Saya lebih butuh laptop daripada Bapak

Yth. Wakil Rakyat,

Berhubung mendengar berita kalau bapak-bapak butuh laptop seharga 21 juta, saya ingin menyampaikan sebuah rasa prihatin.
Saya mempunyai laptop, laptopnya tua, sudah berumur 4-3 tahunan. Laptop tipe Toshiba Satellite Pro. Pentium 4, NVidia GForce 4, RAM 512, dan berukuran 17, juga harddisk 40 GB (itu pun tinggal beberapa GB lagi karena dipakai untuk 3 buah sistem operasi untuk eksplorasi). Berhubung mengingat kebutuhan kuliah yang membutuhkan komputer, dan melihat bahwa kapasitas laboratorium dasar Informatika tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan tersebut disebabkan karena bertambah banyaknya pengguna akibat adanya mahasiswa TPB dari STEI ITB, juga kurangnya fasilitas yang dimiliki setiap komputer serta tidak muatnya fasilitas yang saya butuhkan dalam removable drive maka dengan ini saya memutuskan membeli laptop.
Saya membelinya harganya 6 juta rupiah, second hand pula. Untuk kebutuhan tugas sepertinya masih terasa agak membebani, karena memang bebannya sangat berat untuk dibawa jalan kos-kampus-ruangkuliahlantai4karenaliftnyamati. Yah, lumayan lah untuk berolahraga saya pikir. (Meski saya sudah tiga kali memperbaiki tas, dan terpaksa membeli tas yang kompatibel yang harganya tidak murah pula). Lumayan untuk mengerjakan banyak tugas, meski sering tertatih-tatih dalam mengcompile source code untuk beberapa tugas kuliah sekaligus juga lambat dalam menggenerate dokumentasi dari 5000 baris kode untuk kuliah.
Pada awalnya saya sangat bersyukur karena saya masih bisa membeli laptop. Beberapa teman ada yang merasa kesal karena ketidaknyaman yang terjadi akhir-akhir ini (tidak mau menyalahkan juga sih). Akan tetapi saya merasa prihatin ketika mendengar kalau bapak-bapak butuh laptop untuk pekerjaan Bapak. Belum lagi laptopnya seharga 21 juta untuk 550 orang dari Bapak.
Benar-benar prihatin. Meski cerita saya di atas cukup berlebihan kalau ditinjau dengan seksama tapi saya merasa banyak yang membutuhkan laptop yang jauh lebih murah untuk kebutuhan mereka dan lebih produktif menggunakan laptop tersebut. Laptop seharga 21 juta untuk 550 orang anggota DPR setara sedikit nilainya dibandingkan dengan laptop 21 juta (15 juta untuk laptopnya sisanya untuk softwarenya atau sekalian buku kuliah) untuk 550 orang mahasiswa Ilmu Komputer di banyak belahan Indonesia yang lebih membutuhkan. Masih banyak mahasiswa komputer di Indonesia yang bergantung dengan komputer kampus karena tidak memiliki komputer pribadi sehingga sangat tidak nyaman kalau ada masalah (tugas ketinggalan, ada tugas baru via e-mail, atau butuh pinjam komputer teman karena tugas sedikit berat, dan lain-lain). Atau kalau tidak, Bapak-bapak bisa membeli laptop yang lebih murah seperti milik saya. Saya yakin kebutuhan Bapak-Bapak sekalian (seperti mengetik, presentasi, dan menonton film saat rapat) bisa terpenuhi dengan sangat baik.
Saya berani jamin bahwa 1 laptop untuk setiap mahasiswa Informatika di Indonesia pada 10-20 tahun ke depan bisa bernilai 500 laptop untuk anak bangsa lainnya pada generasi selanjutnya dan juga 250000 laptop untuk generasi berikutnya dan seterusnya. Saya tahu kalau keyakinan saya itu sama sekali tidak mendasar. Akan tetapi jelas yang saya tahu, banyak sekali mahasiswa Ilmu Komputer di Indonesia ini yang membutuhkan bantuan Bapak-bapak sekalian.

Dengan hormat,

(tidak terlalu berharap, tapi bersyukur kalau diperhatikan)

8 thoughts on “Saya lebih butuh laptop daripada Bapak”

  1. Pingback: amudi.org

Leave a Reply