19 Tahun : Sebuah Renungan

Perjalanan selama 19 tahun ini kadang terasa lambat, kadang terasa cepat. Eh, tau-tau umur udah 19 tahun. Dulu rasanya mau ngambil KTP aja lama banget. Setelah masuk kuliah, kok rasanya cepet ya. Well, gw bukan termasuk orang yang ambil pusing soal ulang tahun. Tapi rasanya baik buat gw buat merenungkan perjalanan hidup gw selama ini. Udah ngapain aja sih gw selama ini?

Tahun ini, tahun terakhir umur gw masih mempunyai kepala 1. Banyak orang yang udah punya great achievements di dalam umur segitu. Euler diterima di University of Basel umur 13 tahun, menerima gelar master umur 16 tahun. Mozart sudah menggubah banyak lagu umur belasan tahun. Bill Gates sudah mulai mendalami bidang komputer juga umur belasan (well, gw bisa programming mulai SMP, tapi tetep aja, tahun 1960an gitu….). Charlotte Church pada umur 14 tahun mengeluarkan album yang langsung menjadi top hits di UK. There are so many gifted persons who had already scored many achievements while I’m here fooling around at the same age.

Ngiri? Yah, siapa sih yang gak ngiri ngeliat achievement yang bisa di dapat umur segitu? Rata-rata orang yang produktif pada awal-awal masa hidupnya, pada akhir hidupnya mereka sudah mencetak segudang prestasi. Kalo ngeliat sekarang orang pada mendambakan sebuah stereotipe pada sebuah golongan yang jenius dan berprestasi pada umur mudanya. Lihat aja kecenderungan orang tua sekarang pada memberikan banyak sekali pendidikan-pendidikan suplemen seperti musik, olahraga, dan sains. Alasan yang dilontarkan ya biasanya “nanti kamu lihat saja gunanya saat kamu sudah besar“, bagus sih berpikiran jauh ke depan untuk anaknya sendiri. Tapi jangan sampai sebenernya alasannya itu sebagai pelampiasan dari ketidak berhasilan dalam memenuhi keinginan mencapai suatu prestasi pada awal-awal hidupnya. Mungkin karena di dalam dunia nyata mereka sering diserobot oleh orang-orang yang lebih muda dan berilmu, mereka mendambakan anaknya menjadi seperti itu. Well, who knows?

Sebagai seseorang yang pada masa kecilnya diberi kebebasan oleh orang tua untuk melakukan apa yang disenangi dan tidak terlalu diberi beban untuk mencapai keahlian pada masa muda, gw cukup santai-santai aja selama ini. Waktu TK, SD, SMP, terus SMA, kerjaan cuman maen-maen aja. Gak ada sesuatu yang sangat gw sukai secara khusus. Orang mungkin bilang di SMA gw maniak komputer. Jujur sih, saat SMP gw gak terlalu suka sama bidang komputer kecuali maen game bangsanya Counter Strike, Red Alert, etc. Pas SMP gw justru tergila-gila sama dunia seni. Gw suka banget ngukir kayu, terus membentuk tanah liat, corat-coret kanvas, sketching di kertas. Pas SD gw seneng sama dunia sains dan matematika. Entah kenapa dari semuanya mungkin kesukaan pada komputer yang bertahan sampai gw di Informatika ini (meski juga skillnya masih gak banyak-banyak amat *sigh* *sigh*).

Sama sekali gak ada penyesalan gw bisa mencoba banyak hal selama 19 tahun ini, meski gak jarang beberapa kemampuan yang gw dapet selama ini sering disalib sama orang. Sebenernya gak bangga juga sih jadi seorang Jack of all trades, master of none. (I’d rather be a polymath like Reene Descartes, Leonardo Da Vinci, Leibniz, et alii.) Yah, gak apa-apa lah, asal gw gak bikin pelampiasan aja kalo gw udah punya anak 😀 😀 😀 😀

Yang gw sesali cuman, kenapa selama ini gw gak pernah punya tujuan hidup, visi dan misi serta dedikasi yang pasti; sesuatu yang harus bisa gw capai sebelum dipanggil Tuhan. Gw gak tau umur gw masih sisa berapa. Paling cepet ya saat anda baca post ini, paling lama ya saat Kristus datang kedua kali. Tapi selama ini belum pernah melakukan sesuatu secara serius….. *sigh* *sigh* *sigh* Bisa keburu dipanggil deh sebelum ngapa-ngapain.

Yah, meski udah agak telat-telat dikit, paling gak gw udah bisa nyusun sedikit demi sedikit persepsi tersendiri tentang bagaimana hidup gw ini bakal gw jalani. Apa yang menjadi target gw di masa yang akan datang. Meski belum detil-detil banget sih ya 😛 😛 😛 Mungkin bukan sebuah achievement yang besar untuk dunia ini, memang. Tapi buat gw, paling gak, prestasi tersendiri lah, pada akhirnya sebelum usia kepala 2 udah bisa punya tujuan setelah sebelumnya cuman menghabiskan masa muda dengan maen-maen doang. Mesti serius untuk ke depannya, gak boleh maen2! Berjuang! Berjuang!

Psalms 90 : 10 – 13 (KJV)
The days of our years are threescore years and ten and if by reason of strength they be fourscore years, yet is their strength labor and sorrow; for it is soon cut off, and we fly away. Who knoweth the power of thine anger? even according to thy fear, so is thy wrath. So teach us to number our days, that we may apply our hearts unto wisdom. Return, O LORD, how long? and let it repent thee concerning thy servants.

8 thoughts on “19 Tahun : Sebuah Renungan”

  1. Happy belated birthday ya.., saya lupa pas hari H nya karena lagi agak hectic urusan ini dan itu :). Anyway gimana cookiesnya sudah laris?. Sedikit motivasi untuk hari depan: Punya visi dan misi ga usah tinggi-tinggi, yang penting bisa diwujudkan contohnya masyarakat adil makmur sejahtera *ini termasuk yang mungkin atau tak mungkin?* GBU! 🙂

Leave a Reply