Informaticians (to be), so it be?

Dari mulai masuk Informatika ITB sampai sekarang, ada banyak prilaku dan pandangan mengenai calon sarjana Informatika yang gw liat dari orang di luar Informatika/Ilmu Komputer. Ada yang bikin alis mata naik, ada yang bikin bulu kuduk berdiri, ada yang bikin gerah, ada yang bikin ngerasa ‘wah’, dan ada yang lain-lain. Pokoknya macam-macam deh.

Pertama, mengagung-agungkan Informatika (mungkin beserta mahasiswanya). Well, ini menurut gw lumrah (tapi gak wajar) karena memang Informatika pernah menjalani sejarah panjang dalam menjadi papan atas program studi pilihan calon mahasiswa. Gak jarang memang mahasiswa Informatika termasuk salah satu idaman calon mertua (setelah mahasiswa Medik mungkin). (Pengalaman sih setelah masuk Informatika, banyak orang tua yang ngenalin anak perempuan mereka :mrgreen: gak banget deh). Oleh karena itu, kalangan pelaku berasal dari kalangan para orang tua yang mempunyai anak perempuan. :mrgreen:
Agak aneh. Soalnya, anak Informatika pun, biar kata masuk top – top SPMB dan USM, tetep aja sama – sama aja ah, gw liat – liat. Gitu – gitu aja. Tetep suka nongkrong, tetep suka maen, tetep suka bolos, tetep suka nitip kehadiran, tetep suka nyontek tugas, tetep suka belajar, tetep suka berorganisasi, tetep suka maen pingpong. Sama seperti seluruh program studi, mahasiswa Informatika datang dari banyak latar belakang. Nothing special. Well, we, Informaticians to be, know that; but they don’t know that much, right? ^_^

Kedua, merendah – rendahkan Informatika (beserta mahasiswanya). Kalau yang ini yang paling banyak juga mungkin. Hampir anak Informatika banyak yang ngerasa gerah (meski sebenernya biasa – biasa juga, karena emang udah biasa juga, tapi tetep aja rada gerah) dengan perilaku ini. Biasa pelaku berasal dari kalangan mahasiswa (mungkin ada yang dosen juga). Kalangan mahasiswa pun biasanya bermacam – macam. Tapi paling banyak itu dari kalangan mahasiswa yang merasa sudah mengerti seluk beluk dunia Informatika tetapi berada di lingkungan non Informatika.
Most of them might say this, “I knew Java, I knew C#; then I don’t have to be there to know them, right?
Orang mulai salah kaprah, Apakah kita harus masuk Informatika hanya untuk belajar programming?. Which is, seperti bu Inge pernah bilang, belajar bahasa pemrograman lain halnya dengan belajar programming. Dan some of them don’t know how to distinguish programming learning to programming language understanding.
Live example, me. Honestly, I would have been one of them if I weren’t accepted here. I already knew PHP, Java, .NET back then in high school. But now, here, I understood what I knew are rubbish and I have to start all over again.
(Well, pernah ada yang ngaku dosennya ngomong kalo kita yang di labtek V ini cuman kursus komputer 4 tahun)

Yang ketiga, rada jarang tapi bikin wah. Ada yang ngerasa minder dengan Informatika (beserta mahasiswanya) apalagi kalau bicara komputer. Pengalaman kemaren ikut training, sang trainer setelah selesai, mengaku secara pribadi agak gugup saat menjelaskan mengenai materi training (yakni HTML) pas tau salah satu (ada dua deng) trainee adalah anak Informatika. (Tenang aja, atuh, mbak, yang seorang lagi bilang, “Biar sering salah, yang penting cakep:mrgreen: ) Yah gimana ya, biasa aja lagi. Kalo di kelas sering toh presentasi depan dosen yang notabene jauh lebih berpengalaman. Ini cuman 2 SKS aja toh bedanya :mrgreen: Well, anyway, menurut gw, dunia Informatika itu luas dan bukan haknya orang Informatika, toh. Semua orang boleh belajar, semua orang boleh diskusi no matter how much experience they’ve got or what major and degree they’ve reached.
(Debat boleh, tapi jangan menjelek – jelekkan di belakang, dong! (untuk kasus II))

Udah ah, dah kepanjangan. Sebenarnya inti dari permasalahannya sih, gimana ngilangin semua pandangan yang kayak gitu itu, gitu?
Gimana cara menghilangkan ekslusifisme (baik arogansi maupun rasa minder) di antara program studi kemudian menginstansiasi serta memelihara sebuah pandangan bahwa semua program studi adalah setara dan sama – sama bertujuan untuk melengkapi satu sama lain demi kesejahteraan bangsa ini?

One thought on “Informaticians (to be), so it be?”

Leave a Reply