangun Mulia sehingga rumah-rumah saling berantuk (ersepah), kutu anjing (kutu biang) mejadi sebesar anak babi. Mungkin pada waktu itu terjadi gempa bumi di kampung itu. Akibatnya penduduk Bangun Mulia pindah. Dari Bangun Mulia mereka pindah ke Tanah Lima Senina, yaitu Batu Karang, Jandi Meriah, Selandi, Tapak, Kuda dan Penampen. Bangun Penampen ini kemudian mendirikan kampung di Tanjung. Di Batu Karang, merga ini telah menemukan merga Menjerang dan sampai sekarang silaan di Batu Karang bernama Sigenderang.
      Merga ini juga pecah menjadi :

      • Keliat

        Menurut budayawan Karo, Paulus Keliat, merga Keliat merupakan pecahan dari rumah Mbelin di Batu Karang. Merga ini pernah memangku kerajaan di Barus Jahe, sehingga sering juga disebut Keliat Sibayak Barus Jahe.

      • Beliter

        Di dekat Nambiki (Langkat), ada satu kampung bernama Beliter dan penduduknya menamakan diri Peranginangin Beliter. Menurut cerita, mereka berasal dari merga Bangun. Di daerah Kuta Buluh dahulu juga ada kampung bernama Beliter tetapi tidak ditemukan hubungan anatara kedua nama kampung tersebut. Penduduk kampung itu di sana juga disebut Peranginangin Beliter.

    • Peranginangin Mano

      Peranginangin Mano tadinya berdiam di Bangun Mulia. Namun, Peranginangin Mano sekarang berdiam di Gunung, anak laki-laki mereka dipanggil Ngundong.

    • Peranginangin Pinem

      Nenek moyang Peranginangin Pinem bernama Enggang yang bersaudara dengan Lambing, nenek moyang merga Sebayang dan Utihnenek moyang merga Selian di Pakpak.

    • Sebayang

      Nenek Moyang merga ini bernama Lambing, yang datang dari Tuha di Pak-pak, ke Perbesi dan kemudian mendirikan kampung Kuala, Kuta Gerat, Pertumbuken, Tiga Binanga, Gunung, Besadi (Langkat), dan lain-lain. Merga Sembayang (Sebayang) juga terdapat di Gayo/Alas.

    • Peranginangin Laksa

      Menurut cerita datang dari Tanah Pinem dan kemudian menetap di Juhar.

    • Peranginangin Penggarun

      Penggarun berarti mengaduk, biasanya untuk mengaduk nila (suka/telep) guna membuat kain tradisional suku Karo.

    • Peranginangin Uwir

    • Peranginangin Sinurat

      Menurut cerita yang dikemukakan oleh budayawan Karo bermarga Sinurat seperti Karang dan Dautta, merga ini berasal dari Peranginangin Kuta Buloh. Ibunya beru Sinulingga, dari Lingga bercerai dengan ayahnya lalu kawin dengan merga Pincawan. Sinurat dibawa ke Perbesi menjadi juru tulis merga Pincawan (Sinurat). Kemudian merga Pincawan khawatir merga Sinurat akan menjadi Raja di Perbesi, lalu mengusirnya. Pergi dari Perbesi, ia mendirikan kampung dekat Limang dan diberi nama sesuai perladangan mereka di Kuta Buloh, yakni Kerenda.

    • Peranginangin Pincawan

      Nama Pincawan berasal dari Tawan, ini berkaitan dengan adanya perang urung dan kebiasaan menawan orang pada waktu itu. Mereka pada waktu itu sering melakukan penawanan-penawanan dan akhirnya disebut Pincawan.

    • Peranginangin Singarimbun

      Peranginangin Singarimbun menurut cerita budayawati Karo, Seh Ate br Brahmana, berasal dari Simaribun di Simalungun. Ia pindah dari sana berhubung berkelahi dengan saudaranya. Singarimbun kalah adu ilmu dengan saudaranya tersebut lalu sampailah ia di Tanjung Rimbun (Tanjong Pulo) sekarang. Disana ia menjadi gembala dan kemudian menyebar ke Temburun, Mardingding, dan Tiga Nderket.

    • Peranginangin Limbeng

      Peranginangin Limbeng ditemukan di sekitar Pancur Batu. Merga ini pertama kali masuk literatur dalam buku Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH berjudul Sejarah dan Kebudayaan Karo.

    • Peranginangin Prasi

      Merga ini ditemukan oleh Darwan Prinst, SH dan Darwin Prinst, SH di desa Selawang-Sibolangit. Menurut budayawan Karo Paulus Keliat, merga ini berasal dari Aceh, dan disahkan menjadi Peranginangin ketika orang tuanya menjadi Pergajahen di Sibiru-biru.

(Masih ada lanjutannya)

  • Share/Bookmark

83 Comments for this entry

  • Natalius.Bangun, SP

    bagus dan kreatif,sukses slalu .
    bujur ras mejuah-juah

  • gustaf bernauli Gurusinga, ST

    Klu merga Gurusinga masuk dalam marga mana…?
    sy dpt cerita dari bapak katanya merga Gurusinga termasuk dlam merga KARO-KARO…
    tetapi knp gak ada sejarahnya…?

  • Ode

    Mejuah-juah man banta kerina.
    Mantap Sen.(Senina ningku saja ya Aku surbakti)
    aku mau tanya, kam tau ga merga yang kata orang sudah punah?
    Itu seh berita yang aku dengar.Cuma aku mau Pastikan.ada atau tidak.
    Tolong I sampatindu.Bujur.

  • irsan kaban

    bang yang kaban banyakiinnn dongg…kan marga menteri tuh sekarang…wkwkwkw…
    hebat banggg…MANTAB

  • BaRenS

    Terima kasih untuk saudaraku yang mau bekerja keras menyajikan sejarah marga karo ini. Paling tidak kita bisa tahu sejarah ttg marga kita. Tuhan memberkati,

  • andi s

    saya maw bertanya nih sama orang yang mahir mengenai masalah marga yang tidak boleh menikah dengan marga lain…

    langsung aja ya….
    bisa ngak menikah marga sinaga dengan sebayang???

    tolong dong….

  • Petra

    kalo sinaga kurang tau ya…
    ntar saya coba tanya2…

  • andi s

    minta tolong nih saudara petra….

    lagi penting banget…

  • Hermansyah Sinuraya

    Komentar sitik senina, Merga Sinuraya, desa yang di bentuk oleh nya adalah Desa Bunuraya, yang lokasinya mencakup Bunuraya Kuta dan Bunuraya baru ( yang dulunya adalah areal perladangan pendududk Bunuraya atau Juma kenjulu dan kemudian desebut Bunuraya Baru). Dan asal sesungguhnya Sinuraya tersebut adalah dari daerah pak-pak dairi (Sumbul) dan disana marga aslinya adalah sidiangkat yang mana dulunya putranya, ada yang pergi merantau ke tanah karo yaitu perbatasan Tiga panah – Kabanjahe dan dia menikah disana dan kemudian memiliki keturunan dan putra mereka di beri nama Bunuraya, dan dari sejak itu jika orang memanggil putranya si Bunuraya yang akhirnya jadi Sinuraya. Marga Sinuraya ada di pak-pak dan Sinuraya juga memiliki TUGU BERSAMA yang di buat dan diresmikan pada tahun 1987 di Pak-Pak, dan keterkaitan kebersamaannya dengan Sinuhaji dan yang lainnya itu adalah akibat adanya intraksi dan nenek moyang kita dulu mempererat persaudaraan sesama Merga Karo- Karo dengan sub marga Karo-Karo lainnya dan saya sendiri dulu ikut hadir pada peresmian trersebut ketika itu saya masih duduk di kelas VI SD, Bujur melala senina endam sitik gina menyempurnaken asal adat ras istiadatta BUJUR RAS MEJUAH_JUAH

  • JONI SINUKABAN

    Komentar :
    Sinukaban selain mendiami kuta kaban juga mendiami kuta SUMBUL, Bujur Senina…..

  • Franta Ginting

    Bujur Bung Petra Maju Terus, dan kami ingin ikut berbagi disini :

    Kalau kita cermati dari berbagai sumber tentang asal-usul Suku Karo, sebenarnya Suku Karo cukup fair mengakui eksistensinya dan sangat logis sekali sesuai dengan perkembangan kebudayaan, peradaban dan penyebaran manusia dari zaman ke zaman. Jadi apakah orang Karo berasal dari Toba, Simalungun, Pakpak, Gayo, Alas, Aceh, India dan lainnya; menurut saya benar tapi sebagian, dan sebaliknya sebagian dari Suku Karo juga pasti ada masuk ke Toba, Simalungun, Pakpak, Gayo, Alas, Aceh, Melayu dan lainnya karena memang begitulah mobilitas manusia dari dahulu dan sampai akhir zaman. Artinya kita haruslah melihat secara logis, janganlah katakan dari satu leluhur dan terus dari sana menyebar keseluruh penjuru, jadi tidak ada yang mutlak kalau sudah menyangkut suatu wilayah yang luas dan populasi
    yang banyak dan beragam. Jadi kalau kita lihat Suku Karo pada zaman dahulu cukup berpengaruh dan sangat kuat teguh dan kuat memegang adat istiadatnya, sehingga siapapun yang masuk ke Wilayah Budaya dan Adat Istiadat Karo ia harus mengikuti dan masuk ke salah satu Merga atau Beru yang ada, kalau tidak berarti ia tidak akan mendapatkan posisi didalam Adat Istidat Karo hal ini tetap berlaku hingga saat ini, namun dalam pengertian yang berbeda walupun jiwanya tetaplah sama. Kalau dahulu seseorang masuk ke Wilayah Budaya Adat Istiadat Karo ia harus mencari atau menjadikan seseorang menjadi orangtua angkatnya atau saudaranya sehingga dia menjadi MEHERGA = dihargai / dihormati ( asal kata Merga ) untuk laki-laki atau MBERU = disayangi / cantik dalam arti seutuhnya ( asal kata Beru ) untuk perempuan sehingga jelas “sima-simanya” dan tentunya merga dan beru tersebut benar-benar menjadi hak dan miliknya dan diteruskan ke generasi berikutnya sehingga semua pendatang ke Wilayah Karo yang dimaksud diatas telah menjadi Suku Karo suatu komunitas yang terikat didalam MERGA SILIMA, RAKUT SITELU dan TUTUR SIWALUH, dan pada zaman setelah kemerdekaan telah terdokumentasikan didalam daftar keluarga dan identitas diri. Tentu hal tersebut berbeda dengan yang ada sekarang walaupun jiwanya tetap sama, karena penabalan merga atau beru didalam adanya perkawinan campuran antara suku lain atau bangsa lain dengan Suku Karo sekarang ini dilakukan agar proses adat dapat berjalan dengan baik semua pihak tahu dimana posisinya apakah Kalimbubu, Sembuyak atau Anakberu, sefdangkan identitasnya dan asal-usulnya tetap dapat dia pertahankan. Inilah fakta kehidupan dan seharusnya kita bangga menjadi suku apapun kita karena apabila ada suatu suku yang tidak bangga lagi atas sukunya maka suatu saat dia pasti akan menyesal karena telah melebur dengan komunitas suku-suku lain dimana ia berada. Jadi dimanapun kita sedapat mungkin cari tahulah asal-usul kita dan pelajarilah Budaya dan Adat Istiadatnya. SELAMAT MENCARI TAHU, KALAU SUDAH DAPAT DIPELAJARI SETELAH ITU DITERAPKAN.
    Salam mejuah-juah,
    Franta Ginting Munthe

  • Bapa Guntar Sinuraya

    BUJUR RAS MEJUAH-JUAH

  • Jerry Modelo Barus

    mantaaaaaabbbbbb,,,,,, akhir nya ada juga yg mncritakan asal usul marga ku,,, walau story nya sdkit konyol,,, hahahaaaaa,,,, tp itu lah sejarah yg hrus diterima,, apa pun itu,,, kan juga sudah mnjd sifat orang Karo,, yaitu,,,, “FEAR”,,,, dan kl bisa tlg cerita kan lah kisah tentang satu tempat/desa yg bernama Barus,,,
    oklah dari saya itu aja,,,
    Bujur…..

  • Toha Topan Barus

    akhirnya aku ga mati penasaran ma asal usul margaku…
    tapi masi da ne yang buat bingung….. nama pangilan marga barus apa ya… seperti batu,ombar,tekang dlllll
    masa nama marga org tau marga ndri nga tauuuuuuu
    plezzzzzz kasi tau infonya ya….. thank u cebelumnya

    • andri barus

      sen , itu ada jg brs yg dr ds barus jahe bahkan kerajaannya pun ada di sn katanya , , tp itu kan dl yg saya tau hanya tinggal makam nya aja di sana klo kerajaannya gak ada nampak . tlng di cari kebenaranya sen .
      bujur

  • calv

    petra mau tanya niy,,,kalo bangun dan pinem kan sama2 perangain-angin yah,,,ga bisa nikah donk??tlg bales yah,,urgent sekali ini hehehe

    • barsengcentengkuta

      menurut adat karo juga sah kok,,
      tapi kalo bisa jangnlah..
      tp ga tw q sumbernya darimana…
      tapi tmenku ada kok,, bangun bebere perangin2..

  • aLemz

    Bang,, buKanx tiga Bembem Itu masiH ada TeTap di GURUBeNua Ya???

    sOalX di GurUBeNua ada Namax TIga bEMbEm,,,

    cerItaX GMna ToH??

  • bonifasius ginting

    aku anak guru benua…… menggo teh nduuuuuu

    apaai kena perjuma perjalangen

    ula rusursa ngadi2 erdahin eiiiii

  • sastra barus

    bg, adi mnrut crta blg, mmg asal marga brs brsal dr tapteng(tapanli tengah). raja seharsna la bnci empo, adi ia empo, mka ia akn jd sluman, ber kpla babi tpi brbdan mnsia. ibas 1 wri empoina dyg2na, emaka lit ktrnena 3, 33sa dlki. si 3 e, si mlag cping ngca la empo. erkteken ban blang na cping na. binatg buas ja mbiar ban bna.

    ncge lit bbrena sisinga mangaraja, bcra slih pe raja endai, 1 pe lameth sa, slain sm e ndai, erkteken ia ska mkn kang kung yg pnjg2,jd tiap kli mkn kngkung inehena ku dtas, jdi sngget ia engakai mk lian rp ma2 atna, bas sda wri trbongkar krina. i usir kta krina arh tapteng, ismpahken lana sorek mlh ku barus i si bolga. em sangkt crta arah aq, tp pnjg dnga nge crtana bg.
    adi aq barus siginjah.

  • sastra barus

    jd bg ulu ktaken ndu kt ktrunan blg cupin, ntah pe mblang pinggel.
    sbab barus mblang cuping la empo empo. bujur
    arah aq nari barus siginjah.

  • barsengcentengkuta

    la kap mantap kuakap keterangan mengenai barus e bg,,
    katakenndu ka nini bulang kami kawin sumbang..
    mbera ka kin raja kawin sumbang..
    ja ka kin sejarahna raja marenda mbera lepak kerna perjabu..
    ola min begei bg,,

    darami sumber si terjileen bg,,kita marenda rajana sibolga ah..

  • ovta

    duch,suka bngt nich ma artikel nya yg dah nambh wawasan aQ,

  • nova

    Makasih ya…………….

  • eva angelia semb

    adi lit kena si meteh sa informasi mengenai Rakutta Sembiring Brahmana kirimken bas email ku ntah pe bas fb q Eva dolphin kembaren. informasi enda seh kel penting ban enda skripsi q, mohon bantuan teman2 kerina. bujur,,,,,,,,,

  • aa.su mana

    Saya senang membaca sejarah asal marga2 Karo meskipun dari luar ,semoga info yg lainnya bisa dimuat.Pengamat sejarah daerah dunia & Indonesia.aasumana251@yahoo.com

  • chandra

    nah ni dia nih yang masuk akal sejarah merga/kalak Karo.Terjawab sudah Polemik Karo adalah Batak atau Bukan Batak.@Franta Ginting…ulasan dan kesimpulan anda tepat sekali.

  • Allan

    Thank lih bwt informasiny…
    Salam Kenal dari tepi Danau Toba lih…
    ^_^

  • Taman Prasi

    Terimakasih atas infomasi asal usul marga karo. Saya adalah salah satu yang bingung asal usul marga (merga) saya yaitu perangin-angin prasi. Asal saya dari Kutabungkei Uruk Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Sekarang dijadikan satu Desa yaitu Desa Sukamaju. Setau saya memang merga perangin-angin prasi adanya di Desa Sukasama (Selawang), Ketangkuhen, Kutabungkei (yang sekarang gabung dengan Sukamaju) semuanya di Kecamatan Sibolangit Deliserdang. Tapi diantara kami dalam keluarga ada juga yang memakai marga Perangin-angin Bangun, ada yang memakai Perangin-angin Prasi. Seperti di keluarga Kakek Saya, Bapak Tua dan Bapak saya pakai Prasi, tapi ada bibi saya pakai bangun. Sesungguhnya sampai saat ini kami masih bingung asal muasal merga prasi ini. Ada yang mengatakan berasal dari Aceh, ada yang mengatakan berasal dari perangin-angin yang pernah mengalami operasi pada zaman dahulu. Oleh karena pada zaman dahulu masih jarang tindakan operasi bahkan jarang yang hidup, maka keturunan yang dioperasi tadi disebur “perangin-angin yang dioperasi”. Ada juga mengatakan nenek moyang kami merupakan salah satu pengawal dari putri Sultan Deli. Tapi ini baru cerita ke cerita, belum ditelusuri kebenarannya. Ada keinginan untuk menelusuri sejarahnya. Bujur

  • busana ukuran besar

    sometimes cewek termasuk makhluk yang aneh. maunya ada-ada aja Susah diprediksi. dan wanita memang lebih banyak bicara. kata-kata yang dikeluarkan selalu lebih banyak dari seorang cowok. Menurut survey di lapangannya memang begitu, dan harus dipenuhi. supaya mengurangi tekanan… :d so dengarkanlah…

Leave a Reply