Kebodohan kah?

Diambil dari Situs Berita Rakyat Merdeka [link berita]

Menurut dia, tiga alasan yang me­la­tar­­belakangi upaya pelaporan ini, per­ta­ma, beberapa waktu lalu Nadine ter­lihat di media tengah asyik ber­ceng­kra­ma dengan Miss Israel, Anas­tacia Entin saat acara lelang barang (RM 16/7). “Itu kan mencederai umat Is­lam In­donesia yang kini tengah me­nentang agresi militer Israel kepada Le­banon,” tan­das Syarifah.

Entah apa yang mereka pikirkan pada saat itu. Hanya karena perasaan banyak orang yang belum jelas maksudnya apa, seorang duta Indonesia tidak boleh menunjukkan keramahan khas negaranya kepada negara lain. Tidak kah mereka bisa berpikir lebih dini bahwa segala bentuk keramahan belum tentu menunjukkan dukungan.

Atau kah mereka dengan begitu mudahnya langsung menyimpulkan bahwa tidak mengindahkan protes kalangan yang mengatasnamakan agama serta bersikap ramah terhadap orang dari negara yang dibenci oleh kalangan itu adalah sama saja memusuhi kalangan tersebut dan berpihak kepada negara itu? Kebodohan kah?

Mungkin bisa dibilang bodoh, tapi agak lebih pantas dibilang itu adalah sikap yang sangat kekanak-kanakan. Adalah perbuatan yang sangat tidak dewasa ketika memusuhi seseorang juga ikut memusuhi teman baiknya yang hanya bersikap ramah kepada musuhnya itu. Lagi-lagi, kebiasaan jelek orang Indonesia langsung tercermin dari sikap sebuah organisasi. Terlalu cepat mengambil keputusan dan sikap.

Benarkah kalau seorang duta sebuah negara datang ke panggung internasional, praktis bisa disimpulkan bahwa duta tersebut pasti mendukung seluruh kebijakan negaranya? Duta-duta negara pada ajang internasional seperti di Miss Universe dan World Cup selalu dituntut untuk datang dengan misi perdamaian. Kalau tidak dengan itu, untuk apalagi diadakan acara-acara seperti itu. (Yah, tidak heran memang di Indonesia sekali pun yang katanya negara agama, masih dibuka bursa-bursa taruhan untuk acara itu) Jelas, lebih baik mendemo bursa taruhan daripada ramah tamah antar dua duta negara. (Bisa dilihat di sini perbedaan prioritas antara pendemo dan yang ada dalam opini saya. Relatif memang, tapi saya tetap sangat ingin berkomentar, “Gak ngerti prioritas, ya!!”)

Sama sekali tidak bisa dibayangkan apa yang akan diberitakan media internasional ketika Miss Indonesia membuang muka dari Miss Israel hanya karena mayoritas rakyat Indonesia tidak mendukung kebijakan pemerintah Israel. Itu sama saja dengan menunjukkan rendahnya cara berpikir duta Indonesia tersebut yang malah bisa menjatuhkan nama baik dirinya di antara duta-duta yang lain (Tapi sangat terpuji kalau dia bisa melakukan itu karena dia percaya akan hal itu). Saya lebih bersyukur Nadine bercengkrama dengan miss Israel menunjukkan budaya ramah bangsa Indonesia, ketimbang sekelompok oknum merasa senang kemudian saya juga mendengar komentar miring tentang wakil negara saya ketika berbicara (baca : chatting) dengan beberapa teman yang ada di luar negeri yang bahkan saya sendiri sebenarnya tidak tahu menahu detail permasalahannya.

Lalu ada beberapa poin yang cukup aneh bagi saya. Bagian awal berita

FPI melaporkan Na­dine karena dianggap melanggar pasal 281 KUHP tentang perusakan kesopanan di mu­ka umum, pasal 156 KUHP tentang pe­nis­­taan agama dan pasal 154 KUHP ten­tang peng­hinaan terhadap negara.

Pasal – pasal yang diadukan (sumber : internet) :

  1. Pasal 281 KUHP

    Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah : barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan; barang siapa dengan sengaja dan di depan orang lain yang ada di situ bertentangan dengan kehendaknya, melanggar kesusilaan

  2. Pasal 156 KUHP
    1. Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau lukisan di muka umum, yang isinya mengandung pernyataan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan di antara atau terhadap golongan-golongan rakyat Indonesia, dengan maksud supaya isinya diketuhui atau lebih diketahui oleh umum, diancam dcngan pidana penjara paling lama dua tahun enam bulan atau pidana denda paling hanyak empat rupiah lima ratus rupiah.
    2. Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut padu waktu menjalankan pencariannya dan pada saat, itu belum lewat lima tahun sejak pemidanaannya menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, yang bersangkutan dapat dilarang menjalankan pencarian tersebut.
  3. Pasal 154 KUHP

    Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap Pemerintah Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Apa benar miss Indonesia melanggar semuanya itu? Kalau melihat content dari pasal-pasal tersebut, sepertinya ada bagian-bagian yang tidak selaras dengan perbuatan dari miss Indonesia. Agaknya pihak pelapor terlalu berlebihan dalam hal ini. Bodoh? Entahlah. Sejujurnya, saya jadi merasa kasihan dengan orang yang diberi tanggung jawab untuk mengusut permasalahan ini. Berjuang ya, bu, pak! Semoga permasalahan ini menemukan titik terang apa pun hasilnya.

Yah, hanya sebuah opini dari seseorang yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai ajang wanita tercantik dan tercerdas di planet ini tetapi sangat peduli terhadap nama baik negaranya di antara negara-negara lain.

Leave a Reply